Pantai Kuta, Romantisme dan Sihir Turisme Bali

By mangkoko : last updated 19 Jan 2016

Bali sungguh beruntung memiliki pantai Kuta. Meskipun garis pantainya tak begitu panjang, namun sungguh mempesona. Menyihir orang-orang dari negeri nun jauh di cakrawala untuk berbondong-bondong datang, sekedar menikmati kelembutan pasir putih dan jilatan gelombang laut pesisir Bali.

Kuta kini menjadi salah satu pantai yang paling tersohor di seantero bumi. Konon pula, Kuta adalah simbol romantisme kisah kasih, dan cinta.

Suatu senja di pantai Kuta, Inakah Mata Dewa?

Suatu senja di pantai Kuta, Inakah Mata Dewa?

Baca pula: Tips Wisata Hemat ke Bali, Tanpa Travel Agent.

Kuta juga sumber inspirasi bagi para seniman: pelukis, penulis dan pencipta lagu. Seperti Andre Hehanusa yang selalu terkenang “Kuta Bali” kala:

Di Pasir Putih
Kau Genggam Erat Tanganku
Menatap Mentari Yang Tenggelam

Atau binar jingga sang surya kala hendak menuju peraduannya yang menyihir seorang Iwan Fals hingga lahirlah sebuah karya masterpiece “Mata Dewa” :

Diatas pasir senja pantai Kuta
Saat kau rebah di bahu kiriku
Helai rambutmu halangi khusukku
Nikmati ramah mentari yang pulang
Seperti mata dewa
(Mata Dewa, Iwan Fals/S. Djodi 1989)

Bagi para pelancong, konon katanya, “Tak layak disebut ke Bali jika tak menikmati pantainya!” Dan pantai Bali adalah: Kuta dan Tanah Lot. Sedangkan sederet nama pantai lain seakan hanya pelengkap dari 2 pantai yang penuh dengar sihir turisme itu.

Konsekwensi Sebuah Industri Wisata

Gde Aryantha Soethama-lah orang yang menyebut: Kuta sebagai  sulap dan sihir turisme, menjadi cap dagang idustri pariwisata Bali. Seniman sastra Bali ini mengkritisi bahwa kemashuran pantai-pantai Bali di industri wisata bukannya tanpa resiko. Seperti pedang bermata dua. Di satu sisi memang menghasilkan pundi-pundi dolar yang sangat bermakna bagi perekonomian. Di sisi lain, orang-orang Bali sendiri mulai merasa tak lagi bisa memiliki pantai sepenuhnya.

Senja di pantai Kuta, dari sudut Discovery Mall

Senja di pantai Kuta, dari sudut Discovery Mall

Padahal bagi orang Bali, pantai tak sekedar tempat berlibur, atau tempat menikmati keelokan alam raya semata. Namun juga bermakna spiritual sebagai tempat bersimpuh menghaturkan puja bagi Sang Pencipta. Sering terjadi ritual yang dilangsungkan di pantai terganggu oleh para turis. Atau terkadang salah dipersepsi sebagai sekedar bagian dari sebuah tontonan atau atraksi wisata.

Bahkan seorang Guruh Soekarno Putra, sejak tahun 1985 telah menyerukan keprihatinannya dalam karya lagu yang dipopulerkan oleh Yopie Latul: Kembalikan Baliku.

Hai oya hayo, kembalikan Bali ku padaku
Hai oya hayo, kembalikan Bali ku padaku

Laut nan menderu, gunung nan membiru
Tanah pusakaku, berawan kelabu

Seni yang terpadu, dalam jiwa lugu
Gamelan berlagu, membuatku sendu

Alam nan menghimbau, seantero pulau
Di manakah engkau, citra nan memukau

Eksotisme Pantai-Pantai Bali

Pantai-pantai di Bali, sungguh merupakan anugerah yang sepantasnya terus dijaga identitas ke-Bali-annya. Karena sesungguhnya eksotisme yang tercipta bukan berasal dari keindahan pemandangan alamnya semata. Namun juga latar belakang budaya, sosial, dan spiritualitas yang menyatu membentuk identitas unik yang mempesona dunia. Tanpa sinergi ketiganya, tak lagi menjadi eksotisme yang kuat membetot perhatian dunia untuk datang, dan datang lagi berkunjung.

Satu sudut di pantai Kuta yang sering terendam laut

Satu sudut di pantai Kuta yang sering terendam laut

Suara-suara kritis sangat pantas untuk didengar, seperti apa yang telah disuarakan Gde Aryantha Soetama dan Guruh Soekarno Putra. Karena itu semua adalah tiang pancang untuk menjaga tegaknya esensi dari sebuah budaya. Agar tak tergerus musnah oleh perkembangan dan perubahan jaman. Melawan perubahan jaman adalah keniscayaan.

Industri turisme di Bali bagaikan lokomotif besar yang menarik gerbong sangat panjang. Gerbong-gerbong yang berkilau gemerlap dolar yang tak pantas ditolak. Karena memang terbukti menjadi penyokong perekonomian Bali yang tak bisa diabaikan. Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana menjaga itu semua agar tak melarutkan sendi-sendi budaya lokal yang telah melukis keindahan sejak beratus tahun sebelumnya.

