Anoman Obong, Kumbakarna Gugur, dan Api Suci Shinta

By mangkoko : last updated 14 Apr 2016

Anoman Obong (Hanuman Obong) adalah segmen cerita paling menarik dari pementasan kisah Ramayana di Teater Terbuka Candi Prambanan. Adegan saat Hanuman di bakar hidup-hidup menjadi klimaks seluruh rangkaian pertunjukan. Dalam pementasan wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit. Kisah si kera sakti yang tak mempan dibakar, malah ganti membakar dan mengobrak-abrik kerajaan Alengka menjadi salah satu cerita favorit yang sering dipantaskan.

Hanuman membakar negeri Alengka

Hanuman membakar negeri Alengka

Pada bagian pertama: Kisah Cinta Rama dan Shinta, telah diceritakan sampai Hanuman sebagai utusan Rama telah bertemu dengan Shinta di Taman Argasoka. Dan memastikan Shinta dalam keadaan selamat.

Setelah selesai dengan urusannya menemui Shinta, Hanuman tidak segera pergi untuk melapor kepada Rama, namun sengaja membuat huru hara di kerajaan Alengka dengan merusak keasrian Taman. Dia pengin menjajagi sejauh mana kekuatan angkatan perang Alengka. Rahwana sangat marah mendengar huru-hara ini dan Hanuman-pun akhirnya tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana.

Rahwana bermaksud membunuh Hanuman, namun dicegah oleh Kumbakarna. Rahwana tampaknya tidak suka dengan tingkah Kumbakarna, sehingga diusirlah sang adik dari Kerajaan Alengka. Hanuman tetap dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup.

Membakar hidup-hidup Hanuman ternyata bukan tindakan yang tepat, karena ternyata malahan menjadi malapetaka bagi Alengka. Sang kera putih bukannya mati terbakar, namun merajalela menggunakan api yang berkobar pada tubuhnya untuk membakar kerajaan Alengka. Bahkan dia berhasil melarikan diri dan melaporkan peta kekuatan angkatan perang Alengka kepada Rama Wijaya.

Singkat cerita, terjadilah perang besar di Alengka. Rama dengan bala tentara pasukan para kera menyerbu Alengka. Sedangkan para raksasa bala tentara Alengka menahan serbuan para kera sakti dengan gagah berani pula.

Pada pementasan Sendratari Ramayana, adegan peperangan ini diramu dengan koreografi sangat apik. Dimainkan oleh para penari profesional yang tahu benar bagaimana menampilkan olah tari yang enak ditonton.

Gerak tubuh adalah bahasa universal. Mereka tampaknya berhasil mengeksploitasi keunggulan itu menjadi tontonan yang mudah dicerna oleh siapapun. Baik orang dewasa maupun anak-anak. Bahasa verbal tak lagi menjadi halangan untuk menikmati pertunjukan. Banyak wisatawan asing yang terkagum-kagum menyaksikan gerakan tari yang lincah dan padu. Bahkan juga memantik syaraf tawa saat adegan tari lucu para denawa dan bala tentara kera yang dimainkan para penari anak-anak.

Tarian perang bala tentara Alengka yang sering memantik syaraf tawa

Tarian perang bala tentara Alengka yang sering memantik syaraf tawa

Kumbakarna Gugur
Di tengah medan perang yang dahsyat, tersebutlah kehebatan Kumbakarna yang turut berperang membela negara Alengka. Karakter sang adik Rahwana ini sangat menarik untuk disimak. Meskipun berwujud raksasa jelek, kasar dan posturnya tinggi besar, namun sesungguhnya Kumbakarna adalah pribadi yang jujur, bijaksana dan memiliki jiwa nasionalisme yang mengagumkan.

Dia tahu benar bahwa tindakan Rahwana sang kakak tidak benar. Bahkan dia berusaha selalu mengingatkan, meskipun tidak pernah digubris Rahwana.

Karena negeri Alengka tanah tumpah darah-nya diserang musuh, jiwa nasionalisme Kumbakarna terketuk. Dia berdiri di barisan terdepan untuk membela tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan.

