Selfie Ala Pelukis Affandi

By mangkoko : last updated 26 Sep 2016

Selfie alias swafoto menjadi aktifitas yang jamak kita saksikan sehari-hari di lingkungan sekitar kita. Tak dipungkiri, selfie telah menjadi tren yang digemari banyak orang. Dari para pelajar, mahasiswa hingga para artis dan politisi di seluruh penjuru dunia banyak yang gemar ber-selfie-ria. Apakah anda juga salah satu penggemar aktifitas narsis ini?

Barangkali anda merasa aneh dengan judul artikel ini: Selfie Ala Pelukis Affandi!
Bukankah selfie baru populer belakangan seiring dengan menjamurnya penggunaan smartphone berfitur kamera yang canggih dan berharga terjangkau? Sedangkan Affandi, sang maestro seni lukis Indonesia ini telah meninggal dunia di tahun 1990, jauh sebelum kata selfie ditemukan.

Lukisan Affandi - Aku Melukis, 1978

Lukisan Affandi – Aku Melukis, 1978, (credit image pada yogyakarta.panduanwisata.id)

Anda benar!
Popularitas selfie memang baru meningkat drastis pada tahun 2013. Penerbit Kamus Inggris yang sangat populer yaitu Oxford menyebut selfie sebagai “word of the year” di tahun 2013. Meskipun frasa “selfie” sendiri sebenarnya telah mulai di perkenalkan tahun 2002. Kalimat “Selfie Ala Affandi“, tercetus begitu saja di benak saya saat berkunjung ke Museum Affandi beberapa waktu lalu. Di sana saya banyak sekali menemukan lukisan potret diri Affandi dan keluarganya, “Inilah selfie ala Affandi!”, begitu celoteh benak saya.

Baca pula: Gallery Museum Affandi

Jika selfie didefinisikan secara sempit sebagai: pengambilan foto diri sendiri dengan menggunakan smartphone atau webcam kemudian diupload ke situs sosial media, tentu saja lukisan-lukisan potret diri Affandi tidak masuk kategori selfie. Namun jika ditafsirkan lebih moderat sebagai aktifitas narsis membuat potret diri, Affandi layak masuk sebagai seorang penggemar selfie. Meskipun media yang digunakan bukan berupa kamera, namun berupa cat minyak diatas kanvas atau cat air di atas kertas.

Self Portrait Affandi, Oil on Canvas, 1944

Self Portrait Affandi, 95 x 38 cm, water color on paper, 1944

Foto di atas adalah Self Portrait Affandi tahun 1944, 95 x 38 cm, water color on paper.
Model yang paling mudah didapat adalah melukis diri sendiri. Karya ini dibuat semasa pendudukan Jepang di Indonesia. Material untuk melukis sangat sulit didapat, Affandi melukis dirinya sendiri menggunakan cat air di atas kertas. (Koleksi Museum Affandi Yogyakarta)

Jika kita telisik lebih jauh, konon sekitar 2.000 lukisan karya sang maestro, sebagian besar (sekitar 80%) berupa potret diri dan keluarganya. Adakah sebuah alasan kuat yang mendasari kenapa beliau melakukan ini? Helfy Dirix, cucu tertua Affandi dalam sebuah wawancara dengan Kompas TV beberapa hari lalu mengungkapkan bahwa sang kakek melakukan itu dengan alasan yang sangat sederhana: menyewa model untuk dilukis tentunya harus membayar, sedangkan melukis diri sendiri atau keluarganya gratis.

Apakah orang sekaliber Affandi tidak kuat menyewa model untuk lukisannya? Bisa jadi benar di awal masa karirnya sebagai pelukis. Namun kemudian saat telah cukup populer, dan lukisannya dihargai sangat tinggi (mencapai milyaran rupiah untuk satu lukisan) saat ini, tentu bukan masalah bayar atau gratis. Bisa jadi telah menjadi pola hidupnya yang tidak berubah sejak awal, tetap hidup dalam kesederhanaan. Menelusur biografi kehidupan Affandi memang sangat mudah dipahami bahwa sang maestro ini seorang yang sangat sederhana dan apa adanya.

Banyak lukisan potret diri Affandi yang tersimpan di Museum Affandi Yogyakarta

Banyak lukisan potret diri Affandi yang tersimpan di Museum Affandi Yogyakarta

Affandi mengawali kiprahnya di dunia seni lukis dengan manjadi seorang pelukis poster bioskop, tanpa mengenyam pendidikan seni rupa yang memadai. Berbeda dengan pelukis sezamannya yaitu Basuki Abdullah yang memang seorang terpelajar di bidang seni rupa. Konon Affandi pernah sakit hati karena keinginannya untuk berguru pada Basuki Abdullah ditolak.

Suatu ketika Helfy Dirix menanyakan, “Kenapa ada wajah mencekam di lukisan kakek?”. “Aku selalu khawatir kehilanganmu”, kata Affandi.

Sekilas melihat lukisan-lukisan Affandi, barangkali sebagian besar kita akan bingung, apa sesungguhnya kehebatan sang maestro yang tertuang di atas kanvas? Tampaknya sekedar garis dan lengkung warna warni abstrak yang terkesan seperti asal dicoret-moretkan saja. Namun bila kita mau berhenti sejenak, memandang dengan sudut lebar, mencakup seluruh bidang kanvas, dan membuka mata hati untuk turut menikmati karya-karya sang maestro, akan terasa bahwa lukisan-lukisan ini sungguh sarat dengan emosi, dan gairah. Bahkan juga kekhawatiran dan kesedihan yang kuat memancar.

Lukisan-lukisan diri Affandi, dapat kita saksikan di suatu tempat eksotis yang berada di tepi sungai Gajah Wong Yogyakarta, tempat museum yang menyimpan karya karya beliau.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.