Sepiring Singkong Goreng

By mangkoko : last updated 03 Oct 2014

Apa istimewanya sepiring singkong goreng ? Mungkin tidak ada. Kalau toh mau dicari-cari keistimewaan sang roti sumbu ini karena kesederhanaannya. Kita sering membandingkan antara singkong dan keju. Keju dipersepsi sebagai sesuatu yang modern, elit dan hebat. Sedangkan singkong dipersepsi sebagai sesuatu yang ndeso, udik, miskin dan ketinggalan jaman.

Sepiring singkong goreng

Sepiring singkong goreng

Tapi coba bayangkan … sepiring singkong goreng yang masih hangat plus secangkir kopi manis, atau secangkir teh poci nasgitel (panas-manis-kental) di sore hari … hmmm bagi mangKoko sudah menjadi ritual yang sungguh tiada duanya. Apalagi ditambah suasana perbukitan Ungaran yang dingin sedikit berkabut. Wuuuzzz seakan menikmati hidangan terlezat di taman surga.
He he … kayak pernah ke surga saja ya ! :-)

Singkong (Manihot utilissima), ketela pohon, ubi kayu, telo, bodin, pohung, sampeu atau apapun sebutan nama yang biasa anda gunakan pada ubi ini adalah salah satu sumber karbohidrat yang memiliki sejarah panjang mengiringi dinamika perkembangan Nusantara tercinta kita. Perdu tahunan yang tumbuh baik baik di daerah tropis maupun sub tropis ini mestinya tidak dipandang sebelah mata. Bahkan saat ini banyak muncul olahan berbahan singkong yang tidak lagi berkesan ndeso dan rendahan. Beberapa contoh misalnya keripik singkong yang mulai masuk supermarket dengan kemasan alumunium foil yang representatif. Tidak kalah disandingkan dengan keripik kentang yang sering dianggap lebih modern. Atau beberapa olahan kue berbahan singkong, misalnya brownis singkong. Bahkan sebenarnya beberapa jajanan tradisional seperti gatot, tiwul, cenil dan teman-temannya sesama asal dari singkong sangat mungkin menjadi jajanan yang eklusif, tinggal bagaimana kita mengemasnya saja.

Tanaman singkong relatif mudah tumbuh di sembarang tempat. Sehingga bisa menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan dunia yang terus meningkat. Dalam laporan khususnya tentang masa depan pangan dunia, majalah National Geographic (Mei 2014) menyebutkan bahwa salah satu bahaya terbesar di bumi adalah masalah ketercukupan pangan. Populasi manusia di bumi meningkat pesat. Diperkirakan sebelum tahun 2050 penduduk bumi akan bertambah 35% dari populasi sekarang. Pertambahan 35% populasi harus diimbangi dengan produksi tanaman sebesar 100%. Kenapa 100% ? Karena pertumbuhan populasi yang diiringi dengan peningkatan taraf hidup akan membutuhkan sumber daya hayati yang lebih tinggi.

Orang yang tadinya cukup makan dari hasil pertanian, mulai mengkonsumsi makanan hewani seperti daging dan telur. Produksi makanan hewani membutuhkan lebih banyak bahan makan nabati dari tumbuh-tumbuhan. Kalori dari tanaman yang dikonsumsi manusia secara langsung hanya sekitar 55%. Sebesar 36% menjadi pakan ternak dan sisanya kira-kira sebesar 9% manjadi bahan bakar hayati untuk keperluan industri dan transportasi. Ke depan dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar dari fosil yaitu minyak bumi dan batubara, konversi bahan makanan menjadi bahan bakar akan semakin meningkat prosentasenya.

Terus menerus meningkatnya produksi bahan pangan pokok konvensional seperti beras dan gandum semakin banyak menghadapi kendala lingkungan. Jadi menumbuhkan keanekaragaman bahan pangan adalah salah satu langkah strategis yang mau tidak mau harus terus menerus disosialisasikan. Apalagi Nusantara tercinta ini adalah negeri tropis yang dikaruniai kesuburan tanah yang tiada duanya. Kata Koes Plus “Tongkat kayu dan batu pun bisa menjadi tanaman“. Banyak ragam umbi-umbian yang lezat dan sangat pantas menjadi bahan pangan alternatif untuk kebutuhan sehari hari, seperti singkong, talas, kimpul dan umbi lain yang sangat banyak jenisnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.