Nonton Wayang Potehi di Pecinan Semarang

By mangkoko : last updated 04 Nov 2015

Wayang Potehi adalah wayang khas budaya Tionghoa (dari negeri China) yang sampai saat ini masih bertahan di negeri Nusantara. Bentuknya mirip seperti Wayang Golek Sunda, namun berukuran lebih kecil. Disebut pula sebagai wayang kantong, Poo artinya kain, Tay adalah kantong, dan Hie berarti wayang. Sehingga kata Poo Tay Hie (dimudahkan ucapannya sebagai Potehi) berarti wayang kantong dari kain. Cara memainkannya: tangan sang dalang masuk ke dalam boneka wayang.

Biasanya pertunjukan wayang Potehi dimainkan oleh dua orang dalang. Terdiri dari dalang utama dan dalang pendamping, masing-masing memainkan dua sosok wayang. Alat musik yang digunakan terdiri dari tetabuhan semacam simbal yang disebut gembreng besar (Toa Loo) dan gembreng kecil (Siauw Loo), kayu silindris (Piak Ko), suling (Bien Siauw), rebab (Hian Na), tambur (Tong Ko), dan slompret atau terompet (Thua Jwee). Masing-masing pemain musik bisa memainkan lebih dari satu alat musik.

Wayang Potehi (credit image pada iidmarsanto.wordpress.com)

Wayang Potehi (credit image pada iidmarsanto.wordpress.com)

Saya menyaksikan pertunjukan langsung (live) wayang potehi saat berlangsung Pasar Imlek Semawis 2015 (4-7 Februari 2015) yang diselenggarakan di daerah Pecinan Semarang, tepatnya di sepanjang Jl. Wotgandul Timur. Pasar Imlek Semawis adalah agenda budaya yang rutin di gelar setahun sekali menjelang perayaan tahun baru China di kota Semarang.

Dari sisi pertunjukan, wayang potehi sebenarnya kurang menarik disaksikan. Ukuran wayang relatif kecil, dimainkan di panggung yang juga kecil apalagi posisinya cukup tinggi di atas ketinggian kepala manusia rata-rata. Sehingga untuk menyaksikan dari dekat harus mendongak ke atas, tidak nyaman. Bila menyaksikannya agak sedikit menjauh, akibatnya tidak jelas terlihat karena bidang panggung dan sosok wayang yang terlihat kecil. Konon memang pertunjukan wayang potehi bukan untuk konsumsi manusia, Tetapi sebagai sarana ritual untuk memuja dan menghibur para dewa dan roh leluhur. Sehingga memang tidak mementingkan kenyamanan penonton manusia.

Tan Kahee Swie (74 tahun) adalah salah satu dari sedikit dalang wayang potehi di Semarang. Dibantu oleh Thio Hauw Lie (40 tahun) sebagai pendamping dalang, mereka berdua memantaskan lakon “Ngoho Peng Tse” (Lima Harimau Sakti) selama 4 hari secara berseri di Pasar Imlek Semawis 2015. Pertunjukan wayang potehi biasanya memang berseri, sehingga untuk menuntaskan sebuah cerita bisa mamakan waktu sampai beberapa minggu.

Asal Mula Wayang Potehi
Konon wayang potehi diciptakan oleh 5 orang terpidana mati pada jaman dinasti Tsang Tian. Atas inisiatif salah satu dari 5 orang tersebut, mereka mencoba menghibur diri, melupakah kesedihan menunggu saat eksekusi mati, dengan membuat wayang dari kain seadanya dan memainkannya. Alat musik pengiringnya juga dari barang-barang rumah tangga seadanya yang ada di penjara seperti tutup panci, baskom dan barang-barang lain yang dapat dimanfaatkan sebagai tetabuhan.

Kreativitas dari 5 orang yang telah pupus harapain ini ternyata membuahkan sajian pertunjukan yang dianggap menarik pada masa itu. Sehingga sang penguasa tertarik dan mengundang mereka untuk melakukan pementasan di istana. Tentu saja kesempatan emas ini tidak mereka sia-siakan. Dengan cerdik mereka sengaja mementaskan lakon tentang sang raja itu sendiri. Bercerita tentang kabaikan dan kebijaksanaan raja Tioe Ong. Kehebatan mereka bercerita dan memainkan wayang membuat sang raja terkesan. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya kelima narapidana tersebut diampuni, dibebaskan dari hukuman mati.

Panggung wayang potehi di Pasar Imlek Semawis 2015

Panggung wayang potehi di Pasar Imlek Semawis 2015

Entah sampai kapan wayang potehi akan sanggup bertahan. Jika ditilik tujuan utamanya sebagai sebuah rutual, bisa jadi akan terus dipentaskan. Yang menjadi kekhawatiran adalah: para dalang yang masih bertahan sampi saat ini rata-rata telah cukup uzur, dan tampaknya sangat sulit mencari generasi penerus yang mau meneruskan estafeta sang leluhur. Mengingat profesi sebagai dalang wayang potehi memang tidak manjanjikan penghidupan yang menarik (secara ekonomi) bagi generasi muda terutama warga keturunanTionghoa.

Semoga saja akan terus bertahan, memperkaya khasanah budaya bangsa.

Ref:
– Mempertahankan Kemakmuran, Harian Suara Merdeka, Kamis 26 Februari 2015
– Arsipbudayanusantara.blogspot.nl/2013/06/wayang-potehi.html
– Iidmarsanto.wordpress.com
– Cakpii.co.uk/wayang-potehi-sepi-di-keramaian


Share :

One thought on “Nonton Wayang Potehi di Pecinan Semarang

  1. Gamat

    Infonya sangat menarik dan bermanfaat, mang koko mau tanya apakah di kelenteng samphokong diadakan juga pertunjukan wayang petehi, saya beberapa kali ke sana kok ga ada ya pertunjukan budayanya. thks

    mangKoko says:
    Sepanjang yang saya tahu, wayang Potehi dipentaskan pada event2 tertentu saja, termasuk di Sam Po Kong.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.