Ekowisata Monkey Forest Bali

By mangkoko : last updated 10 Jan 2016

Ratusan, bahkan ribuan wisatawan berbagai bangsa dari seluruh dunia setiap hari berdatangan, terpesona oleh keelokan Monkey Forest Bali. Sebuah ekowisata yang menyajikan interaksi dengan kera-kera ekor panjang nan jinak. Sang penghuni asli hutan wisata ini seakan tak peduli dengan keriuhan kunjungan para turis. Mereka selalu terlihat asyik, tenggelam bermain-main dalam dunianya sendiri, tak peduli dengan tatapan mata dan jepretan lensa pengunjung.

Kera ekor panjang bercengkerama dengan turis di Monkey Forest Bali

Kera ekor panjang bercengkerama dengan turis di Monkey Forest Bali

Bisa jadi bagi para kera, pengunjung dianggapnya sebagai teman atau bagian dari bahan mainan alami mereka. Tak jarang mereka seenaknya meloncat dan bertengger di pundak atau kepala para turis.

Ekowisata Monkey Forest atau hutan suaka monyet suci ini disebut sebagai kawasan Mandala Suci Wenara Wana. Terletak di Desa Padangtegal, Ubud, Bali. Destinasi wisata yang sangat populer di Bali ini biasanya menjadi satu rangkaian dari paket wisata menjelajah sekitar daerah Ubud, yang kaya akan keragaman wisata alam, seni budaya, dan spiritual.

Baca pula: Tips Wisata Hemat ke Bali, Tanpa Travel Agent.

8 Petunjuk Selama Berada di Monkey Forest

Meskipun kera-kera yang ada di Monkey Forest ini hidup liar namun secara alamiah tidak agresif. Jika kadang-kadang terlihat tak bersahabat, ini karena mereka merasa terancam, sebagai respon alami mereka untuk mempertahankan diri.

Agar anda sebagai pengunjung nyaman dan aman selama anda berdekatan dengan binatang-binatang ini, dan tak membuat monyet terganggu, sebaiknya patuhi petunjuk dasar berikut:

  1. Jangan panik, jika monyet melompat ke arah anda. Jika anda kebetulan sedang membawa makanan, lepaskan dan berjalanlah perlahan. Monyet akan segera turun.
  2. Jangan lari, jika monyet mendekat. Tetap bersikap tenang. Jangan membentak agar tak membuat monyet takut.
  3. Jangan menatap monyet, karena ini dapat ditafsirkan sebagai tanda ancaman.
  4. Jangan sembunyikan makanan, karena monyet akan dapat mengetahui dan akan berusaha untuk mendapatkannya, dan jangan berusaha mengambilnya kembali.
  5. Jangan membawa tas berbahan plastik atau kertas, Ini adalah kawasan bebas sampah dan mencegah monyet mengambil dan mempermainkannya.
  6. Selalu jaga barang-barang berharga, seperti kaca mata, anting, dan perhiasan lain.
  7. Jangan menyentuh, apalagi mengganggu monyet. Monyet dapat menyentuh anda, tetapi anda jangan berusaha untuk menyentuhnya karena reaksinya tak dapat diperkirakan. Bayi monyet tampak tak berbahaya namun induknya akan melindungi sang bayi.
  8. Orang tua harus selalu selalu dekat dan mengawasi putra putri nya.
Induk monyet sangat protektif terhadap bayinya

Induk monyet sangat protektif terhadap bayinya

 

Mandala Suci Wenara Wana

Kawasan hutan tertentu yang dianggap suci di Bali sesungguhnya merupakan perwujudan dari sinergi harmonis antara manusia dengan alam.Spiritualitas masyarakat Bali yang menyatu dengan budaya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan kawasan yang dianggap suci seperti kawasan Mandala Suci Wenara Wana tak lepas dari laku spiritual. Sehingga tak heran jika terdapat pura sebagai tempat pemujaan yang sakral berdiri di sana.

Pura di lingkungan Monkey Forest, Ubud Bali

Pura di lingkungan Monkey Forest, Ubud Bali

Ada 3 pura berdiri di kawasan ini, yakni:

  1. Pura Dalem Agung.
    Pura tempat untuk memuja Tuhan (Hyang Widhi Wasa) yang dipersonifikasi sebagai Dewa Siwa. Di dalam konsep Trimurti, Shiwa adala dewa pelebur.
  1. Pura Beji.
    Personifikasinya adalah Dewi Gangga. Pura ini adalah tempat pensucian sebelum dilangsungkannya upacara, dan juga digunakan untuk melukat sebagai upaya pembersihan lahir dan bathin secara spiritual.
  2. Pura Prajapati.
    Personifikasinya adalah Prajapati. Pura ini terletak di timur laut kawasan, berdampingan dengan kuburan. Kuburan di Bali bersifat sementara sementara, menunggu sampai saat dilakukan ngaben massal yang diadakan setiap 5 tahun sekali.

Monkey Forest Bali

Banyak macam spesies tanaman yang terdapat di Monkey Forest. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Universitas Udayana Bali, paling sedikit terdapat 115 spesies tanaman yang tumbuh di sana. Beberapa jenis pohon dianggap penting karena digunakan dalam ritual keagamaan.

Seperti misalnya pohon beringin (Ficus Benjamina), yang daunnya digunakan untuk upacara kremasi mayat, dan pohon pule (Alstonia scholaris) sejenis pohon karet berkayu lunak yang digunakan untuk membuat topeng. Tanaman pule berbentuk pohon berkayu, bukan pule pandak (Rauvolfia Serpentina) yang berupa perdu, sering digunakan sebagai obat herbal.

