Festival Kota Lama 2014, Pasar Malam Sentiling

By mangkoko : last updated 04 Nov 2015

Festival Kota Lama Semarang 2014 telah berlangsung selama 3 hari, Jumat sampai Minggu (19-21 September 2014). Lokasi penyelenggaraannya disekitar Gereja Blenduk, wilayah Kota Lama Semarang. Tahun ini sengaja mengambil tema sebuah pameran akbar berskala internasional yaitu: napak tilas 100 Tahun Koloniale Tentoonstelling 1914. Bagi lidah masyarakat Jawa kata Tentoonstelling memang relatif sulit diucapkan, sehingga lebih suka melafalkan menjadi “sentiling”, sehingga kemudian lebih populer disebut Pasar Malam Sentiling.

Event Festival Kota Lama 2014

Event Festival Kota Lama 2014

Agenda acara yang dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ini menyuguhkan beragam acara menarik. Antara lain pameran, pasar antik, bazar kuliner, pemainan tradisional dan panggung pagelaran seni. Acara ini terasa unik kerena diadalah di sekitar gedung-gedung tua peninggalan jaman kolonial Belanda di Kota Lama Semarang.

Memang tujuan utama event ini adalah membangkitkan roh Kota Lama yang telah lama mati suri. The Little Nederland yang sangat kaya akan bangunan bergaya arsitektur Eropa klasik ini sudah saatnya direvitalisasi agar menjadi wilayah cantik, tidak lagi kumuh. Karena sesungguhnya wilayah ini menyimpan pesona sangat kuat menjadi destinasi wisata Semarang yang unik dan ikonik.

Sejarah Koloniale Tentoonstelling
Poster-poster dinding pada area pameran ruang terbuka di sebelah barat Gereja Blenduk mengkisahkan bahwa Koloniale Tentoonsteling adalah sebuah expo kelas dunia yang diadakan di Semarang pada tahun 1914. Event ini dianggap sebagai Worlds Fair pertama di belahan bumi selatan yang meraih sukses besar.

Colonial Exhibition Semarang 1914

Colonial Exhibition Semarang 1914

Untuk menyambut hajatan akbar ini kota Semarang berbenah. Diantaranya adalah membangun 2 stasiun besar yaitu Tawang dan Poncol, stasiun trem di Jurnatan diperbaharui. Bahkan didaerah Candi, kawasan perbukitan di selatan Semarang yang sering disebut sebagai Semarang atas dibangun hotel.

Penyelenggaraan Koloniale Tentoonstelling berlangsung dari tanggal 20 Agustus 1914 sampai 22 November 1914, berlokasi di daerah Mugas (sebelah barat Simpang Lima Semarang). Menempati lahan seluas 26 hektar milik seorang konglomerat paling kaya pada masa itu, yaitu Oei Tiong Ham. Tujuan utama acara ini sebenarnya adalah sarana untuk menunjukkan eksistensi pemeriantah Hindia Belanda atas prestasi yang telah dicapai di koloni jajahannya.

Di sisi lain, gaung internasional dari acara ini juga dimanfaatkan para pejuang kemerdekaan kita untuk menyelipkan propaganda untuk mengkritisi kolonialisme pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. RM. Seperti Suwardi Suryaningrat atau yang lebih populer dipanggil Ki Hajar Dewantara mempublikasikan sebuah tulisan di harien De Express dengan judul Als Ik Een Nederlander Was yang artinya Andai Aku Seorang Belanda.

Andai Aku Seorang Belanda:
Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu! Kalau aku seorang Belanda, apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama adaialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun. (Ki Hajar Dewantara)

Napak Tilas di Tahun 2014
Salah satu acara khusus untuk memperingati Koloniale Tentoonstelling yang berlangsung tahun 1914 ini adalah Pameran De Vrouw yang diadakan di Galeri Semarang (Contemporary Art Gallery). De Vrouw yang diterjemahkan sebagai perempuan, adalah salah satu paviliun peserta pameran Koloniale Tentoonstelling 100 tahun lalu yang membawa pesan kemandirian kaum wanita atau feminisme. Di Pasar Malam Sentiling 2014 De Vrouw kembali tampil dengan format berbeda, namun tetap membawa spirit yang sama.

Penunjuk arah: Festival Kota Lama 2014

Penunjuk arah: Festival Kota Lama 2014

Lokasi Festival dibagi menjadi beberapa area. Lokasi terdepan di sepanjang jalan Let. Jend. Suprapto (sebelah selatan Taman Srigunting) berdiri panggung utama untuk pertunjukan musik, dan lokasi kuliner jalanan yang terlihat asyik dangan hamparan meja-meja dan kursi-kursi kayu di tata sepanjang jalan di tempat terbuka.

Di sepanjang jalan menuju area Kampoeng Jawa dan Kampoeng Belanda yang berada di sisi sebelah utara, berdiri lapak-lapak para pedagang barang antik yang tergabung pada Komunitas Klithikan Antik Kota Lama (Koka Kola) Semarang.

Suasana Kampoeng Jawa, Festival Kota Lama 2014

Suasana Kampoeng Jawa, Festival Kota Lama 2014

Di Kampoeng Jawa maupun Kampoeng Belanda terdapat panggung pentas kesenian yang berukuran lebih kecil dari panggung utama. Namun kualitas group-group musik yang tampil tidak kalah menarik dengan panggung utama. Antara lain penampilan OK Karie Munie di panggung Kampoeng Jawa dan Avicustic di panggung Kampoeng Belanda. Kedua group yang selalu menggunakan instrumen musik akustik ini mampu menarik perhatian pengunjung dengan ciri khas musik mereka masing-masing.

