Kampung Naga: Sebuah Tuntunan Bukan Tontonan

By Nunuz : last updated 04 Sep 2016

Apa yang pertama kalian bayangkan ketika akan bepergian ke suatu perkampungan tradisional?

Saya selalu membayangkan penduduk yang ramah, perkampungan yang asri dengan rumah-rumah panggung yang tersusun berjajar layaknya orang sedang berbaris. Saya juga membayangkan undak-undakan sawah yang menghijau seperti permadani. Tatanan adat yang terpelihara dan sesekali perkampungan ramai lantaran ada upacara adat.

Kampung Naga yang sepi

Kampung Naga yang sepi

Sehari setelah Natal di tahun 2015, saya dan kedua adik saya berkesempatan mengunjungi salah-satu perkampungan tradisional di Tasikmalaya. Kampung Naga namanya, sebuah kampung yang terletak tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Garut dengan Tasikmalaya. Jika dari arah Garut, kita akan mendapati pintu masuk Kampung Naga di sisi sebelah kiri.

Saat memasuki area parkir, kami disambut oleh sebuah tugu yang diatasnya terdapat Kujang, senjata khas Sunda. Di tempat ini juga kita bisa mencari pemandu untuk menemani berkeliling Kampung Naga. Sebenarnya tanpa pemandu pun kita bisa berkeliling Kampung Naga. Akan tetapi, kami memilih untuk menggunakan jasa pemandu, agar mudah jika ingin bertanya ini dan itu.

Lanscape Kampung Naga di Jawa Barat

Lanscape Kampung Naga di Jawa Barat

Kami menuruni lebih dari empat ratus anak tangga dan berjalan membelah sawah untuk bisa sampai ke Kampung Naga. Untuk memasuki area kampung, kami tak dipungut biaya tiket sepeser pun. Selama berkeliling di Kampung Naga kami di damping oleh seorang pemandu. Beliau bercerita banyak tentang kampung ini.

Masyarakat Kampung Naga menolak perkampungannya dijadikan tempat wisata. Sebab kampung adat bukan merupakan tontonan melainkan tuntunan.

Sepertinya saya setuju dengan pendapat tersebut. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari tempat semacam ini.

Nama Kampung Naga sendiri berasal dari kata Nagawir yang artinya sebuah kampung yang di kelilingi tebing. Perkampungan ini dihuni oleh Suku Sunda. Mereka mendiami area seluas 1,5 hektar yang terbagi menjadi area pemukiman, lahan pertanian, hutan larangan, dan hutan kramat. Area pemukiman hanya mampu menampung 110 rumah hunian dan tiga bangunan lainnya berupa masjid, ruang serbaguna dan lumbung padi. Selain itu, ada tiga area yang tidak boleh difoto di dalam kampung ini, yaitu Bumi Ageung, Pangleuitan, dan Patilasan.

Rumah-rumah di Kampung Naga dibangun berjajar saling berhadapan, menghadap utara dan selatan secara seragam. Setiap rumah memiliki dua pintu, yaitu pintu depan yang terbuat dari kayu dan pintu dapur yang terbuat dari kayu dan setengah anyaman bambu. Atap rumah terbuat dari rumbia. Di bawah rumah panggung tersebut, terutama bagian dapur digunakan sebagai kandang ayam.

Kolam kolam milik masyarakat Kampung Naga

Kolam kolam milik masyarakat Kampung Naga

Saat ini sebanyak 300 orang tinggal di kampung ini, sedangkan sisanya mereka tinggal di luar Kampung Naga. Rata-rata mereka yang tinggal di luar Kampung Naga adalah kaum laki-laki dengan membawa serta istri dan anak-anak mereka. Sebab hak waris dari rumah yang berada di Kampung Naga jatuh pada anak perempuan.

Kalau dalam istilah Sunda “Awewe mah pondok langkah na” yang artinya “Perempuan pendek langkahnya” begitu kata Pak Darmawan

Masyarakat Kampung Naga beragama Islam, agama ini masuk pada abad ke 14. Selain itu, mereka juga masih memegang tradisi leluhur. Mereka juga memiliki susunan lembaga adat yang terdiri dari Kuncen, Pemangku Adat, Labe Adat Kematian, Punduh Adat Kemasyarakatan (untuk ada acara adat). Kesemua susunan lembaga adat masih berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam menjalankan kesehariannya, mereka berpegang pada falsafah hidup yang diwariskan turun temurun. Tiga falsafah hidup tersebut yaitu amanah, wasiat, dan akibat. Mereka percaya bahwa sesuatu yang dititipkan dan diperintahkan leluhurnya harus mereka amalkan, jika tidak mereka akan mendapat akibat yang tidak mereka harapkan.

