Pesona Arsitektur Masjid Agung Jateng

By mangkoko : last updated 04 Nov 2015

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terletak di Semarang ini sungguh memiliki pesona arsitektur yang unik dan menarik. Di halaman depan, anda akan disambut sebuah bentuk bangunan melingkar yang ikonik berupa pilar-pilar penyangga gerbang yang sekilas menyerupai Kolosseum Amfiteater yang ada di Roma Italia. Gaya arsitektur Masjid Agung Jeteng merupakan campuran serasi antara Jawa, Islam, dan Yunani.

Masjid Agung Jawa Tengah dilihat dari sisi utara

Masjid Agung Jawa Tengah dilihat dari sisi utara

Atap limasan mencerminkan gaya arsitektur khas Jawa. Sedangkan dibagian ujungnya berupa kubah berdiameter sekitar 20 meter, dikelilingi 4 menara masing masing setinggi 62 meter disetiap penjuru atapnya sebagai ciri khas bentuk bangunan masjid.

Bangunan Utama Masjid Agung Jawa Tengah

Bangunan Utama Masjid beratap limasan khas arsitektur Jawa

Bangunan lain yang menjadi penanda keunikan masjid adalah sebuah menara berbentuk kubus di bagian dasarnya. Sedangkan di bagian atas berbentuk lingkaran yang mengerucut pada bagian atasnya. Di sisi sebelah selatan masjid terdapat menara 99,  karena memang tingginya 99 meter, dimaksudkan sebagai representasi Asma Al-Husna atau 99 nama atau sifat Tuhan. Lantai 1 menara ini difungsikan sebagai stasiun Radio DAIS MAJT, lantai 2 merupakan Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah. Sedangkan lantai 19 yang merupakan lantai paling atas merupakan gardu pandang yang dapat untuk melihat keindahan kota Semarang yang berpantai di sebelah utara dan berbukit di sebelah selatan. Menara ini biasa juga digunakan untuk melakukan Rukyat Al Hilal, untuk melihat bulan baru sebagai pertanda telah masuknya bulan Ramadhan dan juga telah tibanya Hari Raya Idul Fitri. Lantai di bawahnya difungsikan sebagai rumah makan berputar.

Menara 99 Masjid Agung Jawa Tengah

Menara 99 Masjid Agung Jawa Tengah

Payung raksasa Masjid Agung Jawa Tengah

Payung raksasa Masjid Agung Jawa Tengah

Penanda unik lainnya dari masjid ini adalah adaya payung-payung raksasa seperti yang ada di Masjid Nabawi di Madinah. Payung-payung ini dikembangkan atau dibuka saat Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha atau saat ada acara tertentu. Di Masjid Nabawi payung-payung seperti ini akan dibuka setiap hari untuk melindungi jamaah saat matahari sudah mulai menyengat.

Payung-payung Raksasa MAJT saat sedang terbuka

Payung-payung Raksasa MAJT saat sedang terbuka

Masjid terbesar di Jawa Tengah ini dibangun selama kurang lebih 4 tahun. Diresmikan penggunaanya oleh presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tahun 2006. Menempati areal seluas 10 hektar, dan mampu menampung jamaah sekitar 7 ribu orang. Jika ditambah serambi masjid bisa menampung sampai sekitar 10 ribu orang.

Air Mancur Masjid Agung Jawa Tengah

Air Mancur sebagai salah satu hiasan di halaman Masjid Agung Jawa Tengah

Selain sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan Islam di Jawa Tengah, halaman sekitar masjid banyak dimanfaatkan warga Semarang untuk tempat berolah raga ringan di pagi hari, seperti lari atau jogging keliling masjid. Suasana halaman sekitar masjid yang luas, bersih dan asri menjadi salah satu favorit warga untuk beraktifitas sosial bersama keluarga. Ada dua manfaat yang bisa diraup sekaligus, badan sehat karena olah raga sambil mendengarkan siraman rohani yang terdengar jelas di sekeliling masjid.

Bayangan matahari senja di kolam Masjid Agung Jawa Tengah

Bayangan matahari senja di kolam Masjid Agung Jawa Tengah

Di halaman depan sisi sebelah utara terdapat sebuah joglo khas Jawa, sebagai tempat untuk memajang sebuah bedug raksasa. Dalam tradisi masyarakat Islam tradisional di Jawa, bedug dibunyikan sebagai pertanda datangnya waktu sholat.

Bedug besar Masjid Agung Jawa Tengah

Bedug besar Masjid Agung Jawa Tengah

Bedug sebenarnya berasal dari India dan China. Tradisi bedug di Jawa diperkenalkan oleh Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut Tiongkok yang beragama Islam. Sang laksamana yang juga dikenal dengan nama Sam Poo Tay Djien dikabarkan mendarat di Semarang tahun 1405 M. Petilasan yang masih berdiri dan terawat sampai sekarang adalah kelenteng Sam Po Kong, yang terletak di Gedong Batu Semarang.

Jadi jika sahabat sekalian berkunjung ke Semarang, sempatkan mampir di Masjid Agung Jawa Tengah. Anda bisa beribadah sekaligus menyaksikan keunikan arsitektural masjid dan menikmati keindahan interior yang penuh dengan ukiran kayu khas Jawa Tengah.

Di bulan Ramadhan, sahabat sekalian juga bisa mengikuti sholat tarawih yang setiap malamnya meng-khatam-kan 1 juz surat-surat Al-Quran sebagai bacaan sholatnya. Berani terima tantangan ?

 


3 thoughts on “Pesona Arsitektur Masjid Agung Jateng

  1. Dunia Ely

    Sempat ke sana mas November lalu, sayang cuaca lagi hujan.
    Cantik sekali ya mas Mesjidnya, ke museumnnya nggak? :)

    mangKoko says:
    Tempat tinggal saya dekat dengan MAJT kok mbak, sering ke sana, jadi sudah hapal setiap sudutnya … he he.

    Reply
  2. ardie

    sya udah 3 kali kesini…arsitekturnya bner2 keren…

    mangKoko says:
    Makasih mas atas kunjungannya

    Reply
  3. lia

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai seni
    Sungguh mengisnpirasi untuk orang-orang yang memiliki jiwa seni desain untuk para arsitek.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Arsitektur yang bisa anda kunjungi di: arsitektur.blog.gunadarma.ac.id

    mangKoko says:
    Menarik mbak Lia, artikel2 anda tentang arsitektur!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.