Ada Shinkansen Dalam Semangkuk Mie Udon

By mangkoko : last updated 11 Nov 2016

Sebenarnya saya berniat bercerita tentang udon. Yaitu salah satu jenis mie khas dari Jepang yang telah lama menjadi menu favorit masyarakat di negeri matahari terbit sana. Jenis mie ini telah merambah ke seluruh dunia termasuk ke kota-kota besar di Indonesia.

Judul awal artikel ini adalah: Ada Mie “Udon” Jepang di Semarang, karena memang udon mulai merambah kota Semarang juga. Namun tiba-tiba, kata “Shinkansen” menyeruak masuk ke benak saya … ting! Sehingga judulnya berubah menjadi: Ada Shinkansen Dalam Semangkuk Mie Udon.

Semangkuk mie "udon" ala Jepang

Semangkuk mie “udon” ala Jepang

Begini ceritanya:
Saat itu saya sedang terpukau – keasyikan menyaksikan proses pembuatan mie udon. Terlihat atraktif dan sangat memperhatikan detil. Tiba-tiba angan saya melayang pada Shinkansen: kereta super cepat dari negeri sakura. Samar-samar terbayang bentangan benang merah: menghubungkan antara Shinkansen dengan semangkuk mie udon.

Lho kok bisa?
Kita tahu Shinkansen dibangun dengan teknologi tinggi, puncak kecanggihan teknologi bangsa Jepang. Sedangkan mie udon dibuat dengan cara tradisional yang sederhana. Namun keduanya dikerjakan dengan spirit yang sama: disiplin, detil, dan sangat mengagungkan kesempurnaan. Itulah benang merahnya.

Shinkansen, credit image pada japan-guide.com

Shinkansen, credit image pada japan-guide.com

Namun sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang ikatan spirit antara Shinkansen dan semangkuk mie udon, ijinkan saya terlebih dahulu bercerita tentang udon. Baru kemudian Shinkansen. Agar benang merah yang mengikat keduanya menjadi lebih jelas terlihat.

Baca pula: Berburu miso ramen asli Hokkaido

Mengenal Mie Udon
Udon berbentuk bulat memanjang, sama dengan mie yang biasa kita makan. Yang membedakan: ukuran udon lebih besar. Dengan diameter silinder minimum 1,7 mm, sehingga terlihat lebih gemuk, kenyal dan licin.

Udon dibuat dari tepung terigu, sama dengan mie pada umumnya. Untuk membuat adonan udon: tepung terigu berprotein sedang atau rendah diuleni dengan air dan garam. Setelah adonan kalis kemudian di cetak bulat memanjang. Langkah terakhir adalah merebusnya. Jadilah sekarang mie “udon” Jepang yang gemuk, kenyal dan licin.

Udon biasanya disajikan dengan kuah panas, ditambah topping berupa masakan daging ikan, ayam, atau sapi. Bagi kita orang Indonesia, saat menyaksikan udon dihidangkan akan terbayang mie ayam. Tak berlebihan jika dibilang: udon adalah mie ayam ala Jepang.

Resto Udon biasanya juga menyajikan tempura sebagai pendamping udon. Berupa gorengan ikan, udang, daging ayam, dan sayur-sayuran.

Ada Mie “Udon” Jepang di Semarang
Hari Sabtu lalu, saya mendapat kesempatan mencicipi menu udon di sebuah Resto Udon ternama dari Jepang, yang baru membuka gerai di kota Semarang. Namanya Marugame Udon. Gerai di Semarang berada di Paragon Mall lantai 2. Konon ini adalah gerai pertama mereka di Jawa Tengah, atau yang ke 21 di Indonesia.

Konon jaringan Resto Udon ini baru masuk Indonesia di tahun 2012. Gerai pertamanya dibuka di Jakarta. Kemudian berkembang biak menjadi 12 gerai di Jabotabek, dan kota-kota besar lain di Indonesia yaitu Bandung, Surabaya, Bali, Medan, Balikpapan, Makasar, Pontianak. Yang terbaru dibuka di Semarang. Rupanya rasa udon diterima dengan baik oleh lidah orang Indonesia.

Menjaring udon

Menjaring udon

Open Kitchen, Freshly Cooked & Self Service
Di restouran-restouran udon baik di Jepang maupun di luar Jepang, termasuk yang ada di Indonesia, umumnya menganut konsep Open Kitchenn, Freshly Cooked & Self Service. Artinya: anda tak hanya dapat mencicipi, “Seperti apa sih rasanya mie udon?”. Tetapi juga dapat menyaksikan proses pembuatan udon di dapur modern ala Jepang.

Format dapur dibuat terbuka. Hanya dibatasi dengan kaca transparan. Inilah yang disebut open kitchen. Hal ini disengaja, agar pengunjung dapat leluasa menyaksikan proses pembuatan udon yang di pesannya (freshly cooked).