Mengendalikan bahtera tradisi mengarungi lautan modernisasi memang bukan pekerjaan ringan. Butuh konsistensi, berbekal mantra sakti: menjaga kukuh identitas diri.  Genggam erat, jangan sampai terlepas.

Pantai Kuta Masa Kini

Pada awalnya, pantai Kuta adalah pelabuhan dagang, sebagai pintu masuk jual-beli produk lokal dengan masyarakat di luar Bali. Konon mulai menggeliat sebagai tempat tujuan wisata sejak terbitnya buku “Praise to Kuta” yang ditulis oleh Hugh Mahbett. Sejak itulah akomodasi wisata mulai di bangun di Kuta, seperti penginapan, restouran dan tempat hiburan. (id.wikipedia.org)

Konon, Kuta tempo dulu luar biasa eksotis, kala turisme baru saja menggeliat, tak seheboh saat ini. Saya memang tak sempat kebagian anugerah menyaksikan keelokan itu, hanya sempat menyaksikan Bali di masa kini. Namun pantai Kuta masa kini bagi saya masih mempesona, masih menjadi sulap dan sihir bagi pelancong. Unik mengingatkan bahwa: ini adalah Bali. Dengan kata lain: identitas Bali terasa dan terlihat jelas di sana. Selalu ada nuansa berbeda dibanding dengan pantai-pantai lain di penjuru tanah air manapun.

Romantisme Kuta bagaikan magnet untuk selalu menarik siapapun untuk datang berkunjung, tak pernah menyurut. Bagaikan lidah gelombang laut yang menyapa hamparan pasir putih tak pernah ber-jeda sedetikpun.

Pantai Kuta memang sangat strategis sebagai tempat wisata. Letaknya sangat mudah dijangkau dari Denpasar sebagai ibukota profinsi Bali. Dari Bandara Ngurah Rai sebagai pintu gerbang utama menuju Bali dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit saja, karena memang sangat dekat. Dari bibir pantai Kuta, kita dapat menyaksikan dengan jelas lalu-lalang pesawat yang sedat take off dan landing di Bandara Ngurah Rai.

Sebuah sudut: Villa di Pantai Kuta Bali

Sebuah sudut: Villa di Pantai Kuta Bali

Pantai Kuta saat ini memang telah menjadi sebuah kota wisata pantai nan modern, sekaligus icon wisata Bali. Segala macam infrastruktur kebutuhan industri turisme tersedia di sana. Pantai Kuta juga menjadi patron atau cetak biru pembangunan industri wisata pantai di Indonesia. Anda akan mudah melihat tanda-tanda itu di pantai-pantai wisata di Pulau Jawa.

Jalan Pantai Kuta yang membentang di sepanjang pantai adalah salah satu konsep tata wilayah yang pantas dicontoh. Jalan seperti ini menjadi pemisah antara pantai yang menjadi area publik dengan sisi seberang yang menjadi wilayah komersial, berupa hotel, resto, mall, dan pertokoan. Jika tidak ada pemisah seperti ini, pantai akan dikuasai secara privat. Seperti yang kadang terjadi orang bali yang lewat di tepi pantai dibentak satpam hotel karena lewat di bibir pantai yang tak berbatas dengan hotel.

Di Pantai Kuta, bisa jadi ada sisi-sisi sosial dan tradisi kearifan asli yang mulai terkikis. Namun saya lihat tak benar-benar habis. Tetap dipertahankan oleh masyarakat pemangku kepentingan di sana. Tampaknya masyarakat sadar bahwa tradisi, keyakinan dan budaya lokal menjadi bagian tak terpisahkan dari eksotisme Kuta.

Hard Rock Kuta Bali

Hard Rock Kuta Bali

Saya yakin, Bali akan tetap bertahan sebagai Bali. Apalagi sahabat-sahabat di sini sangat piawai mengelola ini semua. Melestarikan Bali agar tak kehilangan identitas ke-Bali-annya. Saya yang bukan orang Bali, turut bangga bahwa negeri kita tercinta ini memiliki Bali yang sungguh unik. Mampu menyihir, membangkitkan kekaguman orang dari seluruh penjuru dunia.

Pantai Kuta, dan secara umum kita sebut saja sebagai Bali, masih tetap pantas dan sangat asyik dikunjungi. Jangan hanya orang asing yang menikmati Bali.

Terakhir, bait berikutnya dari “Mata Dewa”-nya Iwan Fals, barangkali pas untuk mengakhiri corat-coret ini:

Lidah gelombang jilati batinku
Belaian karang sampai kejantungku
Jingga matahari ajak aku pergi
Kasihku tulus setulus indahmu
Seperti mata dewa

Referensi:

  • Jangan Mati di Bali, oleh Gde Aryantha Soethama, Penerbit Buku Kompas 2011
  • wikipedia.org/wiki/Pantai_Kuta

Share :

One thought on “Pantai Kuta, Romantisme dan Sihir Turisme Bali

  1. Anis Hidayah

    Untung saja saya Ke Bali ketika itu mengunjungi Kuta jadi udah bisa di sebut udah pernah ke Bali. Masalah nyanyian Mangkoko ada lagunya ebiet D Age juga menyanyikan lirik yang ada “Pantai Kuta” nya juga Kang. hehe

    mangKoko says:
    Iya juga ya mas! Baru ingat ada “Titip Rindu”-nya Ebiet G. Ade
    🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.