Konten Adalah Raja, Tapi Bukan Raja Sehari

By mangkoko : last updated 26 Sep 2016

Anda pasti pernah mendengar istilah: konten adalah raja (contents is the king). Tapi bukan raja sehari lho! Raja asli yang kekuasaannya (baca: popularitasnya) berlangsung lama, bahkan turun-temurun. Berbeda dengan raja sehari yang usia kekuasaannya hanya berlangsung singkat. Di hari penobatan menjadi pusat perhatian. Semua kerabat bersuka cita memberi selamat, namun setelah itu tamat.  Tak lagi menjadi raja, kini hanyalah orang biasa.

Contents adalah Raja, namun bukan Raja sehari

Contents adalah Raja, namun bukan Raja sehari

Konten raja, namun hanya raja sehari, cirinya adalah terlihat seksi di lihat dari luar, namun  isi di dalamnya kurus kering. Judulnya terlihat menarik menciptakan rasa penasaran, namun isinya telah basi. Tak sesuai antara kemasan dengan isi. Tentu ini akan mengecewakan pembaca.

Atau terkadang isinya sekedar gosip ecek-ecek ala koran kuning. Tahu koran kuning kan? Itu lho: koran yang judul beritanya bombastis, namun isinya tidak substansial. Sekedar memicu sensasi, atau menyulut kontroversi dan kebencian.

Konten Ber-DNA Raja

Konten berkualitas, pantas mendapat gelar raja. Penampilan luar seksi, sedangkan isi sungguh montok berisi. Inilah yang disebut konten ber-DNA raja. Judulnya mengundang rasa ingin tahu, isi di dalamnya sangat substansial. Mengandung informasi bermanfaat yang banyak dibutuhkan orang. Juga awet muda (evergreen), panjang umur, tak cepat basi. Selalu fresh menjadi rujukan sepanjang masa.

Menulis konten yang seksi dan montok berisi memang tidak mudah. Karena tak sekedar menulis, namun ada proses yang harus dipersiapkan sebelumnya, yakni penguasaan materi, caranya:

  • Melakukan pegamatan langsung pada obyek
  • Wawancara dengan narasumber yang kompeten jika sekiranya diperlukan
  • Studi pustaka dari buku maupun sumber informasi online. Ini sangat penting untuk membangun kedalaman isi.
  • Terakhir adalah: endapkan materi, agar semakin matang. Kelak akan lahir konten yang benar-benar substansial, padat berisi, tidak bertele-tele, dan nyaman dibaca.

Bagi para blogger, ada “jembatan keledai” yang bisa dijadikan wahana untuk memudahkan menulis konten ber-DNA raja. Apakah itu? Tulislah konten yang selaras dengan passion. Atau minimal konten dengan tema kehidupan sehari-hari, yang biasa dilihat dan dialami. Jangan menulis konten KW, yakni sekedar menceritakan kembali sesuatu yang pernah diceritakan oleh orang lain. Tulislah konten yang benar-benar asli.

Tak perlu mengejar kuantitas, misalnya memaksakan diri menulis 10 artikel setiap hari. Sehari satu artikel, itu sudah sangat hebat. Kualitas dan konsistensi menjadi 2 kata kunci utama. Janganlah beralasan mementingkan kualitas, lantas melupakan konsistensi. Misalnya hanya menerbitkan konten sebulan sekali.

Menerbitkan konten di blog seminggu sekali sebenarnya sudah cukup bagus. Lebih sering tentu saja semakin bagus. Jangan mengambil jeda terlalu lama. Nanti terlanjur dilupakan orang. Bahkan dilupakan pula oleh mesin pencari. Rugi kan?

Ciri Konten Ber-DNA Raja

Dari cerita ngalor-ngidul*) diatas, jika di ekstraksikan untuk mendapatkan ciri-ciri konten ber-DNA raja, maka akan muncul beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Evergreen
Karakter konten di media online relatif lebih tahan lama (evergreen) dibanding media diluar dunia online, karena akan lebih mudah di temukan di masa yang akan datang. Bandingkan dengan sebuah konten yang di muat di koran. Dalam hitungan hari akan segera terlupakan dan sulit untuk mencari di kemudian hari.

Mesin pencari berperan penting mendokumentasikan konten. Bagaikan laba-laba bertangan banyak, sebuah mesin pencari sungguh cekatan melayani siapapun untuk menemukan konten yang dibutuhkan. Tak peduli konten yang populer maupun konten yang tidak pernah dilihat orang sekalipun.

