Tembang Pucung, Teka-teki Ala Jawa

By mangkoko : last updated 22 Nov 2016

Si gadis kecil yang biasanya ceria menyanyikan “Let It Go!” keras-keras sambil bergaya bak Elsa di film Frozen besutan Disney, tiba-tiba ngambek. Raut mukanya cemberut berat gara-gara handphone-nya disita sang bunda.

“Dari siang sepulang sekolah BBM-an tak bosan-bosannya!”, gerutu sang bunda.
“Makan dulu sana Nok, sudah bunda siapkan di meja makan!”.
“Nggak mau!”, jawabnya sambil ngeloyor masuk kamar tidur.

Saya ikuti dia masuk kamar tidur, “Nok, handphone itu adalah alat komunikasi. Gunanya sebagai alat untuk memudahkan kita saling terhubung dengan keluarga dan teman-teman kita. Tetapi jangan sampai membuat kita melalaikan aktifitas wajib kita sehari-hari!”, kataku. (Saya tidak tahu pasti apakah kata-kata itu dimengerti oleh seorang anak berusia 9 tahun. Tapi biarlah, hanya kalimat itu yang sempat terlintas di kepala. Mudah-mudahan saja dia mengerti.)

Si Nok terus saja cemberut. Tiba-tiba entah kenapa, saya teringat sebuah tembang pucung yang sering saya dengar waktu kecil dulu. Spontan saya senandungkan mocopat tembang pucung sambil berbaring di sampingnya:

Bapak pucung, dudu watu dudu gunung
Dawa kaya ula
Gedhene anggegirisi
Yen lumaku si pucung lembehan grana

Si gadis kecil melongo melihat ayahnya menyenandungkan lagu aneh yang belum pernah dia dengar sebelumnya. “Itu tadi adalah salah satu tembang dalam bahasa Jawa namanya Mocopat Pucung“, kataku berusaha menjelaskan.

Siapakah bapak pucung itu?

Siapakah bapak pucung itu?

“Tapi ini bukan cuma sekedar tembang atau nyanyian, tapi juga mengandung teka-teki yang harus dijawab!”.
“Siapakah sesungguhnya bapak pucung?”, kataku bernada tanya.

Wow …
Tanpa dinyana sebuah keajaiban terjadi. Wajah cemberut mendadak sirna dari raut muka si Nok, mimik mukanya terlihat kepo, penasaran. Gurat cemberut tak berbekas lagi dari wajahnya, bagai mendung yang tersapu angin. Matahari kembali menyembul mencerahkan seluruh isi bumi.

“Ayah … aku kan nggak mengerti bahasa Jawa, itu artinya apa?”

Kemudian saya lantunkan lagi tembang pucung tadi sambil menterjemahkan artinya:

Bapak pucung, bukan batu bukan pula gunung
Panjang seperti ular
Besarnya luar biasa
Saat berjalan si pucung melambai-lambaikan hidung-nya

“Hayo apa tebakannya?”
“Apa ya ayah jawabannya, sulit amat sih yah!”
“Apa coba … sesuatu ketika dia berjalan, melambai-lambaikan hidungnya yang … !”.
“Oh, aku tahu yah, itu pasti …”, katanya sambil tertawa ha ha hi hi.

“Ada tebakan lagi nggak yah?”
“Jelas ada dong!”

—-||—-

Sahabat sekalian,
Apakah anda juga bisa menebak siapakah bapak pucung diatas? Pasti bisa dong! Namun jika nggak ketemu juga, saya tidak akan membuat anda penasaran terus mencari-cari jawabannya. Kuncinya, silahkan klik gambar tanda tanya di atas dan … bapak pucung akan muncul, memperlihatkan jati dirinya.

The sound of Indonesia (Credit image pada Indonesia-tourism.com)

The sound of Indonesia (Credit image pada Indonesia-tourism.com)

Tembang Pucung
Pucung adalah salah satu jenis tembang mocopat dalam budaya Jawa. Pucung diartikan pula sebagai pocong. Hiii .. terkesan horor ya?

