Berkunjung ke Negeri Para Dewa

By mangkoko : last updated 12 Jan 2016

Tak ada seorangpun yang meragukan. Negeri para Dewa memang unik. Berkunjung ke pulau dewata hampir menjadi obsesi siapapun. Gelembung bola obsesi di dalam dada semakin membesar dari waktu ke waktu, dan terus meronta menuntut hak untuk diwujudkan. Lalu apa akibatnya jika kemudian obsesi terwujud?

Exotica salah satu pantai di Negeri para Dewa

Esootika salah satu pantai di Negeri para Dewa

Wow … rasanya seluruh indera yang ada di dalam diri ini bersatu, mereguk keasyikan sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Sang mata ber-binar seakan memancarkan cahaya pelangi, daun telinga mengembang lebar-lebar menangkap denting suara merdu, rasa di dalam dada membusung, penciuman mengendus bau-bauan aromatik, dan sang pengecap meneteskan air liur membayangkan nikmatnya sensasi rasa

Coba lihatlah ….
Bule-bule dari negeri nun jauh di balik bola bumi pada berbondong-bondong berkunjung ke sana. Dewa mereka mungkin sama, mungkin pula berbeda. Namun mereka bagaikan laron yang menemukan sumber cahaya. Tidak lagi mempedulikan perbedaan sang Dewa. Toh mereka tidak cukup hanya datang satu kali. Di lain wktu mereka terus pengin datang kembali untuk mengulang pengalaman dan rasa yang sama. Ada semacam “memorable experience” yang sangat mengesankan sesuai dengan peta keyakinan mereka masing-masing.

Matahari tenggelam di pantai Negeri para Dewa

Matahari tenggelam di pantai Negeri para Dewa

Di negeri para Dewa,
Semua hal menjadi menarik dan bahkan bisa bisa dijual. Matahari terbit dan tenggelam sangat laris terjual dengan harga mahal. Debur ombak pantai, terjual laris manis. Pematang sawah berteras dan berkelak-kelok menjadi obyek fotografi yang membuat orang berdecak kagum.

Di negeri para Dewa,
Ritual bersatu dengan atraksi. Musik menyatu dengan ayunan gerak kinestetik. Koreografi tradisional berbaur di tengah wangi bunga kamboja dan asap dupa. Dan itupun menarik orang untuk berbondong-bondong menyaksikannya.

Di negeri para Dewa,
Semua terlihat unik. Jalan-jalan unik. Tempat ibadah unik. Perkampungan tidak kalah menarik. Seakan semua bersatu padu menarik perhatian mata dari seluruh kolong langit.

Kepala Garuda Wisnu Kencana, Negeri para Dewa

Kepala Garuda Wisnu Kencana, Negeri para Dewa

Budaya Negeri Para Dewa memang unik,
Namun kami sebagai tetangga, bahkan sesaudara sering memandang miring ritual-ritual mereka, sesajen, dan segala hal yang berbau bunga dan dupa. Alih-alih mencoba memahami keunikan spiritualitas mereka. Mungkin karena kita terbiasa memandang segala sesuatu dengan kepala yang terisi penuh. Atau mungkin karena kita terbiasa berbicara dengan perut yang kekenyangan atau bahkan kelaparan. Sehingga yang terdengar bukan ungkapan isi hati, namun sekedar suara keruyuk yang datang dari perut.

“Ah disana kan cuma sekedar pantai !”, kata seorang sahabat.

Jika sekedar pantai dan ombak …
Deretan pantai dan di Gunung Kidul : Sundak, Krakal, Kukup, Baron atau pantai di Pacitan … tak kalah eksotis lho dengan pantai-pantai yang ada di sana!

Jika sekedar candi atau pura …
Candi Borobudur dan Prambanan jauh lebih besar dan anggun arsitekturnya dibanding dengan pura atau candi yang ada di sana.

Tirta Empul - Tampak Siring, Negeri para Dewa

Tirta Empul – Tampak Siring, Negeri para Dewa

Jika sekedar kesejukan dan keindahan pemandangan pegunungan …
Kawasan Cipanas dan Lembang juga tak kalah nendang dibanding Bedugul dan Kintamani

Jika sekedar ayam betutu, bebek bengil atau lawar …
Nikmatnya ayam bakar pak Widodo, bebek goreng pak Slamet atau sego tumpang Boyolali nggak kalah maknyus dalam gustatory lidah saya.

Jadi apa dong kunci saktinya ?
Entahlah, saya tidak tahu persis. Mungkin kepedulian pada lingkungan alam sekitar kita. Kepedulian pada kearifan lingkup budaya warisan para tetua kita. Dan kepedulian pada tatanan sosial berupa toleransi, saling menghargai, saling menghormati, dan gotong-royong yang sudah semakin terkikis.

Sesungguhnya tulisan yang “ngoyo-woro” ini hanyalah sekedar renungan tentang negeri para Dewa, salah satu sudut dari negeri-negeri di Nusantara yang telah membetot perhatian wisata dunia. Harapan ke depan semoga menular kepada negeri-negeri lain di seantero Nusantara ini, menyusul membetot tatapan mata dunia. Karena sesungguhnya banyak negeri yang sangat pantas untuk menyandang anugerah itu pula.

Baca pula: Tips Wisata Hemat ke Bali, Tanpa Travel Agent.

Catatan:
– negeri = wilayah, kampung
– ngoyo-woro = ngawur
– gustatory = pengecapan rasa

 


Share :

4 thoughts on “Berkunjung ke Negeri Para Dewa

  1. Pakde Cholik

    Nusantara memang terkenal keindahan alam, makanan, dan aneka ragam budayanya ya Mas
    Saya dua kali ke Bali, tapi urusan dinas sehingga jalan2nya hanya sedikit
    Terima kasih reportasenya
    Salam hangat dari Surabaya

    mangKoko says:
    Terima kasih kembali atas “kerawuhannya” di blog saya Pakde.

    Reply
  2. Dunia Ely

    Foto fotonya cantik mas

    November lalu ke Bali namun ngga bisa ke mana mana suami karena suami kena diare

    mangKoko says:
    Sayang sekali ya mbak …

    Reply
  3. BangKoor

    Udah lama nggak mampir kesini, eh udah lebih berwarna ternyata.. Udah ada cerita wisatanya 😀

    Hmm.. aku kira tadi negeri para dewa itu negeri yang di Eropa sana itu mang. Ternyata di negara sendiri 😀
    Saat ini aku belum berniat atau sekedar pengen kesana mang. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu ramai. Aku kurang suka keramaian soalnya :-)

    mangKoko says:
    Jika sekedar menghindari keramaian, tinggal pilih waktu dan lokasi yang tepat saja mas!
    :-)

    Reply
  4. Kisah Foto

    Foto sunsetnya keren mas 😀
    Saya seumur-umur malah belum pernah ke Bali 😀

    mangKoko says:
    Suatu saat, harus sampai ke sana mas, KisahFoto-nya pasti akan semakin lengkap!
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.