Konten yang tak mudah lekang oleh jaman (evergreen), apalagi populer memang sangat potensial mengundang pengunjung. Seperti misalnya artikel-artikel yang bersifat “how to”, atau tips yang memudahkan pekerjaan sehari-hari.

Namun jangan remehkan pula konten yang tak populer, karena di dunia online, konten-konten tak populer tetapi bermanfaat bagi orang lain masih tetap potensial mendatangkan pengunjung yang sangat spesifik.

Jika dianalisa dengan grafik, konten-konten populer dan tak pupuler akan menghasilkan kurva unik yang disebut long tail. Model kurva ini dipopulerkan oleh Chris Andersen (thelongtail.com). Pada kurva tersebut terlihat artikel-artikel populer menempati bagian hits di pangkal ekor yang besar. Sedangkan artikel-artikel tidak pupuler berada semakin ke unjung ekor. (lihat gambar di bawah)

 

Long tail, oleh Cris Andersen

Long tail, oleh Chris Andersen – thelongtail.com

Artikel popular banyak mendatangkan pengunjung setiap hari. Artikel yang tak populer tetap mendatangkan pengunjung juga meskipun sedikit. Namun jika artikel tak populer ini jumlahnya sangat banyak, jika di jumlahkan akan tetap signifikan menghasilkan pengunjung.

2. Flexible
Konten di blog memiliki fleksibilitas tinggi. Terserah anda, tergantung keahlian yang anda kuasai dan segmen pembaca yang ingin di sasar. Silahkan menulis bak seorang jurnalis bila pede dengan gaya itu. Atau bergaya bak seorang dalang (pencerita), atau menulis lebih serius ala artikel ilmiah populer.

Mana gaya terbaik? Pilih mana yang paling anda kuasai dan sukai. Itulah yang terbaik untuk anda!

3. Detail
Sebuah artikel di sebuah blog, tak lagi dibatasi ruang cetak dan tata letak halaman seperti halnya pada koran atau majalah. Sehingga tema yang dianggat sangat memungkinkan di ungkap sedetil mungkin. Yang paling penting: tetap fokus pada tema pokok tulisan.

Hal lain yang sangat penting diperhatikan adalah: jaga kenyamanan pembaca. Atur panjang artikel dalam batas wajar. Jangan terlalu pendek, namun hindari pula terlalu panjang. Hitungan ideal adalah sekitar 1000 kata per artikel, minimal 500 kata.

Jika artikelnya panjang, potonglah menjadi beberapa episode, atau dibuat bersambung. Sehingga masing-masing potongan menjadi lebih spesifik. Cara seperti ini akan memudahkan mesin pencari mengidentifikasi kata kunci (keyword). Reputasi artikel juga akan semakin kuat di mata mesin pencari.

4. Updatable
Mestinya hanya tulisan yang benar-benar telah matang yang pantas di-publish. Alur cerita telah dirancang semenarik mungkin. Demikian pula dengan kosa kata dan kutipan berupa data-data telah diverifikasi kebenarannya.

Memang … tak ada blogger yang tak retak. Blogger tetap seorang manusia, yang tak lepas dari salah dan khilaf. Sangat mungkin data yang disajikan salah, atau telah berubah dengan kenyataan saat ini. Atau tak lagi relevan seiring dengan waktu. Jika ini terjadi, sudah semestinya di update. Agar tetap relevan bagi pembaca.

Salah satu keunggulan artikel yang tayang di blog adalah mudah di update. Bahkan sangat memungkinkan disegarkan secara periodik. Hal ini akan selalu menarik dibaca pengunjung. Tak hanya pengunjung baru, bahkan juga pengunjung lama yang pernah membacanya di waktu lampau, tak tertutup kemungkinan akan membacanya lagi.

5. Interactive
Spirit Web 2.0 adalah interaktifitas. Manusia sendiri adalah makhluk sosial. Interaktifitas adalah DNA sosial yang terinstall permanen pada relung psikologis manusia. Interaksi dengan sesama menjadi kebutuhan sosial utama (primary social needs) yang tak bisa di tawar-tawar lagi. Itulah alasan logis dari fenomena booming sosial media di internet.