Pengunjung yang datang dipersilahkan mengambil nampan, memilih sendiri menu yang diinginkan, bayar di kasir, membawa sendiri ke tempat duduk, kemudian barulah dapat dinikmati (Self Service).

Di sisi paling depan (sebelum pengunjung memilih menu), akan disuguhi aksi seorang chef yang sedang menjaring udon. Sang Chef menghadap panci besar berisi air sambil membawa jaring bulat besar. Mirip seperti jaring ikan. Dengan cekatan sang chef mengaduk-aduk air di hadapannya dengan jaring yang selalu di bawanya. Mirip seperti sedang menjala ikan. Namun jelas tidak menjala nyari ikan lho! tetapi menjaring udon yang telah matang dari panci rebus.

Udon yang telah matang, segera dipotong-potong. Setiap potongan ditimbang oleh chef lain yang ada di samping kiri chef pembawa jaring. Udon yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam mangkuk. Proses penimbangan ini untuk menjamin bahwa setiap porsi berisi udon dengan berat yang relatif sama.

Menimbang udon, memastikan setiap porsi berisi udon dengan berat sama

Menimbang udon, memastikan setiap porsi berisi udon dengan berat sama

Ada Shinkansen Dalam Semangkuk Mie Udon
Menyaksikan udon yang ditimbang mengingatkan saya pada cerita Yusuke Shindo tentang shinkansen. Dalam bukunya yang berjudul “Mengenal Jepang”, diplomat karir yang pernah bertugas di Indonesia itu bercerita panjang lebar tentang Shinkansen: Kereta super cepat yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepang. Sekaligus simbol kemajuan teknologi Jepang.

Shinkansen mulai dioperasikan tahun 1964. Menghubungkan antara Tokyo dan Hokaido (disebut Tokaido Shinkansen). Kemudian dikembangkan lebih luas ke berbagai wilayah lain di Jepang. Teknologi tinggi yang menjadi tulang punggung Shinkansen juga terus berkembang dan terus-menerus disempurnakan. Hingga menjapai level kecepatan, keamanan dan kenyamanan yang sangat tinggi.

Saat ini kecepatan tertinggi Shinkansen mencapai lebih dari 300 km/jam. Rekor kenyamanan dan keamanan juga mencengangkan. Selama lebih dari 50 tahun beroperasi belum pernah terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa. Pada tahun 2013, rata-rata keterlambatan per rangkaian Tokaido Shinkansen hanyalah 30 detik. Padahan sudah diperhitungkan saat kereta terkena bencana alam seperti badai salju dan angin topan.

Konon banyak orang asing yang terkagum-kagum kala mancoba naik Shinkansen. Saat berhenti di stasiun, posisi pintu keluar kereta akan tepat di posisi peron stasiun yang telah diberi tanda khusus. Toleransi ketidak tepatan hanya 1 cm saja. Bukankah ini sebuah pertunjukan kedisiplinan dan kemajuan teknologi yang pantas diacungi jempol?

Akurasi puntu masuk/keluar Shinkansen, credit image pada skyscrapercity.com

Akurasi puntu masuk/keluar Shinkansen, credit image pada skyscrapercity.com

Spirit untuk terus-menerus berupaya menuju kesempurnaan ini bahkan merambah ke segala sendi kehidupan masyarakat Jepang. Termasuk kala membuat semangkuk mie udon. Ukuran berat mie ditimbang satu persatu dengan timbangan yang presisi. Tujuannya agar setiap pelanggan mendapatkan porsi yang nyaris sama di setiap mangkuknya.

Bagi seorang chef berpengalaman, untuk sekedar urusan membagi porsi mie, tanpa ditimbangpun sebenarnya akan dapat melakukannya. Meskipun tidak benar-benar akurat, namun hasilnya tidak akan terpaut jauh beda. Namun mereka memilih mengukur menggunakan timbangan. Memang hasilnya lebih akurat.

Itulah benang merah yang saya lihat: diantara Shinkansen dan semangkuk udon. Budaya disiplin, detil pada hal-hal yang sering dianggap remeh, selalu terus meningkatkan produk maupun layanan agar terus mendekati kesempurnaan menjadi keunggulan yang sungguh nyata.

Hasilnya terlihat jelas saat ini. Tak seorangpun yang menyangsikan kemampuan dan standard tinggi bangsa Jepang di hampir dalam segala bidang kehidupan: ekonomi, teknologi, bahkan juga di bidang seni dan budaya.

Mudah-mudahan artikel sederhana ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Belajar dari budaya masyarakat Jepang yang disiplin, detil, dan terus menerus memperbaiki diri.

Salam sahabat! Aisatsu no yūjin! …   🙂

Referensi:
– Mengenal Jepang, oleh Yusuke Shindo, Penerbit Buku Kompas tahun 2015
– id.wikipedia.org/wiki/Udon


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.