Perang Topat: Saat Perbedaan Itu Indah

By Nunuz : last updated 09 Jun 2016

Gong ditabuh, suara beberapa alat musik mengalun merdu dengan tempo yang tidak terlalu cepat namun dengan ritme yang harmonis. Satu persatu orang keluar dari Pura Kemaliq membawa sesuatu di atas kepala mereka sejenis banten atau sesaji. Mereka berjalan meniti tangga dan masuk ke area belakang panggung. Prosesi dilanjutkan dengan berhenti sejenak, diselingi persembahan tari-tarian tradisional.

pembawa-sesaji-berpakaian-adat-suku-sasak-lombok-600

Pembawa sesaji berpakaian adat suku Sasak

Saat mereka berhenti, saya dapat melihat dengan seksama sesaji-sesaji apa yang mereka bawa di atas kepala. Ada bunga-bungaan, buah-buahan: pisang, kelapa, hasil pertanian, kendi air, makanan, dan tak ketinggalan ketupat. Sesaji-sesaji dibawa oleh para wanita. Sedangkan para pria membawa tongkat, payung-payung besar, serta alat musik yang mereka mainkan.

Para wanita pembawa sesaji berpakaian aneka macam. Ada yang menggunakan kebaya, pakaian khas suku Sasak, dan ada pula yang mengenakan jilbab. Pakaian para pria umumnya mengenakan sarung dan ikat kepala. Beberapa dari mereka menggunakan pakaian perang, seperti layaknya prajurit yang akan bertempur.

Sebelum perang topat dumulai, diawali dengan pertunjukan budaya tradisional seperti: tari bala anjani dan presean. Rombongan ini berjalan menuku Pura Kemaliq. Cukup lama prosesi yang terjadi di dalamnya, hingga mereka keluar dari dalam Pura dengan membawa baki-baki berisi ketupat.

Ketupat sebagai amunisi Perang Topat

Ketupat sebagai amunisi Perang Topat

Para pria segera bersiap mengatur posisi, bahkan ada yang sampai naik ke atas pagar-pagar Pura. Sebagian lagi mengatur diri diposisi yang siap menyerang. Tak sedikit mereka mendekat ke arah panggung dimana lemparan ketupat pertama akan dilakukan.

Saat baki ketupat sampai di panggung, kegaduhan pun dimulai. Ketupat demi ketupat mulai beterbangan. Mereka saling melempar satu sama lain di kutub yang berlainan. Mereka menyerang satu sama lain dengan diselingi canda dan tawa. Alih-alih menjauh, mereka malah semakin mendekat ke arah datangnya ketupat. Mereka berebut untuk mendapatkan ketupat tersebut. Melemparnya kembali atau bahkan beberapa dari mereka sengaja menyimpannya.

Mereka percaya, jika ketupat itu disimpan di toko maka jualannya akan laris. Atau jika disebar di sawah maka tanaman padi akan tumbuh subur. Ketupat tesebut menjadi simbol keberkahan.

Pembawa persembahan untuk tradisi Perang Topat

Pembawa persembahan untuk tradisi Perang Topat

Saya turut asyik mengikuti perang topat ini. Hingga pada saat ketika sebuah telur melayang dan mendarat tepat sepuluh sentimeter didepan saya, saya jadi bergidik. Dari dalam telur terlihat embrio ayam tergeletak ditanah, dan bau busuk menyeruak menusuk hidung. Ternyata amunisi perang tak hanya ketupat, tetapi juga telur busuk … hii.

Saya jadi tersadar, ternyata sedang berada di medan perang. Meski tak mematikan, amunisi senjata yang barusan mendarat cukup menjijikan. Namun uniknya: kegembiraan terpancar dari wajah semua orang. Dan persatuan, sangat kentara menjadi spirit di dalamnya.

“Perang topat mungkin satu-satunya perang yang harus tetap dilestarikan.”

Menurut sejarahnya, perang topat merupakan salah satu ritual dalam prosesi upacara Pujawali. Pujawali sendiri sebenarnya salah satu upacara yang biasa dilakukan umat Hindu seperti halnya di Bali maupun di India. Namun, Perang topat sendiri dilakukan tak hanya oleh umat Hindu di Lombok, melainkan mereka yang beragama Islam pun mengikutinya, terutama Islam Wetu Telu.

Rombongan pemain musik untuk mengiringi tradisi Perang Topat

Rombongan pemain musik untuk mengiringi tradisi Perang Topat

Tradisi parang topat merupakan ritual unik masyarakat Pulau Lombok yang notabene dihuni oleh masyarakat yang beragama Hindu dan Islam, untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama.

Perang topat bisanya di gelar bulan Desember setiap tahunnya atau bulan purnama ke tujuh dalam penanggalan Suku Sasak.

Perang topat biasa dilakukan pada sore hari di Pura Lingsar. Mereka menyebutnya “rarak kembang waru” (waktu gugur daun pohon waru). Pura Lingsar sendiri merupakan salah satu komplek pura terbesar di Lombok, yang berlokasi di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada.

“Pura Lingsar dianggap paling suci di Lombok dan merupakan simbol kerukuanan umat beragama, terutama untuk umat Hindu dan Islam. “

Di bagian dalam Pura Lingsar terdapat Pura Kemaliq dan Pura Gaduh. Pura Kemaliq dianggap suci bagi umat Islam Sasak. Sedangkan Pura Gaduh merupakan pura yang disucikan oleh umat Hindu di Lombok.

Keriuhan pengunjung menyaksikan Perang Topat dari dekat

Keriuhan pengunjung menyaksikan Perang Topat dari dekat

Melihat tradisi perang topat ini saya jadi berandai-andai: jika segala sesuatunya menjadi seragam, tanpa ada perbedaan tradisi, budaya, maupun keyakinan, apakah tradisi-tradisi unik seperti ini akan ada?

Sungguh, negeri kita kaya akan keberagaman, baik suku, agama, bahkan juga warna kulit. Perbedaan-perbedaan itu yang justru melahirkan tradisi yang unik. Seperti yang saya saksikan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Cukuplah di sekolah saja yang berseragam. Biarkan diluar itu terjadi keberagaman. Karena ternyata: berbeda itu indah.


nunuz-pict
Penulis tamu (kontributor): Eneng Nunuz Rohmatullayaly

Penggemar warna oranye, yang jatuh cinta dengan gunung dan kebudayaan ini bisa ditemui di blog-nya: Kelanaku.com


 


Share :

One thought on “Perang Topat: Saat Perbedaan Itu Indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.