Apresiasi Batu Mulia Nusantara

By mangkoko : last updated 04 Nov 2015

Ada banyak hal yang bisa kita petik dari mengunjungi sebuah pameran batu permata seperti Festival Permata Nusntara, Solo Gems Award 2015 yang diselenggerakan di gedung Graha Wisata Niaga Sriwedari Solo pada tanggal 5-8 Maret 2015 lalu. Penyelenggaraan event semacam ini tentu saja dipicu oleh euforia melambungnya popularitas batu mulia akhir-akhir ini. Dan sudah bisa ditebak akan menyedot perhatian baik para penggemar dan kolektor kawakan, masyarakat awam, dan tentu saja juga para pebisnis batu mulia.

Solo Gems Award 2015, di Graha Wisata Niaga Sriwedari Solo

Solo Gems Award 2015, di Graha Wisata Niaga Sriwedari Solo

Bagi para penggemar dan kolektor batu mulia kawakan, ajang seperti ini bisa menjadi tempat ekspresi dan sekaligus mengukur seberapa tinggi nilai koleksi yang telah dimilikinya. Karena pada acara-acara seperti ini biasanya diadakan pula kontes yang menilai seputar kategori keindahan, kelangkaan dan keunikan batu-batu mulia. Bagi kolektor pemilik koleksi batu mulia yang berhasil menang menyabet salah satu penghargaan, tentu saja menjadi sebuah prestise dan pasti akan melambungkan nilai ekonomisnya.

Bagi para pebisnis batu mulia event pameran seperti ini menjadi kesempatan emas untuk menggemukkan pundi-pundi rupiahnya. Sangat mudah terlihat indikasinya, orang-orang membeli batu mulia laiknya seperti membeli kacng goreng. Sebuah gedung pertemuan yang cukup besar seperti Graha Wisata Niaga, penuh sesak dipadati masyarakat yang sangat antusias berburu batu-batu mulia yang diminatinya. Terlihat semua stand tidak ada yang sepi pengunjung.

Sedangkan bagi kita masyarakat awam, event pameran akan menjadi kesempatan emas untuk mengenal lebih dekat tentang batu mulia. Kita tahu, Nusantara kita tercinta sendiri menyimpan potensi batu mulia yang luar biasa, sangat beragam jenis dan keindahannya, lengkap pula cerita, mitos dan legenda yang selalu setia menyertainya.

Ada sebagian masyarakat yang khawatir bahwa euforia yang sedang terjadi ini seperti “monkey business”, seperti sebuah gelembung semu mirip masa euforia anthurium yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Memang patut diwaspadai, namun bagi saya sendiri lebih suka melihat dari sudut pandang optimisme, bahwa inilah kesempatan bagi kita masyarakat Indonesia untuk belajar mengerti sehingga akan lebih menghargai mutu manikam yang tersimpan di alam negeri kita tercinta ini.

Batu-batu akik di Festival Permata Nusantara Solo 2015

Batu-batu akik di Festival Permata Nusantara Solo 2015

Dengan lebih mengenalnya, minimal akan timbul sebuah spirit kesadaran untuk bersama-sama manjaga dan melindungi agar kekayaan alam yang luar biasa ini tetap menjadi milik bangsa. Tidak terkuras semua ke manca negara karena orang-orang di sana lebih menghargainya. Jangan sampai terjadi mutu manikam ini diekspor besar-besaran dengan harga murah ke luar negeri. Dan di masa depan nanti saat menyadari nilainya kita malah membeli kembali dari luar negeri dengan harga yang telah menjadi berlipat-lipat sangat mahal.

Selama ini sangat banyak diantara kita yang tidak menghargai batu-batuan kekayaan alam itu. Bahkan  terkadang menyia-nyiakan karena tidak menyadari nilai yang terkandung di dalamnya. Seorang sahabat bercerita saat tinggal di Maluku beberapa tahun lalu, masyarakat di sana sering menendang sebagai sekedar mainan batu berwarna hijau atau biru yang sekarang terkenal bernama bacan itu, karena memang tidak dianggap cukup berharga. Tentu saja hal itu tidak terjadi lagi sekarang, karena batu Bacan (Chrysocolla on Calchedony) saat ini menjadi buruan banyak orang dan bernilai ekonomis sangat tinggi di tanah air, bahkan juga di pasar internasional. Sepotong batu bacan yang dianggap cukup berkualitas seukuran jempol tangan saja akan dihargai tak kurang dari 2 juta rupiah.

Untuk mengukur nilai ekonomis batu-batuan ini di pasar internasional bukanlah hal yang sulit. Anda tinggal browsing, masuk ke situs lelang terbesar di dunia yaitu eBay. Gunakan fitur pencarian yang ada di sana. Dengan menggunakan keyword yang tepat, anda akan segera mendapatkan gambaran seberapa tinggi ukuran harga sebuah kategori barang di pasar online terbesar di dunia tersebut. Dan itu merupakan data yang cukup representatif menggambarkan kondisi di pasar internasional pada umumnya.

Misalnya untuk mengetahui nilai di pasar internasional batu bacan gunakan keyword “chrysocolla calchedony rough”. Akan segera muncul banyak tawaran nilai harga sang batu hidup tersebut. Harga rata-ratanya memang tidak setinggi bandrol harga di tanah air, tetapi jika dihitung plus ongkos kirim dan pajak import, jatuhnya kurang lebih akan setara, atau bahkan akan lebih mahal. Harap diingat bahwa batu mulia akan terkena pajak import yang sangat tinggi karena dianggap barang mewah. Referensi tentang hal ini silahkan baca artikel tentang Menghitung Bea Masuk Paket Dari Luar Negeri. Batu Bacan alias Chrysocolla yang banyak ditawarkan di eBay memang kebanyakan berasal dari Peru, bukan berasal dari pulau Bacan di Maluku.

Tak hanya batu Bacan, Fire Opal Wonogiri (yang banyak ditemukan di daerah Wonogiri Jawa Tengah), sesungguhnya juga bernilai sangat tinggi di pasar Internasional. Kecantikan batu ini terletak pada adanya kilau cahaya seperti api yang memancar dari dalam batu. Untuk menemukan batu-batu jenis ini sehingga kita dapat mengukur standard harganya gunakan keyword “mexican fire opal“.

Apakah masih ada jenis batu Nusantara lain yang pantas diapresiasi?
Ya, misalnya opal kalimaya (si magic stone), batu Garut, pancawarna dan masih banyak lagi yang pantas untuk kita apresiasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.