Mengenang WS Rendra, Sang Penyair Burung Merak

By mangkoko : last updated 21 Oct 2015

Pernah nonton WS Rendra baca puisi? Jika belum pernah, cobalah sekali-kali menyaksikan sang “penyair burung merak” tersebut beraksi. Bagaikan  seekor merak jantan memamerkan pesonanya di atas panggung, sendirian. Banyak orang dibuat takjub, terpana, demikian pula saya. Memang saat ini kita tak lagi bisa melihat aksi life sang maestro di atas panggung. Karena beliau telah di panggil Yang Maha Kuasa (tahun 2009) dalam usia 73 tahun. Namun beberapa rekaman penampilannya masih dapat di saksikan.

Ekspresi WS Rendra dengan "seribu wajahnya" dalam acara pembacaan sajak-sajak "Penabur Benih" di Teater Terbuka TIM, 1992. (Credit Foto: KOMPAS/Julian Sihombing)

Ekspresi WS Rendra dengan “seribu wajahnya” dalam acara pembacaan sajak-sajak “Penabur Benih” di Teater Terbuka TIM, 1992. (Credit Foto: KOMPAS/Julian Sihombing)

Saya menonton pertama kali aksi panggung Om Willy (panggilan WS Rendra) bertahun-tahun lalu saat masih kuliah di Jogja. Menatap panggung Kridosono yang bernuansa gelap, kami (para penonton) dibuat terdiam terpaku di tempat duduk masing-masing. Bagaikan tersihir mantra yang terucap dari mulutnya. Kharisma dan gestur yang dia tunjukkan, seakan mencengkeram semua yang hadir. Aksi tunggal yang berdurasi lebih dari satu jam terasa begitu singkat. Seakan hanya berlangsung sekejap.

Membaca Sajak Rendra
Membaca sajak-sajak Rendra bagikan membaca sebuah cerita pendek (cerpen) yang dimampatkan sedemikian rupa. Tinggalah bait-bait kalimat pendek setara dengan sebuah puisi. Namun saat menyaksikan sang empunya sajak membawakan di atas panggung, sebuah episode cerita utuh kembali terangkai. Nada suara, mimik muka dan gestur seorang Rendra rupanya mampu mengisi detil kisah yang tersembunyi oleh terbatasnya kalimat dalam sebuah puisi.

Sebagai seorang dramawan, dengan Bengkel Teater yang didirikannya, Rendra lebih banyak menampilkan gerak bahasa tubuh dan improvisasi. Tapi uniknya sangat hemat dengan kata-kata. Sehingga seorang Goenawan Muhamad menyebutnya sebagai Teater Mini Kata.

Puisi-puisinya banyak bicara tentang potret sosial, tentang orang-orang yang terampas haknya, dan tentang mereka yang sering terabaikan.

Rendra bukan cuma seorang aktor dan penyair pemimpi belaka. Dia lebih tampak sebagai seorang yang piawai memotret realita yang ada di sekelilingnya menjadi karya sastra yang membumi, nikmat dinikmati oleh masyarakat kebanyakan.

Dalam buku “Doa Untuk Anak Cucu” yang merupakan bukum kumpulan puisi-puisinya yang sering dibacakan namun belum pernah diterbitkan sebelumnya, Rendra bersyair tentang beragam tema. Bagaikan satu paket kado untuk diwariskan pada anak cucu di bumi nusantara tercinta ini.

Doa Untuk Anak Cucu, kumpulan puisi Rendra yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya

Doa Untuk Anak Cucu, kumpulan puisi Rendra yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya

Bagi saya, mencermati karya-karya seorang Rendra, bagaikan belajar tentang dinamika kehidupan dan laku-laku spiritualitas yang universal namun sangat dalam maknanya. Menohok relung-relung di dalam diri yang terkadang lupa. Lupa pada hakekat kemanusiaan dalah hugungan dengan sesama dan dengan Sang Maha Perkasa.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.
Agama adalah kemah para pengembara.
Menggema beragam doa dan puja.
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.
(Bait terakhir Puisi WS Rendra: Gumanku, ya Allah)

Ada satu puisi Om Willy yang berkesan sangat kuat bagi saya. Judulnya adalah “Renungan Indah”. Konon puisi itu beliau tulis saat di ranjang rumah sakit sebelum Tuhan memanggil ke pangkuannNya. Puisi itu bagaikan mantra bagi saya untuk selalu mengingatkan bahwa apa yang kita sebut “milik” di dunia ini sesungguhnya hanyalah titipan. Saya kutipkan Puisi Renungan Indah pada Doa Selamat Jalan Untuk Mong.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.