Kisah perang tanding antara Rama dengan Kumbakarna ini sungguh unik. Keduanya mati-matian mempertahankan keyakinan akan kebenaran masing masing, namun dibalik itu keduanya saling menaruh simpati dan rasa hormat pada sang lawan. Kumbakarna menyadari bahwa Rama benar karena berjuang menyelamatkan isterinya, dilain pihak Rama juga mengagumi keteguhan Kumbakarna yang membela tanah airnya mati-matian, bukan membela Rahwana sang angkara murka.

Dikisahkan betapa Rama harus bertarung sangat keras untuk mengalahkan Kumbakarna. Saat kedua tangannya telah terpotong, Kumbakarka masih mampu berperang dengan kakinya yang berukuran raksasa menginjak-injat baletentara kera. Kemudian Rama memotong kedua kali Kumbakarna, namun dia maih tetap berperang dengan menggelindingkan tubuhnya yang luar biasa besar. Namun akhirnya Kumbakarna gugur sebagai pahlawan bangsa setelah terkena panah sakti Rama.

Mengantar kepergian arwah Kumbakarna, sang pahlawan

Mengantar kepergian arwah Kumbakarna, sang pahlawan

Api Suci Shinta
Di Taman Argasoka yang belum tersentuh kedahsyatan peperangan yang ada di sekitarnya, Shinta terus menolak bujuk rayu Rahwana. Namun ketika Rahwana menunjukkan potongan kepala Rama dan Laksmana, dia jatuh pingsan. Mengetahui kejadian ini, Trijata marah kepada Rahwana, dia tahu itu semua hanyalah siasat licik Rahwana, karena sesungguhnya Rama dan Laksmana masih berperang di luar taman.

“Jika engkau laki-laki jantan, bukan pengecut, bawalah kepala Rama dan Laksmana yang asli, bukan membuat tipu muslihat licik seperti itu!”, hardik Trijata kepada Rahwana.

Dengan rasa malu dan marah yang ditahan, Rahwana segera pergi menuju medan perang. Suasana peperangan sudah berat sebelah. Kekalahan Alengka sudah diujung tanduk. Kumbakarna telah gugur, demikian pula sebagian balatentanya sudah terluka dan kepayahan.

Rahwana akhirnya berhadapan langsung dengan Rama. Rahwana sendiri adalah seorang yang sangat sakti sehingga tidak mudah bagi Rama untuk mengalahkannya. Bahkan dia juga dijuluki Dasamuka, yang artinya bermuka sepuluh, dan sering diinterpretasikan dengan bernyawa rangkap 10, sehingga sangat sulit untuk dibinasakan. Namun dengan bantuan Hanuman akhirnya Rahwana binasa, tubuhnya tetancap anak panah sakti Rama dan Hanuman menghimpitnya dengan gunung Sumawana.

Perang tanding sengit antara Rama dan Rahwana

Perang tanding sengit antara Rama dan Rahwana

Dengan kematian Rahwana berakhir pula perlawanan balatentara Alengka. Rama dapat bertemu kembali dengan sang isteri tercinta. Namun ternyata kisah kehidupan belum lagi berakhir, menyisakan ganjalan di hati Sang Rama. Timbul perasaan ragu akan kesucian sang isteri setelah tinggal cukup lama ditawan di negeri Alengka.

Ini adalah episode ujian ketegaran diri seorang wanita. Yang diragukan kesucian dan sesetiaannya oleh sang suami tercinta. Untuk membuktikan itu semua, Shinta rela masuk ke dalam api yang membara. Mirip seperti kisah Ibrahim dalam risalah kenabian, Shinta-pun tidak terbakar oleh api yang berkobar. Sekaligus membuktikan akan kesuciannya sebagai seorang wanita mulia.

Spirit Ramayana
Ramayana adalah epos yang bisa sangat panjang diceritakan. Berbagai macam karakter tokoh ada di dalamnya. Bukan sekedar bertutur  tentang baik-jahat, atau hitam-putih belaka. Banyak warna-warni kehidupan manusia dipotret disana. Ada kejahatan, kelicikan, tipu muslihat namun diluar itu ada pula ketinggian budi meskipun berada di sisi antagonis seperti tercermin pada diri Kumbakarna dan Trijata.


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.