Eksotisme Dari Tepi Sungai Gajahwong

By mangkoko : last updated 19 Oct 2016

Eksotisme Museum Affandi takkan lepas dari lokasinya yang berada di tepi sungai Gajahwong. Sungai yang melintas sisi timur kota Yogyakarta ini menyimpan cerita melegenda, erat dengan keberadaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta).

Dikisahkan tentang seekor gajah tunggangan Sultan Agung yang bernama Ki Dwipangga yang sedang dimandikan oleh Ki Kerti Pejok di sebuah sungai. Tanpa dinyana tiba-tiba banjir bandang terjadi. Gajah dan Ki Kerti Pejok hanyut tak terselamatkan. Oleh Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram pada waktu itu, sungai ini dinamakan Kali Gajahwong, sebagai tetenger hanyutnya gajah dan wong (orang) sang pawang.

Menuju ke Studio Gajahwong

Menuju ke Studio Gajahwong

Pada artikel sebelumnya telah diceritakan tentang Gallery Museum Affandi. Kali ini kami ajak anda mengeksploitasi sudut-sudut lain yang tak kalah menarik di dalam kompleks museum Affandi.

Ada beberapa bangunam monumental yang berhubungan erat dengan kehidupan Affandi dan keluarganya, sebuah gerobak sapi, Studio Gajahwong dan rumah tinggal Affandi yang terbuat dari kayu yang menyimpan sejarah panjang seorang maestro seni rupa Indonesia.

Mushola Gerobak Sapi

Di sisi kanan jalan antara Gallery II dan Gallery III terdapat sebuah gerobak sapi yang difungsikan sebagai mushola, tempat sholat bagi keluarga, karyawan maupun para pengunjung museum.

Gerobak sapi, yang kini berfungsi sebagai mushola

Gerobak sapi, yang kini berfungsi sebagai mushola

Pada awalnya gerobak sapi ini dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah kamar, lengkap dengan dapur dan kamar kecil. Dibangun Affandi atas permintaan Maryati isterinya, yang sebenarnya waktu itu menginginkan sebuah caravan, sebuah tempat tinggal yang mudah dipindahkan.

Namun Afandi merealisasikan dengan menyulap gerobak sapi tradisional menyerupai fungsi sebuah caravan. Konon sang isteri sangat menyukai “caravan” gerobak ini, sebagai tempat nongkrong di siang hari sambil menyulam karya-karyanya.

Studio Gajahwong

Studio Gajahwong merupakan sanggar untuk berlatih melukis, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Pengunjung anak-anak dipersilahkan jika ingin mencoba melukis, telah disediakan bahan dari tembikar (gerabah tanah liat) sebagai media untuk dilukis.

Gallery juga dipakai untuk memajang karya seni dari siswa-siswi yang belajar di sini. Salah seorang yang karyanya di pajang disini adalah Didit, cucu Affandi (anak dari Kartika ). Ibarat pepatah “air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”, demikian pula Didit, gaya lukisannya mirip dengan sang kakek, yakni expresionisme.

Sanggar lukis, Studio Gajahwong

Sanggar lukis, Studio Gajahwong

Rumah Panggung Affandi

Di kompleks Museum Affandi berdiri sebuah rumah 2 lantai tempat tinggal Affandi beserta keluarganya. Berbeda dengan ketiga bangunan gallery yang terkesan masif berupa tembok beton tinggi, rumah Affandi berbentuk rumah panggung kayu, sehingga terlihat serasi, ramah dengan lingkungan sekitar hijau oleh pepohonan.

Memang ada kemiripan bentuk arsitekturnya dengan bangunan lain yang ada di sana, yaitu pada bagian atap, sama-sama membentuk garis lengkung menyerupai bentuk pelepah daun pisang. Rumah ini dibangun tahun 1955, dihiasi pahatan gaya bali yang dikerjakan oleh pemahat Nongos dan Cokot dari Bali.

Rumah Panggung Affandi

Rumah Panggung Affandi

Bangunan ini merupakan tempat sangat penting bagi Affandi, Selain sebagai rumah tinggal, tempat berkumpul dengan anak cucunya, juga menjadi tempat untuk menyimpan hasil karyanya sebelum membangun gallery khusus.

Baca pula: Selfie ala Pelukis Affandi

Lantai atas (panggung) merupakan kamar pribadi Affandi. Dari teras panggung di depan kamar ketika saya arahkan pandangan lurus ke depan (ke arah selatan) akan terlihat lalu-lalang kendaraan yang melintas di Jl. Laksda Adisucipto. Terasa kontras dengan suasana rumah yang terasa tenang, teduh dan nyeni. Namun jika bergeser ke sebelah kiri dan pandangan dipalingkan ke arah timur, suasana sejuk dan alami akan muncul kembali. Disana terpampang panorama sungai Gajahwong, seakan meredam hiruk-pikuk kebisingan kota. Gemericik air terdengar sayup-sayup dari sebuah bendungan yang terlihat selalu memutih diselimuti riak-riak air.

Bendungan Gajahwong

Bendungan Gajahwong

Rumah panggung di bagian bawah disebut Cafe Loteng, sebagai tempat nongrong para pengunjung setelah capek berkeliling museum. Di sana disediakan makanan, minuman dan tentu saja souvenir shop yang menyediakan oleh-oleh berupa buku, kartu pos, tshirt, mug dan pernak pernik lain bertema seputar Museum Affandi.


Share :

One thought on “Eksotisme Dari Tepi Sungai Gajahwong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.