Konten pada sebuah blog yang interaktif menjadi menarik bagi pengunjung. Bagian yang tak dipahaminya akan ditanyakan langsung pada penulis. Jika penulis mau aktif merespon pertanyaan maka pengunjung yang sama akan bolak-balik berkunjung.

Namun di sisi lain, orang-orang yang suka komentar negatif (haters) akan selalu ada. Inilah pentingnya moderasi pada kolom komentar. Jika anda tidak melakukannya, blog akan menjadi tong sampah. Penuh iklan sembarangan, dan bertaburan sumpah serapah.

6. Endorser
Cerita seorang sahabat yang dipercaya adalah rekomendasi yang hebat. Ini berlaku untuk urusan apapun. Dari jual-beli produk, gaya hidup, hingga sekedar membaca sebuah artikel.

Sebuah blog bereputasi bagus bisa berperan laiknya seorang sahabat yang dipercaya. Bisa dimanfaatkan menjadi endorser yang efektif.

Namun blogger juga harus hati-hati menjaga reputasi dan kepercayaan yang telah diperoleh dari pembaca setia. Jangan sampai mencederai reputasi dengan meng-endorse produk sembarangan. Kepentingan pembaca haruslah menjadi pertimbangan utama.

Menjadi publiser iklan juga bukan barang haram, asal tidak serampangan. Toh iklan tak selalu identik dengan gangguan. Bisa pula berperan sebagai tambahan informasi yang bermanfaat. Jika memungkinkan, pilihlah iklan-iklan yang relevan dengan tema blog. Agar pengunjung tak merasa terganggu dengan keberadaannya.

Google bisa disebut sebagai contoh ideal dalam hal kerja sama pemasangan iklan. Iklan yang muncul disesuaikan otomatis dengan relevansi pengunjung. Dengan semboyan “don’t be evil”, tampaknya Google berusaha untuk “tidak menjadi hantu”. Berusaha memberikan layanan yang bermanfaat, dengan sedikit iklan yang tak mencolok. Iklan hanya berupa teks kecil. Menempati porsi lebih kecil dibanding konten. Iklan juga ditandai khusus agar mudah dibedakan dengan konten, sehingga tidak membingungkan pengunjung.

Coba bandingkan dengan beberapa situs berita online ternama di negeri kita. Iklan bertaburan memenuhi setiap jengkal halaman. Porsi untuk konten sangat sedikit. Bahkan terkadang masih juga ditumpuk dengan iklan popup yang sangat mengganggu.

Bagaimanakah Peran SEO?

Search engine optimization (SEO) selalu tak lepas dari peran sentral sebuah mesin pencari. Mesin pencari bisa kita analogikan bagaikan seorang juri profesional, sedangkan konten bertindak sebagai peserta kompetisi.

Search engine optimization

Search engine optimization

Juri nampaknya telah mencoba untuk obyektif. Namun ada celah-celah kelemahan yang bisa dieksploitasi secara ilegal. Memanfaatkan kelemahan sang juri memang terkadang menguntungkan. Namun perlu diingat: sang juri tidaklah bodoh. Dia terus belajar untuk menjadi semakin cerdas. Lagipula proses penjurian tidak hanya dilakukan satu kali saja. Tetapi terus menerus, secara periodik. Jika dia  menemukan kecurangan, bisa tiba-tiba melakukan diskualifikasi dengan memasukkan peserta kompetisi yang curang ke dalam kotak pasir**).

Lebih baik bertanding sportif. Toh tujuan utama bukan kemenangan. Bukan semata-mata uang. Tetapi berupa sesuatu yang lebih berharga, yaitu: “mata uang sosial”.  Mata uang sosial adalah sesuatu yang sangat dihargai di mata orang banyak. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Kekayaan yang tak habis di bagi untuk orang banyak.

Jadi, “Mau jadi raja asli atau sekedar raja sehari?”

Ref. Pustaka:
1. Contagious, oleh Jonah Berger, Gramedia Pustaka Utama 2014.
2. Hypnotic Writing, oleh Joe Vitale, Gremedia Pustaka Utama 2008.
3. The Long Tail, Chris Anderson, Gramedia Pustaka Utama 2007.

Catatan:
*) ngalor-ngidul (Jawa) = cerita yang melebar kemana-mana, tak tentu arah
**) kotak pasir = Google sand box

Source images: pixabay.com, share images free of copyrights


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.