Sendratari Ramayana, Mister Bean dan Charlie Chaplin

By mangkoko : last updated 06 Oct 2016

Saat asyik menyaksikan petunjukan Sendratari Ramayana di Teater Terbuka Candi Prambanan, angan saya melayang (bagaikan de javu) nonton Mister Bean di dalam kabin Lufthansa dalam perjalanan panjang Jakarta ke Frankfrurt beberapa tahun silam. Orang-orang dari berbagai bangsa tertawa bareng menyaksikan kekonyolan adegan yang ditampilkan. Meskipun hampir tidak pernah terdengar sepatah katapun dari mulutnya, sang Tuan Kacang mampu menghibur dengan bahasa tubuh yang memang universal, mudah dipahami oleh semua orang dari berbagai bangsa yang berbeda budaya dan bahasanya.

Apa persamaan antara Ramayana Ballet, Mr. Bean dan Charlie Chaplin ?

Apa persamaan antara Ramayana Ballet, Mr. Bean dan Charlie Chaplin ?

Demikian pula Ramayana Ballet atau Sendratai Ramayana. Meskipun hanya sebuah pertunjukan tradisional Jawa dalam format drama tari, dan dengan narasi dalam bahasa Jawa pula, namun bisa dinikmati oleh siapapun. Terbukti para turis asing dari berbagai belahan dunia yang malam itu datang menyaksikan, terlihat asyik menikmatinya. Tanpa kesulitan dengan bahasa pertunjukan yang tidak dia mengerti. Sebuah sendratari memang lebih menonjolkan bahasa tubuh atau gerak tari dibanding bahasa lisan.

Bila dunia tahu akan Festival Ramayana ini, para pengunjung tentu akan datang berbondong-bondong ke Indonesia. Akan saya ceritakan kepada dunia, bahwa di Jawa Tengah terdapat kesenian yang mengagumkan yang membuat saya amat terkesan.
(Charlie Chaplin)

Apa persamaan antara Sendratari Ramayana, Mr. Bean dan Charlie Chaplin?
Ketiganya adalah pertunjukan yang universal dapat dinikmati oleh siapapun, melintas batas bangsa, negara dan bahasa, bahkan juga usia.

Pertunjukan Ramayana Ballet di Candi Prambanan ini bukan hanya disukai oleh orang dewasa lintas bangsa saja. Anak-anak-pun asyik pula menikmati, termasuk si Nok anak saya yang tidak begitu mengerti bahasa Jawa. Ketika diajak ke Jogja atau ke Solo, selalu merengek minta nonton Ramayana Ballet lagi. Adegan demi adegan memang sungguh menarik untuk terus disaksikan, jauh dari kesan menjemukan. Beberapa karakter pendukung seperti para raksasa dan para rewanda (kera) anak buah Hanuman, menampilkan gerak tari lucu yang mengundang tawa. Bahkan para kera banyak dimainkan oleh penari anak-anak yang sangat terlatih mamainkan karakter kera dengan gerak-gerik yang lucu menggemaskan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak yang menonton.

Tulisan tangan Presiden pertama RI Ir. Soekarno tentang Ramayana Ballet

Tulisan tangan Presiden pertama RI Ir. Soekarno tentang Ramayana Ballet

Agenda Sendratari Ramayana
Agenda budaya yang edukatif dan menarik ini memang tidak dimainkan setiap hari. Hanya dimainkan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu (malam minggu) atau setiap hari pada libur panjang seperti saat Lebaran. Durasi pertunjukan selama 2 jam penuh dimulai pada pukul 19.30 – 21.30 WIB. Jika ingin menyaksikan (terutama pada malam minggu atau hari libur) sebaiknya melakukan reservasi terlebih dahulu. Karena meskipun harga tiket termurah (tahun 2014) Rp 100.000,- namun tempat duduk umumnya terisi penuh. Informasi lebih aktual tentang agenda budaya rutin ini bisa dilihat di http://borobudurpark.co.id/temple/ramayanaPrambanan

Terinspirasi dari pertunjukan Royal Ballet of Cambodia yang dipentaskan di depan Angkor Wat, Sendratari Ramayana di Candi Prambanan ini mulai dipentaskan secara rutin sejak tahun 1961. Pementasannya dilakukan secara kolosal dengan melibatkan ratusan penari. Sehingga pada tahun 2012 mampu memecahkan Guinness World Records untuk pementasan paling rutin dan paling banyak penari yang terlibat.

Saat teraik menyaksikan Sendratari Ramayana adalah pada saat musim kemarau antara bulan Mei sampai Oktober. Karena pementasan akan dilakukan di teater terbuka yang yang indah dengan latar belakang candi Prambanan yang anggun. Teater terbuka ini letaknya di sisi barat Candi Prambanan. Diluar bulan-bulan pada musim kemarau tersebut pementasan biasanya dilakukan di ruang tertutup yang disebut Panggung Trimurti.

Kemegahan pertunjukan kolosan kelas dunia Ramayana Ballet Prambanan

Kemegahan pertunjukan kolosal kelas dunia Ramayana Ballet di Panggung Terbuka Candi Prambanan

Banyak orang asing dari seluruh penjuru dunia mengagumi pementasan sendratari Ramayana. Lantas bagaimana dengan kita, warga bangsa yang menjadi sang pemilik? Tentunya sudah semestinya turut serta “nguri-uri” atau menjaga kelestariannya. Jangan sampai orang asing lebih tahu dibanding kita sendiri. Yuuk, kita kenalkan pertunjukan budaya kelas dunia ini pada keluarga terdekat, terutama anak-anak kita sebagai generasi penerus. Sayang sekali jika mereka hanya mengenal budaya dari manca negara yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa sendiri.

Epos Ramayana
Cerita yang dipentaskan Sendratari Ramayana berdasar pada Epos Ramayana versi kisah yang berasal dari Serat Rama gubahan RNg Yasadipura I, seorang pujangga dari Keraton Surakarta (1729-1802). Versi Ramayana ini memang yang paling populer di kalangan masyarakat Jawa, terutama di Jateng dan DIY. Versi lain yang dianggap versi original dan tertua sebenarnya adalah gubahan empu Walmiki. Namun entah kenapa versi paling populer adalah Serat Rama yang sumbernya dari Ravanavandha karangan Bhatti dari India.

Bagaimana kisah epos Ramayana versi RNg Yasadipura I yang dipentaskan sebagai Sendratari Ramayana di Candi Prambanan ini ?

Silahkan ikuti ceritanya di Sendratari Ramayana, Kisah Cinta Rama dan Shinta.

Referensi:
– Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan & Ratu Boko: Borobudurpark.co.id
– Id.wikipedia.org
– www.thejakartapost.com


Share :

One thought on “Sendratari Ramayana, Mister Bean dan Charlie Chaplin

  1. Dunia Ely

    Sinetron Ramayana dari India Yang disiarkan di TV sana aku belum pernah menontonnya mas, apalagi yang live seperti di atas, kebayang andai jika bisa menyaksikan nya langsung.

    mangKoko says:
    Lebih asyik nonton Ramayana Ballet live mbak!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.