Relaksasi Bersama Kodok, ala Pak Jokowi

By mangkoko : last updated 05 Jan 2016

Suara kodok atau suara-suara dari alam, memang dipercaya bahkan terbukti secara ilmiah mampu merangsang efek relaksasi bagi manusia. Mungkin karena itulah pak Jokowi sangat menyukai kodok. Bagi beliau, suara kodok adalah cara ampuh membuat otak jadi fresh. Apakah anda juga suka mendengarkan suara kodok, jangkrik, atau kicau burung-burung nan merdu?

Relaxing frog. (Courtesy of greeningofgavin.com)

Relaxing frog. (Courtesy of greeningofgavin.com)

Konon, pak Presiden selalu memelihara kodok di rumah yang ditinggalinya. Sejak masih menjabat sebagai Walikota Solo, kodok-kodok sengaja dibiarkan hidup di kolam yang ada di halaman Loji Gandrung, rumah dinas walikota Solo. Kegemaran ini terus berlanjut ketika beliau menjadi Gubernur DKI, bahkan hingga kini telah menjadi orang nomor satu di Nusantara kita tercinta.

Saat pindahan dari Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta ke Istana Negara, tak lupa beliau memboyong pula puluhan kodok bangkong dan kodok ijo kesayangannya, menjadi penghuni baru di kolam Istana Negara. Bahkan di awal tahun 2016, beliau melepas pula puluhan ekor kodok ke kolam di Istana Bogor.

“Supaya kalau malam ada suara kodok: kwang-kwong, kwang-kwong, kwang-kwong … Kan enak, jadinya fresh otaknya. Masa tiap hari dengarnya sepeda motor, bus, mobil !”, kata pak Jokowi saat ditanya tentang kodok-kodok ini.

Relaksasi Dengan Suara Alam

Suara alam seperti gemericik air, suara serangga malam seperti jangkrik, belalang, atau kodok memang dipercaya dan terbukti secara ilmiah menumbuhkan efek menenangkan dan relaksasi. Banyak terapi alternatif, terutama di negara-negara barat, yang menggunakan suara-suara alam untuk mengatasi gangguan-gangguan psikis pasiennya. Seperti misalnya: www.soundhealingcenter.com, www.soundoasis.com, dan en.ecosounds.net.

Ada kajian scientific sangat menarik yang menjelaskan mengenai efek psikis dalam hubungannya dengan suara-suara yang di dengar oleh kedua telinga manusia. Kajian ini masuk dalam ranah “neuro science”, yakni ilmu pengetahuan yang mempelajari otak dan seluruh fungsi-fungsi syaraf.

Dari kacamata bidang ilmu ini, ketika seseorang dalam kondisi rileks, dan kemudian otak diukur dengan alat EEG (Electro Ensefalogram), ternyata menghasilkan getaran gelombang elektromagnetik pada frekuensi antara 8–14Hz. Frekuensi ini populer disebut sebagai gelombang ALFA. Inilah kondisi ketika otak manusia sedang relaks, khusyu, atau meditatif.

Sebenarnya dalam kondisi apapun, otak manusia selalu menghasilkan signal gelombang elektromagnetik, dengan frekuensi dan panjang gelombang yang beragam. Tergantung pada kondisi prikologis manusia.

Secara umum gelombang elektromagnetik yang dihasilkan otak manusia dikategorikan dengan nama: BETA, ALFA, THETA dan DELTA. Dengan spesifikasi sbb.:

  • BETA (14–100Hz) Gelombang otak saat pikiran sehari-hari dalam keadaan sadar, yaitu saat sedang beraktifitas fisik (aktif), saat cemas dan khawatir, maupun saat sedang stress. Sifat beta adalah multi fokus.
  • ALFA (8-14Hz) Gelombang otak saat rileks, khusyu’, atau dalam kondisi meditatif. Sifat alfa adalah single fokus.
  • THETA (4-8Hz) Gelombang otak saat kondisi sangat rileks, sangat khusyu, atau deep meditation. Sifat theta adalah bawah sadar.
  • DELTA (<4Hz) Gelombang otak saat seseorang tidur lelap (tanpa mimpi).

Khusyu’, Rileks, Meditatif

Fenomena gelombang otak inilah yang menerangkan secara ilmiah mengapa seorang muslim saat menjalankan ibadah sholat malam (tahajud) sesudah bangun dari tidur pada jam 2 atau 3 malam akan lebih mudah khusyu’ (fokus dan relax) dibanding dengan sholat yang di lakukan pada siang hari.

Pak Jokowi dengan kodok-kodok kesukaannya. (Courtesy: Kaesang Pangarep on Twitter)

Pak Jokowi dengan kodok-kodok kesukaannya. (Courtesy: Kaesang Pangarep on Twitter)

Saat tidur, otak berada pada kondisi DELTA. Ketika terbangun akan pelan-pelan naik melewati THETA menuju ALFA. Saat seperti inilah masa emas untuk mencapai khusyu’ (fokus, rileks, dan hening) relatif mudah tercapai. Apalagi suasana di malam hari: seakan berada di tengan lautan DELTA, karena sebagian besar orang-orang sekeliling  tidur terlelap (DELTA). Otak ALFA ini akan beresonansi dengan lautan DELTA yang frekuensinya lebih rendah, sehingga tetap terjaga untuk tidak segera naik ke frekuensi BETA yang lebih tinggi.

Binaural Beat

Lantas, bagimana alasan ilmiah tentang pengaruh suara-suara alam seperti suara kodok mampu merangsang otak seseorang memasuki kondisi alfa?

Dalam neuro science dikenal fenomena yang disebut “binaural beat“, yakni dua gelombang suara berbeda frekuensi yang bergetar bersamaan. Efeknya ternyata mampu merangsang otak untuk beresonansi pada level atau frekuensi yang diharapkan. Cara kerja seperti ini mirip dengan suara-suara alam.

Telinga manusia sesungguhnya tidak bisa mendengar getaran suara dengan frekuensi terlalu rendah, misalnya 8-12Hz pada gelombang otak ALFA. Dan binaural beat menjembatani masalah ini dengan cara menumpangkan frekuensi ALFA pada frekuensi carrier/pembawa yang lebih tinggi, diperdengarkan pada 2 telinga yang berbeda.

Misalnya dibuatkan frekuensi pembawa 1000Hz (ini adalah frekuensi yang bisa didengar manusia). Jika telinga kiri diperdengarkan frekuensi 1000Hz dan telinga kanan diperdengarkan 1010Hz ternyata otak akan merespon dengan menghasilkan frekuensi selisihnya yaitu 10Hz (ini adalah gelombang ALFA)

Itulah alasan masuk akal tentang pengaruh suara-suara alam, termasuk kodok-kodok peliharaan pak Jokowi, mampu merangsang seseorang untuk rileks, tenang, khusyu’ dan bahkan meditatif.

Sahabat …
Cobalah sering-sering menyimak suara-suara alam: suara burung berkicau, suara jangkrik di malam hari atau suara kodok yang sedang berdendang: kung kong kwek … kung kong kwek …
Agar kita selalu rileks, jauh dari stress.

Bahan bacaan :

  • Piece of Mind, Sandy MacGregor, Gramedia Pustaka Utama, 2000
  • Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu, Elex Media Komputindo, 2007
  • The Science & Miracle of Zona Ikhlas, Erbe Sentanu, Elex Media Komputindo, 2008

 


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.