Sepotong Surga di Tegallalang

By mangkoko : last updated 17 Oct 2016

Betapa beruntungnya Bali. Segala sesuatu yang ada di sana, bisa disulap kemudian dijual untuk menghasilkan dolar. Bahkan sekedar sebuah hamparan sawah nan menghijau di perbukitan, laris manis dijual sebagai destinasi wisata alam. Contoh yang paling populer di seantero dunia adalah Tegallang dan Jatiluwih Bali. Mungkin anda akan terheran-heran, sekedar menyaksikan hamparan sawah saja sampai harus bermacet-ria, saking banyaknya turis terutama dari manca negara yang berkunjung ke sana.

Terrace rice Bali. Courtesy of Mariamichelle in Pixabay.com

Terrace rice Bali. Courtesy of Mariamichelle in Pixabay.com

Destinasi wisata sawah berundak yang sangat dikagumi wisatawan asing ini, terdapat di jalur wisata sekitar wilayah Ubud Bali. Untuk informasi lebih detil tentang jalur-jalur destinasi wisata di Bali silahkan baca di: Tips Wisata Hemat ke Bali, Tanpa Travel Agent.

Apa sih uniknya sawah diperbukitan Tegallalang?
Bagi kita masyarakat Indonesia, mungkin akan sulit memahami, dimana letak keunikan dan keindahan luar biasa sebuah hamparan sawah. Apalagi seperti saya yang terbiasa berada di pedesaan, lahir dan tumbuh hingga dewasa di sana. Di desa saya juga ada hamparan sawah menghijau, meskipun tak berundak seperti di Tegallalang. Namun untuk menemukan pemandangan setara dengan itu, tak sulit di cari di seantero pulau Jawa.

Terasering di Tegallalang Ubud Bali, kala musim kemarau

Terasering di Tegallalang Ubud Bali, kala musim kemarau

Misalnya saja di beberapa sisi jalan Semarang menuju Magelang, kemudian di sekitar Candi Selogriyo Magelang yang konon lebih cantik dibanding yang ada di Ubud. Atau yang terlihat atraktif ada pula di sekitar daerah Sumowono Kabupaten Semarang, yang terletak di lereng gunung Ungaran. Kita bisa saksikan di tepi jalur Semarang menuju Temanggung via Bandungan ke arah atas melewati Candi Gedongsongo.

Itulah Bali, yang telah menjadi kiblat pengembangan pariwisata nusantara. Bali adalah contoh paling ideal (role model) pengembangan daerah tujuan wisata. Salah satu keunggulan yang sulit ditiru adalah ketahanan Bali yang mampu mempertahankan tatanan sosial masyarakat dan kebudayaannya dari gempuran pengaruh wisatawan asing.

Masyarakat Bali berhasil mempertahankan nilai-nilai budayanya karena didukung oleh tradisi keagamaan yang dipegang teguh. Apresiasi masyarakat bali terhadap budaya dapat membawa pemahaman yang lebih dalam perubahan dalam beberapa dekade terakhir di bidang sangat penting: seperti pertanian berkelanjutan untuk pertumbuhan populasi, dan retensi identitas lokal dan regional dalam menghadapi komunikasi global. (Dr Phil McKean, seorang antropolog dan dosen di Hampshire College dan Universitas Udayana)

Sawah Terasering

Sawah berundak, atau terasering, memang sebuah model paling efisien untuk bertanam padi. Model berundak dinilai mampu mencegah erosi. Selain itu juga mendukung efisiense irigasi, mengingat pada adalah jenis tanaman pangan yang relatif banyak membutuhkan air.

Terasering di Candi Selogriyo, Magelang. Courtesy of Yoga on Skyscrappercity.com

Terasering di Candi Selogriyo, Magelang. Courtesy of Yoga on Skyscrappercity.com

Di daerah pedesaan Jawa dikenal seorang manager pengairan (pembantu lurah) yang disebut Ulu-Ulu. Tugasnya adalah mengatur pembagian pengairan sawah. Sedangkan di Bali, tugas ini dilakukan dalam wadah kelompok tani yang disebut subak.

Terasering di Sumowono Kabupaten Semarang

Terasering di Sumowono Kabupaten Semarang

Subak Bali

Masyarakat pertanian di Bali, selalu tak lepas dari peran Subak, yang merupakan sebuah kelompok tani tradisional khas Bali. Jumlah anggota kelompok subak tidak terlalu besar, sehingga sangat efisien, gesit dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Sehingga subak menjadi garda terdepan untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian.

Subak juga berperan penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan (green farming), seperti yang diutarakan oleh McKean. Dan juga sinergis dengan dunia pariwisata yang mengandalkan alam sebagai daya tarik utamanya.

Meskipun terlihat ideal, namun subak bukannya tanpa kendala. Tantangan terbesar adalah minimnya generasi muda Bali yang tertarik pada dunia pertanian. Menjadi petani, jelas terlihat tak semenarik menjadi pedagang, bekerja di hotel, atau mengelola biro perjalanan yang memang menjanjikan pundi-pundi dolar yang lebih nyaring bunyi gemerincing-nya.

Referensi:

  • Culture as a Dimension of Development: The Case of Bali, Culturedevelopment.nl
  • Gde Aryantha Soetama, “Jangan Mati di Bali”, Penerbit buku Kompas

Share :

One thought on “Sepotong Surga di Tegallalang

  1. Bambang

    Alamnya indah banget, foto2nya uga keren, pengen deh liburan kesana 🙂

    mangKoko says:
    Betul mas Bambang

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.