Kondisi dapur salah satu rumah di Kampung Naga

Kondisi dapur salah satu rumah di Kampung Naga

Ketika saya bertanya asal muasal leluhur kampung ini, Pak Darmawan menjelaskan bahwa buku-buku dan sumber sejarah mengenai mereka dibakar sekitar tahun 1956, saat penyerangan oleh DITII. Sejarah asalnya Kampung Naga “Pareum obor” dalam istilah Sunda. Yang tak lain berarti kehilangan sejarah dan jejak masa lalunya. Namun demikian, hanya tradisi-tradisi leluhur yang mereka jalankan terus diturunkan.

Tradisi-tradisi tersebut diantaranya mengunjungi makam leluhur di hutan kramat, menikah tidak di bulan sapar, tidak membawa bayi keluar rumah sebelum empat puluh hari, menanam padi dua kali dalam setahun, melaksanakan upacara mauran saat panen padi, memasang sawen (tolak bala) di pintu rumah saat bulan muharam, tidak memasuki hutan larangan dan mengambil apapun dari sana, serta tidak melaksanakan acara adat di hari selasa, rabu dan sabtu.

Tanah lapang diantara pemukiman ruang serba guna dan Mesjid

Tanah lapang diantara pemukiman ruang serba guna dan Mesjid

Sambil berkeliling perkampungan, saya tak henti mendapat penjelasan mengenai kampung ini. Kampung yang mayoritas penduduknya bertani, membuat peralatan rumah tangga dari anyaman bambu. memelihara ikan di kolam, dan ayam di kolong rumah panggungnya. Perkampungan yang tak akan kekurangan air karena di sebelah sisinya mengalir Sungai Ciliwung. Perkampungan yang berhasil mempertahankan minyak tanah dengan harga yang relatif murah karena menolak kebijakan konversi bahan bakar ke gas.

Saya juga bertanya mengenai pendidikan yang bisa ditempuh masyarakat sana pada Pak Darmawan. Menurut beliau, aturan adat mereka membolehkan masyarakatnya memperoleh pendidikan formal. Hingga mayoritas masyarakat disana rata-rata berpendidikan SMP dan SMA. Bahkan ketika turis asing mulai masuk ke daerah mereka di tahun 1987an, beberapa mereka lantas bergegas belajar bahasa asing agar bisa memandu turis-turis tersebut dan memberi informasi yang lebih akurat. Termasuk bapak yang mengantar kami ini, yang mulai bisa memandu turis asing di tahun 1991an.

Penjual souvenir Kampung Naga

Penjual souvenir Kampung Naga

Berkeliling Kampung Naga bersama pemandu, memperjelas bahwa pada hakikatnya kampung tradisional bukan hanya untuk tontonan semata karena keeksotisannya. Tapi lebih dari itu, mengetahui lebih banyak bagaimana keseharian masyarakatnya bahkan falsafah hidupnya, harusnya membuat kita sadar. Kita bisa belajar banyak dari mereka. Belajar untuk jadi manusia yang lebih baik, yang menempatkan alam semesta bukan  sebagai warisan melainkan titipan dan wasiat dari leluhur untuk generasi berikutnya. Selain itu, kita juga bisa belajar berterimakasih pada alam yang telah memberi kita penghidupan.


nunuz-pict
Penulis tamu (kontributor): Eneng Nunuz Rohmatullayaly

Penggemar warna oranye, yang jatuh cinta dengan gunung dan kebudayaan ini bisa ditemui di blog-nya: Kelanaku.com


 


Share :

2 thoughts on “Kampung Naga: Sebuah Tuntunan Bukan Tontonan

  1. rohmat

    mirip dengan suku baduy yang ada di banten, tapi suku naga ini sedikit lebih moderen, apakah ada keterkaitan antara suku baduy dan suku naga ini?

    Reply
  2. nengnunuz_

    Memang sedikit mirip, namun banyak perbedaan diantara mereka.
    Kalau terkait atau tidak satu sama lain, saya kurang tahu.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.