Doa Selamat Jalan Untuk Mong

By mangkoko : last updated 13 Dec 2014

Pagi ini, saat saya mengangkat telepon yang berdering, di seberang sana seorang sahabat masa kecil di kampung halaman menyampaikan sebuah kabar duka, “Ko sahabat kita Mong pagi ini telah dipanggil Yang Maha Kuasa!”, katanya lirih. Kabar-kabar ke teman-teman di Semarang ya!”, katanya lebih lanjut. “Ya Ton, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”, hanya ini kalimat yang sempat saya ucapkan.

Doa untuk Mong (Credit images pada Detikislam.com)

Doa untuk Mong (Credit images pada Detikislam.com)

Sahabat sekalian,
Kabar duka tidak beda dengan lonceng berdentang dari menara Gereja, atau bedug yang ditabuh dari Surau. Jika bunyi-buyian dari tempat ibadah menjadi tanda panggilan untuk untuk melaksanakan ibadah, maka sebuah kabar duka bisa terdengar lebih keras dari lonceng atau bedug mernjadi tanda bagi yang mendengar untuk berhenti sejenak, mengintrospeksi diri. Ada dimanakah posisi saya sekarang? Apakah telah siap menghadapi akhir episode perjalanan hidup?

Kita selalu diingatkan bahwa: siap tidak siap peristiwa itu pasti akan terjadi. Bisa kapan saja. Tidak ada hubungan dengan usia, pun tidak ada hubungan dengan sakit. Demikian pula dengan Mong sahabat masa kecil saya ini. Kabarnya tadi malam merasa sesak nafas dan pagi ini telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Saya teringat, ada sebuah kalimat sederhana yang sering saya dengar dari para tetua bahwa siklus kehidupan kita sebagai manusia adalah “hirnatbiti”, singkatan dari: lahir – sunat – rabi (menikah) – mati. Minimal ada 2 terminal yang selalu di lalui setiap manusia yaitu lahir dan mati. Sunat dan rabi tidak selalu dilalui.

Mong telah melawati semua terminal yang ada, hirnatbiti. Dengan meninggalkan isteri dan anak-anak yang masih berusia Sekolah Dasar. Lantas bagaimana nasip isteri dan anak-anaknya?

Kita terkadang lupa, bahwa semua itu hanyalah titipan. Ada sebuah puisi terakhir WS Rendra, yang dia tulis saat berada di ranjang rumah sakit. Puisi ini mengingatkan kita bahwa semua yang kita anggap “milik” yang ada di dunia ini sesungguhnya hanyalah titipan.

Renungan Indah – W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Akhirnya …
Kuucapkan: selamat jalan padamu Mong!
Teriring doa dari kami para sahabatmu, yang suatu saat pasti akan menyusulnmu juga.


One thought on “Doa Selamat Jalan Untuk Mong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.