Kembali ke Udik

By mangkoko : last updated 02 Oct 2014

Mudik atau pulang kampung seakan telah menjadi agenda budaya wajib bagi masyarakat Indonesia. Terjadi berulang setahun sekali, setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tradisi mudik tampaknya merupakan hajat terbesar yang melibatkan seluruh komponen bangsa, dari pemerintah, kalangan swasta, sampai masyarakat sendiri tanpa memandang suku, ras dan agama. Semua rame-rame mudik, pulang ke kampung halaman.

Mudik adalah agenda budaya, bukan religi. Di dalam agama Islam tidak ada syariat tentang mudik atau pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri. Di negara-negara Arab juga tidak ada tradisi ini, di sana hari raya terbesar adalah Idul Adha atau hari raya Qurban bersamaan dengan musim haji.

Mudik dengan sepeda motor pun dilakukan, tanpa peduli akan resiko (credit image pada health.kompas.com)

Mudik dengan sepeda motor pun dilakukan, tanpa peduli akan resiko
(credit image pada health.kompas.com)

Tradisi mudik tanpa disadari menjadi sebuah peristiwa masal untuk mengembalikan keseimbangan sosial, walau hanya sejenak. Ketimpangan keseimbangan populasi antara desa dan kota menjadi penyebab paling kasat mata. Orang-orang berbondong-bondong menuju kota dengan impian kehidupan yang lebih layak dan nyaman dibanding tetap bertahan di desa.

Terbatasnya kesempatan kerja dan sempitnya lahan-lahan pertanian di desa, ditambah hasil panen produk pertanian relatif rendah baik kualitas maupun kuantitas, menjadikan iming-iming gemerlap kota terlihat jauh lebih menarik untuk didatangi. Hanya satu-dua gelintir saja generasi muda kita yang mau tetap bertahan di pedesaan. Yang banyak tersisa hanyalah generasi tua yang masih setia meneruskan tradisi agraris tinggalan nenek moyang.

Dari kacamata sosial, mudik tentu saja adalah tradisi yang sangat baik. Sebagai sebuah ajang silaturahim dengan keluarga besar di tempat asal. Di tengah kehidupan perkotaan yang sangat kompetitif, silaturahim menjadi barang langka. Saudara yang tinggal di satu kotapun belum tentu sering ketemu. Sehingga mudik menjadi kesempatan emas kangen-kangenan sesama saudara, Menjadi pemuas dahaga manusia sebagai makhluk sosial. Saling bersalam-salaman, bermaaf-maafan, saling memberi kabar, dan tersirat juga saling menunjukkan keberhasilan selama bekerja di kota , menjadi yang paling dinantikan, setahun sekali.

Mudik juga syarat dengan kehebohan, terutama urusan transportasi. MangKoko pernah merasakan hebohnya mudik ketika masih tinggal di Bandung dan Jakarta. Mudik ke rumah mertua relatif mudah dijangkau kerena isteri berasal dari Jawa Barat. Kehebohan baru terjadi saat mudah ke rumah orang tua di Jawa Tengah, karena arus mudik terbesar adalah dari wilayah Jawa bagian barat (Jakarta, Bandung dan sekitarnya) ke arah Jawa bagian tengah dan timur.

Suasana mudik gratis, CSR dari sebuah perusahaan publik (Credit image pada ciputranews.com)

Suasana mudik gratis, CSR dari sebuah perusahaan publik
(Credit image pada ciputranews.com)

Tradisi mudik selalu menyisakan cerita unik tentang mudik yang tak terlupakan. Pernah suatu saat tidak lagi kebagian tiket kereta api maupun bus malam yang layak. Dan saat itu pesawat terbang masih manjadi moda transportasi yang sangat mewah dan tidak terjangkau. Jadi terpaksa pergi ke terminal untuk mudik menggunakan bus reguler. Ternyata suasana di terminal sangat padat dan hiruk pikuk para pemudik. Orang-orang berlari larian mengejar dan berebut bus yang baru datang di terminal. Karena tidak tega melihat pemandangan seperti itu saya dengan isteri memutuskan untuk berdiri di tempat yang jauh dari kerumunan. Dalam hati kami ikhlaskan saja, jika memang tidak dapat bus, ya tidak perlu mudik. Namun keajaiban terjadi. Tiba-tiba sebuah bus menghampiri dan pintu depannya terbuka persis di depan kami. Sehingga dengan mudah dan leluasa kami naik dan memilih tempat duduk paling awal. Tanpa perlu berebut. Jadilah kami mudik dengan bus reguler yang cukup nyaman. 

Di kampung, dengan sanak saudara yang sama-sama pemudik biasanya saling bercerita kabar hebohnya mudik. Seorang kakak sepupu bercerita dengan bangga bahwa dia berhasil mendapatkan tiket kereta dengan melakukan trik khusus, dengan mencoba sok akrab dengan petugas di stasiun sehingga bisa mendapatkan tiket tanpa harus antri. Mendengar cerita itu, tiba-tiba keisengan saya muncul, ikut berbagi cerita ahh ….

“Saya juga ada cerita asyik saat antri tiket lho mbak !”
“Waktu saya sampai di stasiun antrinya sudah luar biasa banyak, bahkan banyak orang yang tanpa malu menyerobot antrian.”
“Akhirnya dapat tiket to dik ?”, tanya mbak sepupu saya tersebut.
“Nggak dapat mbak !”, jawab saya.
“Lho apa hebatnya cerita antri yang akhirnya nggak dapat tiket ?”, tanya dia keheranan.
“Nggak ada hebatnya sih mbak, cuma dalam hati saya sangat bangga bahwa saya dapat antri dengan baik, tanpa merugikan orang lain, biarpun nggak dapat tiket”, jawab saya sambil nyengir kuda.

Apakah sahabat sekalian juga penya cerita-cerita unik tak terlupakan selama mudik ?

Selamat mudik, mudah-mudahan aman dan lancar di jalan, bisa bertemu silaturahim sanak saudara di kampung halaman.

Notes:
Featured image credit pada andreasardhy.devianart.com


Share :

One thought on “Kembali ke Udik

  1. Mas Desain

    Seandainya mudik terjadi setiap bulan kira-kira apa yang bakalan terjadi? wkwkwkwk

    mangKoko says:
    Jelas asyik mas, THR 12x setahun :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.