Penampilan Avicustik di panggung Kampoeng Belanda

Penampilan Avicustik di panggung Kampoeng Belanda

Sebuah lagu lawas ciptaan Ismail Marzuki pada tahun 1939 berjudul Bunga Anggrek, dinyanyikan mendayu-dayu apik dalam versi lagu bunga anggrek dalam bahasa Belanda (Als de Orchideen Bloeien) oleh Avicustic. Group musik akustik ini cukup pintar untuk menarik perhatian penonton untuk setia berdiri di depan panggung. Dari irama lambat kemudian berganti menyajikan lagu Anoman Obong yang berirama rancak, sehingga menjadi tontonan yang tidak membosankan.

keroncong-karie-munie-festival-kota-lama-2014Di Kampoeng Jawa, Orkes Keroncong Karie Munie tak mau kalah. Group musik yang berawal dari pelayanan umat di Gereja ini menampilkan lagu-lagu berirama keroncong modern yang asyik dinikmati. Bahkan si Nok anak saya (klas 3 SD)  yang sebelumnya tidak pernah mengenal lagu keroncong ikut asyik mendengarkan lagu Gambang Semarang dan Juwita Malam yang di tampilkan atraktif.

Selain panggung musik, pengunjung juga dimanjakan dengan kuliner yang sangat beragam. Di Kampoeng Jawa disajikan menu-menu makanan ala Jawa dari beberapa hotel seperti hotel Dafam , Hotel Pandanaran dan lain-lain. Demikian pula restoran-restoran terkenal seperti mbak Jingrak dan Indah Sari juga menawarkan menu-menu andalan mereka.

Suasana Kampoeng Belanda, Festival Kota Lama 2014

Suasana Kampoeng Belanda, Festival Kota Lama 2014

Di Kampoeng Belanda khusus menyajikan menu kuliner ala Eropa. Stand yang berdiri di sana seperti Resto Pesta Keboen dan tentu saja Toko Oen yang sangat legendaris di Semarang. Toko Oen merupakan salah satu restoran tertua di Semarang (sejak tahun 1910) yang masih berdiri hingga sekarang.

Di arena Pasar Sentiling ini juga diberlakukan “mata uang kota lama” sebagai alat pembayaran yang shah. Kita harus menukar terlebih dahulu uang kita dengan mata uang kota lama. Satu rupiah uang kota lama senilai Rp 1000,- Mata uang yang hanya berlaku 3 hari ini tidak saja unik sebagai alat tukar di lokasi. Namun juga menarik untuk dikoleksi.

Alat pembayaran di Festival Kota Lama 2014

Alat pembayaran di Festival Kota Lama 2014

Upaya-upaya membangkitkan roh Kota Lama yang dilakukan oleh Oens Semarang Fondation, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan komunitas-komunitas yang peduli pada warisan sejarah bangsa ini denga agenda-agenda menarik seperti ini pantas untuk diapresiasi.

Festival Kota Lama 2014 ini adalah penyelenggaraan ke 3 kalinya. Ada beberapa hal yang mungkin bisa terus diperbaiki di penyelenggaraan tahun berikutnya. Ada seorang sahabat yang mengungkapkan kekecewaannya, kenapa panggung seni lebih banyak diisi pentas musik yang jauh dari eksotisme kawasan tempo dulu. Malahan lebih banyak ditampilkan musik-musik berirama keras yang tidak sekirama dengan atmosfir tempo dulu yang ingin diciptakan. Akan lebih baik jika panggung hanya menampilkan musik-musik semacam Avicustik, Orkes Keroncong Karie Munie atau musik dan atraksi kesenian tradisional lain yang memberikan warna tradisi yang lebih menguatkan kesan klasik.

 


Share :

2 thoughts on “Festival Kota Lama 2014, Pasar Malam Sentiling

  1. Dunia Ely

    seru ya mas festivalnya, sayang nggak lagi ada di tanah air, karena dekat sama kampung halamanku tempat festivalnya

    mangKoko says:
    Betul mbak … sangat seru, mengundang minat masyarakat dalam negeri maupun para turis dari manca negara. Festival ini rencananya akan diadakan secara rutin setahun sekali di sekitar bulan September.
    Jadi siapa tahu saat pulang kampung pas dengan event ini
    :-)

    Reply
  2. Cauchy Murtopo

    Tiap daerah mempunyai tradisi unik tersendiri. Ini akan menambah indahnya warna-warni budaya daerah. Tradisi dan budaya daerah harus kita lestarikan. Salah satu tradisi unik tersebut terdapat di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, yaitu Telur Seroja.

    Pada ulang tahun Kota Pangkalpinang yang ke-257 pada Selasa (30/09/2014) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang menggelar Festival Telur Seroja. Apa itu telur seroja? Baca informasinya pada tautan berikut ini: (cauchymurtopo.wordpress.com/2014/10/01/indahnya-warna-warni-di-festival-telur-seroja-pangkalpinang)

    mangKoko says:
    Sangat setuju bro!, baru tahu ada Festival Telor Seroja. Segera meluncur ke sana
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.