Tradisi Lebaran Ketupat

By mangkoko : last updated 29 Sep 2014

Lebaran di sebagian besar wilayah Jawa selalu indentik dengan ketupat. Ketupat lebaran adalah makanan berbahan beras yang ditanak dengan kemasan berupa anyaman daun kelapa (janur) dengan lauk sambel kacang dan opor ayam seakan menjadi menu wajib untuk merarayan hari lebaran.

Di sebagian wilayah jawa tengah ada istilah “lebaran ketupat” atau “ba’da kupat” yang artinya bukan lagi menu ketupat di hari lebaran, tetapi adalah istilah untuk menamai sebuah tradisi yang diadakan sekitar 6 hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Sering juga disebut sebagai tradisi syawalan karena memang jatuh pada bulan Syawal (penanggalan Hijriah dan Jawa).

Lebaran Ketupat, Tradisi syawalan pasca Hari Raya Idul Fitri

Lebaran Ketupat, Tradisi syawalan pasca Hari Raya Idul Fitri

Kata “lebaran” berasal dari khasanah bahasa jawa yaitu “lebar” yang berarti lepas atau luntur. Bisa pula diantikan sebagai lepas dari dosa, kembali menjadi suci, sebagaimana bayi yang baru lahir. Sedangkan ketupat atau kupat berasal dari akronim dalam bahasa Jawa yaitu ngaku lepat, yang artinya mengakui kesalahan.

Desa mawa cara, negara mawa tata“, setiap daerah memiliki istilah dan tradisi masing-masing untuk merayakan lebaran ketupat. Berikut tradisi lebaran ketupat di beberapa daerah di wilayah Pulau Jawa :

Di Klaten Jawa Tengah ada tradisi Kirab Gunungan Ketupat. Lokasinya di bukit Sidoguro yang berada di tepi Rowo Jombor (semacam danau) yang terletak di desa Krakitan, kecamatan Bayat. Setelah dikirab, gunungan ketupat beserta produk hasil pertanian seperti wortel, terong, kacang panjang dan juga buah-buahan akan diperebutkan warga yang hadir. Sebagian diantara pengunjung sangat percaya bahwa ketupat yang didapat akan memberi berkah, menyuburkan tanah pertanian. Sehingga biasanya mereka akan mengubur ketupat yang diperoleh di sawah atau ladang yang sedang digarap.

Kirab Gunungan di Rowo Jombor Klaten (Credit photo pada Timlo.net)

Kirab Gunungan di Rowo Jombor Klaten (Credit photo pada Timlo.net)

Di Kudus Jawa Tengah ada tradisi yang disebut Parade Sewu Kupat. Tradisi ini di adakan 6 hari setelah lebaran. Gunungan ketupat, hasil bumi dan lepet yang dipercaya membawa berkah akan diperebutkan. Lepet adalah makanan yang terbuat dari beras ketan, kelapa parut dan kacang merah yang dibungkus dengan daun kelapa.

Tradisi Swu Kupat di Kudus (Credit photo pada antarafoto.com)

Tradisi Sewu Kupat di Kudus (Credit photo pada antarafoto.com)

Prosesi Parade Sewu Kupat diawali dengan kirab gunungan ketupat, lepet dan hasil bumi dari makam Sunan Muria menuju ke Colo, sebuah obyek wisata di kawasan gunung Muria yang terletak sekitar 18 km utara kota Kudus. Setelah didoakan, gunungan akan diperebutkan oleh warga yang hadir.

Di Solo tepatnya di Taman Jurug, juga ada tradisi yang melibatkan ketupat disebut Gerebeg Syawal. Prosesinya dimulai dari arak-arakan dari pintu gerbang menuju Telaga Taman Jurug. Kemudian dipentaskan drama kolosal perjalanan Joko Tingkir sampai menjadi Sultan Pajang. Di akhir prosesi ribuan ketupat akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Gereben Syawalan di Taman Jurug Solo (Credit photo pada Tempo.co)

Gereben Syawalan di Taman Jurug Solo (Credit photo pada Tempo.co)

Acara-acara seperti ini jika dikemas dan dikelola dengan apik selain menjadi upaya pelestarian budaya, juga menjadi daya tarik wisata yang ikonik. Menjadi ciri khas daerah setempat.

Selain di Jawa Tengah, Jawa Timur juga memiliki tradisi seperti ini. Di Banyuwangi tradisi rebutan ketupat disebut Ritual Gelar Pitu. Kupat Gunggung berupa gunungan yang disusun dari selongsong ketupat kosong yang diisi dengan uang. Prosesinya kurang lebih sama dengan di daerah lain. Kupat Gunggung dikirab bersamaan dengan pisang, jenang merah dan diiringi kesenian Barong diarak beriringan keliling desa. Setelah di bacakan doa oleh tetua setempat, ketupat akan diperebutkan.

Mungkin masih banyak lagi tradisi syawalan di daerah lain yang memiliki ciri khas berupa ketupat. Sebagai tradisi menyambut lebaran, spiritnya akan selalu sama, yaitu mengingatkan untuk saling memaafkan dan mendoakan keselamatan dunia dan akhirat akhirat.

Kupat bumbune santen, sedoyo lepat nyuwun pangapunten !

 


2 thoughts on “Tradisi Lebaran Ketupat

  1. My Stupid Theory

    Wahh.. jadi lapar pengen ketupat..
    aku kira lebaran itu artinya lebar-an.
    maksudnya badan semakin lebar, perut makin lebar, muka makin lebar, senyum pun semakin lebar.. XD
    Salam Mystupidtheory

    mangKoko says:
    Saku celana juga semakin lebar ya mas, soalnya dompetnya lebih sering keluar masuk …
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.