Pohon beringin di Monkey Forest,Ubud Bali

Pohon beringin di Monkey Forest,Ubud Bali

Sedangkan kera ekor panjang yang menghuni kawasan ini berjumlah sekitar 600 ekor, terbagi dalam 5 kelompok yang menempati area masing-masing: di depan pura dalem, michelin, timur, tengah, dan kuburan. Masing-masing kelompok ini berjumlah sekitar 100 hingga 120 ekor monyet. (sumber: Monkey Forest Ubud Bali)

Kera-kera yang ada di sini terlihat sangat bersahabat, jinak berinteraksi dengan pengunjung. Sangat terlihat berbeda dengan kera-kera sejenis yang ada di perbukitan Uluwatu Bali, yang terkesan nakal. Barang-barang bawaan pengunjung yang lengah,  seperti kacamata atau topi, tiba-tiba di rampas dibawa lari. Kenakalan kera seperti ini hampir tak ditemukan di Monkey Forest.

Perilaku nakal seperti ini mirip dengan kera-kera sejenis yang menghuni kawasan ekowisata  Goa Kreo di Semarang Jawa Tengah. Mereka sering merampas minuman yang dibawa pengunjung. Baca pula: Wisata Alam Goa Kreo – Waduk Jatibarang.

Kenapa kera-kera di Monkey Forest ini tidak nakal?
Kemungkinan besar penyebabnya karena mereka dirawat dengan baik. Pengelola menyediakan cukup makanan 3 kali sehari, berupa ketela rambat sebagai makanan utama, dikombinasikan dengan buah-buah lokal seperti pisang dan mentimun, daun pepaya, dan jagung. Pemberian makan rutin seperti ini tak terlihat dilakukan secara intensif di Uluwatu maupun di Goa Kreo.

Daya dukung alami hutan yang tak mencukupi untuk menghasilkan makanan bagi penghuninya membuat kera-kera lapar, sehingga mereka akan mengganggu pengunjung. Karena itulah, sebuah ekowisata harus dikelola dengan serius dan bijak.

Kera Ekor Panjang

Monyet/kera berekor panjang atau dalam bahasa Inggris disebut long tail macaque adalah jenis monyet/kera yang banyak terdapat di hutan-hutan di wilayah Indonesia. Konon jenis primata ini merupakan monyet endemik yang hidup di kawasan Asia Tenggara, termasuk di pulau-pulau besar di Indonesia. Habitat hidupnya tersebar mulai dari hutan-hutan mangrove di pesisir pantai hingga hutan di kawasan perbukitan dengan ketinggian mencapai 1300 meter dari permukaan laut.

Ini lho fotoku !

Ini lho fotoku !

Primata ini bersifat omnifora, jenis makanannya beragam menyesuaikan dengan habitat hidup mereka. Kera-kera yang hidup di pesisir pantai mencari makan dengan berburu binatang air yang hidup perairan sungai dan pantai, seperti ikan, udang dan kepiting. Sehingga sering pula disebut  monyet pemakan kepiting (crab-eating monkey). Kera-kera yang hidup di habital lain, misalnya dekat dengan perkampungan penduduk, memakan hasil kebun seperti buah-buahan, kacang, ubi, dan jagung. Sehingga sering dianggap sebagai hama pengganggu budidaya tanaman pangan.

Kera ekor panjang hidup adaptif berdampingan dengan perkembangan peradaban manusia. Sehingga ada masyarakat yang memelihara sebagai binatang peliharaan, dipekerjakan sebagai pemetik buah di perkebunan, bahkan juga dilatih menjadi atraksi/tontonan di jalanan (topeng monyet). Tentu saja yang terakhir tak layak diperlakukan bagi mereka.

Di beberapa hutan wisata di Indonesia, keberadaan kera ekor panjang menjadi salah satu daya tarik utama. Di Bali selain di Monkey Forest dan Uluwatu, juga ditemukan pula di Sangeh dan Alas Kedaton. Di Jawa tengah ada di Goa Kreo di Semarang dan  Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar (sebelah timur Kota Solo). Di Jawa Barat terdapat di Cagar alam Pananjung Pangandaran. Dan di pulau Sumatera terdapat di Taman Hutan Kera Tirtosari di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung.

Monkey Forest Bali, jembatan di bawah pohon beringin raksasa

Monkey Forest Bali, jembatan di bawah pohon beringin raksasa

Epilog

Mengelola sebuah ekowisata memang bukan pekerjaan mudah. Bali cukup beruntung karena relatif sukses memadukan aspek ekosistem dengan nilai-nilai sosial & spiritualitas lokal. Perpaduan ini tampaknya menjadi salah satu tips jitu untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk terlibat langsung menjaga kelestarian ekosistem alam. Dengan cara membingkainya sebagai kearifan lokal dan aspek spiritual.

Ini jelas sangat berbeda dengan yang terjadi di tempat lain. Misalnya ekowisata Goa Kreo dan Tawangmangu. Dimana hanya menonjol aspek ekosistemnya saja. Kearifan lokal dan aspek spiritual mungkin juga ada, namun tak sekuat di Pulau Dewata.

Satu hal utama yang paling penting disadari oleh pemangku kepentingan, baik masyarakat sekitar dan terutama pengelola: harus tetap fokus terus-menerus menjaga keseimbangan ekosistem alami. Jangan sampai lengah hingga rusak, demi kepentingan komersial semata. Toh kesinambungan produk ekowisata juga sangat tergantung pada kelestarian alami. Dan jangan sampai kelak kita dituding olwh anak cucu sebagai generasi yang tak pandai menjaga alam. Alias gagal menyandang amanah sebagai khalifah di muka bumi ini.

 


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.