Panen Rambutan Organik

By mangkoko : last updated 03 Feb 2014

Bulan Desember-Februari adalah bulan panen raya buah rambutan di wilayah pulau Jawa. Kebun di kampung halaman mang Koko berjajar dari barat ke timur pohon-pohon rambutan Rapiah, Binjai, dan Lebak yang lagi ranum merah membara menampakkan dompol-dompol buah yang  sangat menggoda.

Panen Rambutan

Panen Rambutan

Hanya si Rapiah rupanya lagi ngambek, berbuah sangat sedikit, tidak maksimal, walau memang dasarnya varietas Rapiah ini memang umumnya tidak berbuah sangat lebat. Mungkin butuh peremajaan karena umurnya sudah cukup tua dan kurang perawatan. Sedangkan Binjai dan Lebak sarat dengan buah. Padahal ketiganya diperlakukan dan di tanam di area yang relatif sama.

Pohon-pohon ini bisa dikatakan sebagai tanaman organik, karena memang tidak pernah tersentuh pupuk kimiawi buatan pabrik maupus pestisida kimia. Tidak dilakukan pemupukan secara khusus, hanya sekedarnya saja. Sekitar 2-3 meter dari pokok batang dibuat lubang sekitar 1 m x 1 m, untuk menampung sampah organik berupa serasah daun dan sisa rumah tangga.

Demikian pula dengan pengendalian hama. Pada pohon-pohon buah yang ditanam di kebun perkampungan seperti ini biasanya tidak dilakukan sama sekali. Dibiarkan tumbuh alami apa adanya tanpa tersentuh pestisida kimiawi. Memang terkadang terserang ulat yang memakan sebagian daunnya. Walau tanpa upaya apapun untuk mengurangi tingkat serangannya, toh ternyata pohon tetap bertahan, tidak mati. Serangan seperti ini biasanya mengikuti semacam siklus yang kemudian akan reda dengan sendirinya.

Sahabat-sahabat sekalian …
Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, tanaman ini berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata “rambutan” berasal dari bentuk buahnya yang pada kulitnya terdapat rumbai yang menyerupai rambut.

Rambutan banyak terdapat di daerah tropis seperti Afrika, Kamboja, Karibia , Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Sri Lanka. (Wikipedia.org)

Ada banyak varietas rambutan unggul yang ditanam di Indonesia, tetapi  kali ini hanya akan disinggung 3 varietas saja yang kebutulan dumbuh di kebun kampung halaman mang Koko. Yaitu Rapiah, Lebak, dan Binjai.

Rambutan Rapiah, Lebak, dan Binjai

Rambutan Rapiah, Lebak, dan Binjai

Rambutan Rapiah
Varietas Rapiah berasal dari Pasar Minggu, buahnya berwarna hijau kekuningan dengan rambut yang sangat pendek dibanding jenis lain, kasar, agak jarang, dan berwarna hijau dengan ujung kemerahan. Rapiah mempunya sifat unggul dimana daging buahnya tebal, putih, kenyal, ngelotok, dan kering tidak berair. Ukuran buahnya relatif kecil, sekitar 18-20 gram. Rasanya manis dan kenyal dengan aromanya yang tidak tajam.

Rambutan Lebak
Varietas rambutan Lebak Bulus, atau sering disingkat dengan Lebak saja berasal dari Lebak Bulus, Pasar minggu, Jakarta Selatan. Pada tahun 1985 rambutan ini dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian. Buahnya berbentuk bulat dan berwarna merah. Rambut buahnya panjang, halus, agak jarang, dan berwarna merah dengan ujung kekuningan. Daging buahnya berwarna putih, kenyal, berair banyak, dan ngelotok dengan kulit biji melekat. Rasanya manis agak asam sehingga terasa segar. Bijinya berukuran sedang dan berbentuk lonjong. Produksi pohon per tahun cukup tinggi yaitu sekitar 50-100 kg.

Rambutan Binjai
Rambutan varietas Binjai berasal dari daerah Binjai, Sumatera Utara. Rambutan ini termasuk varietas terbaik di Indonesia. Rasanya manis, berair, sehingga terasa segar dimakan. Diantara 3 varietas yang tumbuh di kebun, varietas ini menjadi yang paling disukai. Buahnya berwarna merah tua. Bentuknya bulat agak lonjong. Kulit buahnya tebal dan agak keras. Rambut buahnya panjang, jarang-jarang, kasar. Daging buahnya berwarna putih, kenyal, dan ngelotok dengan kulit biji melekat. Bijinya bulat dan berukuran sedang.

Penampang Melintang Rambutan Verietas Binjai

Penampang Melintang Rambutan Verietas Binjai

Produktivitasnya memang tidak setinggi Lebak, per pohonnya hanya menghasilkan sekitar 40-68 kg/tahun. Tetapi penebas menghargai di kebun cukup tinggi, yaitu mencapai Rp 8.000,- per Kg (data pada bulan Januari 2014). Bandingkan dengan varietas Lebak yang hanya Rp 3.000,- per Kg.

Bagi penggemar tabulampot, varietas Binjai ini sangat disukai karena bentuk dan warna buahnya menarik, rimbun, sehingga menarik tampil di atas pot. Selain itu yang lebih penting adalah mudah dan cepat berbuah di pot dibandingkan varietas lain. Bibit yang berasal dari okulasi atau sambung pucuk setinggi kurang lebih 60 cm bisa berbuah kurang dari setahun setelah tanam di pot.

Rambutan mestinya bisa menjadi produk unggulan negeri kita. Buah eksotis ini mestinya bisa menjadi sajian di tempat-tempat bergengsi seperti hotel. Negeri kita adalah sorga buah yang luar biasa. Tetapi kenapa ya ? Di hotel-hotel berbintang buah yang disajikan hanya itu-itu saja : melon, semangka, anggur. Terkadang memang ada pepaya. Bukankan asyik jika ada di sana : mangga, rambutan, jambu, jamblang dsb. … he he he  😉

Salam, mang Koko


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.