Namun tembang-tembang pucung sebenarnya sangat jauh dari kesan itu. Biasanya berisi nasehat kehidupan yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan terkadang jenaka. Selain itu juga sering berisi hal-hal yang bersifat main-main (dolanan) dalam bentuk teka teki, seperti tembang yang saya dendangkan diatas. Nama “bapak pucung” biasanya menjadi tokoh rahasia yang harus di tebak jati dirinya.

Sahabat sekalian,
Apa yang sebenarnya terjadi pada si Nok anak saya?
Suasana hati yang sedang marah, kecewa, ngambek (tidak nyaman) tiba-tiba berubah ceria (nyaman)?

Apakah ini sekedar kebetulan belaka?
Ataukah diakibatkan oleh kehebatan tembang pucung?
Atau oleh sebab lain?

Keseimbangan VAK
Dalam khasanah psikoterapi terapan yang dikenal sebagai NLP (Neuro Linguistic Programming), adan sebuah konteks bahwa setiap orang memiliki SKILL (bakat bawaan) di dalam dirinya. Di dunia “human resouce”, kata skill biasanya diartikan sebagai sebuah keahlian yang didapat dengan cara belajar dan berlatih. Berbeda di NLP, skill diartikan sebagai bakat bawaan atau modal dasar yang selalu dimiliki setiap manusia. Yaitu kemampuan Visual, Auditory, dan Kinesthetic (VAK).

Visual berhubungan dengan kemampuan melihat dan membayangkan. Auditory berhubungan dengan berbicara dan mendengar, baik bicara yang terdengar dari mulut  maupun bicara di dalam hati. Sedangkan kinesthetic berhubungan dengan gerakan yang dilakukan oleh tubuh.

Gangguan keseimbangan diantara ketiganya akan mengakibatkan ketidaknyamanan dalam diri manusia. Biasanya diekspresikan berupa gestur: kecewa, kesal, boring, bahkan juga marah. Namun jika keseimbangan berhasil di pulihkan, maka akan terjadi keselarasan kembali. Kemarahan bisa berubah menjadi senyuman, kesedihan dan kekecewaan bisa menjelma menjadi kelegaan.

Kang Prasojo (sahabat saya), pernah membisiki, “Dik, VAK ala NLP ini mirip dengan konsep manunggaling (terjadinya keseimbangan) cipta rasa dan karsa dalam khasanah kearifan budaya Jawa”.

Bisa jadi bisikan kang Prasojo benar. Cipta itu visual, rasa adalah auditory dan karsa berhubungan dengan kinesthetic. CMIIW ya …

Beberapa kali saya mencoba melakukan “tuning” keseimbangan VAK pada diri orang-orang terdekat. Hasilnya sering membuahkan perubahan yang sangat signifikan. Saya sendiri terkadang merasa takjub, hasilnya luar biasa, seperti contoh cerita diatas.

Tips dasar untuk melakukannya sangat sederhana. Saya hanya mencoba menstimulasi naiknya unsur V, dengan cara membuat sesuatu yang menarik perhatian. Bisa berupa teka-teki, atau dengan bahasa tubuh tertentu yang unik dan aneh membuat mereka penasaran, sehingga perhatian mereka akan segera beralih penuh pada kita. Itulah tandanya unsur V telah mulai bangkit.

Langkah berikutnya, ibarat seorang pemancing yang umpannya telah disambar seekor ikan, maka anda tinggal menjaga agar supaya ikan yang telah tersangkut di pancing tidak akan terlepas. Caranya terserah pada improvisasi anda. He he …
(First Published on: Dec 2014)

Terima kasih tak terhingga pada:
Sang master NLP: bang Stef. Isaac Tamzil dan kang Puhong (Saiful Bahri) yang telah mengajarkan keajaiban yang asyik: untuk melakukan eksplorasi di kedalaman diri manusia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.