Pameran De Vrouw di Galeri Semarang

By mangkoko : last updated 04 Nov 2015

De Vrouw, kata dalam bahasa Belanda yang artinya perempuan, menjadi tema pameran yang di selenggarakan di Galeri Semarang (Contemporary Art Gallery) Jl. Taman Srigunting no 5-6 Kota Lama Semarang. Pemeran De Vrouw merupakan bagian dari event Festival Kota Lama 2014 yang telah berlangsung tanggal 19-21 September 2014. Namun khusus untuk pameran De Vouw akan berlangsung sampai tanggal 4 Oktober 2014.

Suasana di Geleri Semarang saat Pameran De Vrouw

Suasana di Geleri Semarang saat Pameran De Vrouw

Sesuai dengan namanya, pameran ini membawa spirit kemandirian perempuan atau feminisme. De Vrouw sesungguhnya adalah upaya napak tilas dari sebuah paviliun pameran akbar berskala internasional yang berlangsung 100 tahun lalu (Koloniale Tentoonstelling tahun 1914) yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian ditafsirkan ulang dan disajikan dalam format masa kini dengan mengangkat tokoh-tokoh wanita Indonesia di berbagai jaman, dari RA. Kartini jaman dahulu sampai Anne Afantie di jaman sekarang.

Pameran 100 tahun Koloniale Tentoonstelling ini dinilai tepat menjadi bagian dari Festival Kota Lama 2014 dengan mengambil tema Pasar Sentiling. Pasar Malam Sentiling adalah sebutan ala lidah masyarakat Jawa untuk menamai Koloniale Tentoonstelling. Jadi kata tentoonstelling dilafalkan dengan ucapan sentiling.

Napak Tilas De Vrouw
Awalnya adalah seorang wanita berkebangsaan Belanda yang bernama Ellen Van Os (50 tahun) yang datang ke Indonesia untuk ziarah ke makam nenek buyutnya yang di makamkan di Semarang. Sang nenek buyut Ellen yang bernama Elize Bijleveld van Hoevell ternyata adalah satu-satunya perempuan yang menjadi panitia sekaligus koordinator paviliun De Vrouw ayng sukses mengikuti Expo Koloniale Tentoonstelling 1914. Keikutsertaan paviliun ini adalah akibat dari kesuksesan pameran tentang peran para aktivis wanita yang diselelnggarakan pada tahun sebelumnya (1913) di Amsterdam.

Gayung bersambut ketika Ellen bertemu dengan Oens Semarang Fondation yang tahun ini menyelenggarakan Festival Kota Lama 2014 dengan tema Pasar Sentiling. Ujungnya De Vrouw menjadi bagian dari agenda festival. Di pameran De Vrouw tahun 2014, Ellen memboyong dokumentasi yang berhubungan dengan sang nenek buyut dari negeri Belanda untuk dipamerkan.

Mengusung semangat yang sama yaitu emansipasi wanita, namun dengan format yang berbeda, pameran De Vrouw menampilkan tokoh-tokoh perempuan Indonesia dari jaman ke jaman. Mulai dari Radan Ajeng Kartini sang tokoh emansipasi perempuan dari Jepara dan tokoh-tokoh perempuan lain yang memiliki kedekatan historis dengan kota Semarang seperti Nyonya Meneer, NH Dini, Retno Marsudi, Marie Elka Pangestu dan Anne Afantie.

Kurator dari pameran ini adalah Bambang Toko Witjaksono, dengan kontributor Ellen van Os, Titus Aji, Museum RA Kartini dan Afif Komo dari Rumah Kartini Jepara (ref. Suara Merdeka).

Menjelajah Ruang Pamer
Pameran dibagi menjadi 3 area utama. Area pertama adalah ilustrasi dari event Koloniale Tentoonstelling tahun 1914. Mulai dari tokoh-tokoh yang terlibat, suasana pelaksanaan, hingga pameran dari repro arsip-arsip kegiatan expo yang membawa suasana ke masa 100 tahun lalu. Termasuk pula dokumentasi artikel yang dipublikasikan oleh para pejuang kemerdekaan dalam mengkritisi penyelenggaraan acara yang mengeksploitasi masyarakat lokal yang menjadi jajahannya. Selain itu juga adanya dampak positif pada dibangunnya infrastruktur di kota Semarang yang beberapa diantaranya masih berfungsi dan kita saksikan sampai kini, misalnya adalah dibangunnya Stasiun Poncol dan Stasiun Tawang yang megah.

Area ke 2 adalah lokasi khusus napak tilas paviliun de Vrouw tahun 1914. Ellen banyak membawa arsip dan pernak-pernik yang menunjukkan penafsiran dari para tokoh dan suasana masa itu.

Napak tilas De Vrouw dari Koloniale Tentoonstelling 1914

Napak tilas De Vrouw dari Koloniale Tentoonstelling 1914

Pada area ke 3, dihadirkan pemaknaan masa kini tentang feminisme. Dengan ditampilkannya para tokoh perempuan Indonesia terutama yang memiliki ikatan emosional dengan Semarang dan Jawa Tengah.

R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Diawali dengan dokumentasi tentang RA Kartini dengan kumpulan surat-suratnya yang sangat terkenal yakni “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kemudian Nyonya Meneer yang selalu tak terpisahkan dengan segala hal yang berhubungan dengan jamu-jamuan.

Nyonya Meneer, Tokoh wanita yang lekat dengan tradisi jamu-jamuan tradisional

Nyonya Meneer, Tokoh wanita yang lekat dengan tradisi jamu-jamuan tradisional

NH Dini, satu dari sangat sedikit sastrawati Indonesia

NH Dini, satu dari sangat sedikit sastrawati Indonesia

Dari generasi yang lebih muda ditampilkan NH Dini, seorang dari sangat sedikit sastrawati yang dimiliki Indonesia. Kemudian Retno Marsudi, seorang diplomat karir, duta besar wanita yang melanglang buana ke negara-negara barat namun hatinya selalu tertambat pada tradisi budaya kearifan Jawa. Disusul oleh Marie Elka Pangestu sang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dan yang terakhir adalah Anne Avantie, seorang designer busana yang selalu membawa keagungan budaya nasional dalam setiap karya-karyanya.

Anne Avantie, designer busana yang inspiratif

Anne Avantie, designer busana yang inspiratif


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.