Kang Sojo, Tak Butuh Bahagia

By mangkoko : last updated 26 Sep 2016

Entah kenapa sore itu tiba-tiba saja pengin berkunjung ke rumah kang Sojo. Seorang sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri. Nama sebenarnya adalah Prasojo, namun saya biasa memanggilnya: kang Sojo.

Kata prasojo dalam kosa kata bahasa Jawa artinya sederhana. Sungguh pas dengan pribadi beliau yang memang sangat sederhana, ramah dan apa adanya. Namun dibalik itu, terasa pancaran kepribadian kharismatik dan berwibawa. Saya selalu kangen untuk sekedar ngobrol santai dengannya.

Sepiring singkong rebus di rumah kang Sojo

Sepiring singkong rebus di rumah kang Sojo

“Kulonuwun kang!”, kataku sambil menaiki tangga emperan rumahnya.
“Eh … dik Koko, monggo masuk dik!”, sambut kang Sojo disertai senyum khasnya.

“Sudah kang, di emperan sini saja. Sekalian cuci mata, menikmati hijau asrinya halaman kakang”, kataku sambil berjalan menuju kursi kayu dengan ayaman rotan model baheula.

“Lha kok njanur gunung dik, kadingaren sore-sore sampai kesini, rak yo slamet to dik?”, kata kang Sojo membuka percakapan. Beliau ini kalau berbicara memang sering menggunakan bahasa gado-gado, bahasa Indonesia dan Jawa diaduk jadi satu. Kalimat itu kurang lebih artinya: tumben, sore-sore datang, semua pada baik-baik saja kan?

“Pangestunipun kang, nggak ada apa-apa kok, Cuma pengin dolan saja kok kang”, jawabku (ketularan kang Sojo menggunakan bahasa gado-gado).

“Mau minum apa: kopi atau teh?”
“Walah nggak usah repot-repot kang!”, jawabku, basa-basi ala Jawa.

“Yo wis, teh saja ya, aku ngerti kok, dik Koko lagi ngurangi kopi kan?”
“Iya kang, tuntutan sahabat yang di dalam sini, hipertensi!”, jawabku sambil meletakkan tangan di dada. Kemudian tanpa dikomando kami tertawa lepas bersama.

“Lha wong bersahabat kok dengan hipertensi to dik?”, kata dia sambil tersenyum menggoda.

“Wah, gayeng bener ini kalau kakang-adi sudah ngobrol …”, tiba-tiba mbakyu Lastri isteri kang Sojo berjalan dari dalam rumah sembil membawa nampan berisi 2 cangkir teh dan sepiring singkong rebus yang nampaknya masih hangat, kebul-kebul.

“Kok repot-repot to mbakyu!”, kataku.
“Nggak kok dik, tadi pagi kakangmu itu panen singkong di belakang rumah. Tapi ya cuma di rebus seperti ini. Ayo disambi!”, kata mbakyu Lastri sambil memperlihatkan lesung pipit di pipinya.
“Terima kasih mbakyu”, jawabku.

“Ayo dik diminum!”, kata kang Sojo mempersilahkan.
Kemudian kami berdua asyik menikmati teh nasgitel: panas, legi (manis) dan kental dari cangkir kami masing-masing.

Sambil mengunyah sepotong singkong rebus yang nikmat, saya lihat di meja depan tergeletak sebuah laptop yang masih menyala.

“Maaf lho kang, kedatangan saya jadi mengganggu nih!”, kataku, sambil melirik ke arah laptop.
“Oh, nggak apa-apa dik, tadi saya cuma baca-baca kok. Lagipula yang dibaca adalah cersil Kho Ping Hoo”, jawab kang Sojo sambil tersenyum.

“Lho ternyata Kho Ping Hoo ada versi soft-copy-nya ya kang?”, tanyaku antusias. (Maklum saya dulu adalah penggemar cerita silat Kho Ping Hoo).
“Wah … nggak tahu dik, saya dapat itu dari Satrio anakku, entah dia dapat dari mana!”, kata kang Sojo bersemangat.

“Menarik kang, saya jadi pengin baca-baca Kho Ping Hoo lagi, seperti dulu”, kataku antusias.
“Lho ternyata penggemar Kho Ping Hoo juga to?”
“Iya Kang, dulu sewaktu masih di bangku SMA”, jawabku.

Tanpa sadar angan-anganku jadi melayang jauh nun kala masih SMA dulu. Asyik banget kalau lagi baca cersil berlatar negeri China itu. Buku serial berukuran mini itu biasanya saya sewa dari taman bacaan yang populer/menjamur pada waktu itu.

Saya biasa menyewa sekaligus satu seri, berisi antara 20 sampai 30 jilid. Jadi jika ditumpuk bisa setinggi 30 cm. Jangan tanya dalam hitungan waktu berapa minggu, atau berapa hari menamatkan satu seri itu. Karena terkadang cukup sehari semalam nonstop tanpa berhenti hingga tamat.

“Silahkan dik, sambil dinikmati singkong rebusnya. Mumpung masih hangat!”, kata kang Sojo menyadarkanku, menarik kembali anganku kembali ke masa kini.

“Inggih kang, terima kasih”, jawabku sambil mengulurkan kembali mencomot sepotong singkong rebus hangat yang terasa sungguh nikmat.

“Apa yang menarik dari cerita-cerita Kho Ping Hoo?”, tanya kang Sojo tiba-tiba.
“Seru kang, ceritanya membuat penasaran. Sehingga terus memaku saya membaca hingga akhir”, jawabku.

“Betul dik, seorang pencerita jempolan seperti Kho Ping Hoo, seakan mampu menghipnotis pembacanya untuk terus membaca hingga akhir”.

“Bagi kakang sendiri apa yang menarik dari kisah-kisah Kho Ping Hoo?”, tanyaku
“Di sela-sela cerita, selalu ada hal-hal filosofis yang sangat menarik untuk dikaji. Contohnya ini:”, kang Sojo menunjukkan beberapa baris kalimat dari laptop-nya kepadaku:

Bahagia hanya sebuah kata, penuh daya tarik penuh rahasia. Dikejar dia lari, dicari dia sembunyi. Makin dibutuhkan semakin manja.  Bahagia hanya sebuah kata.

Harta benda bukanlah bahagia, nafsu berahi bukan bahagia. Dia bukan pula kebesaran nama, bukan pula kedudukan mulia. Tak mungkin didapat melalui pengejaran.

Seperti halnya kesenangan!

Yang mengejar bahagia selamanya takkan bahagia. Yang tak butuh bahagia adalah orang yang benar-benar bahagia. Itulah hakekat bahagia. Hanya sebuah kata belaka.

Jodoh Rajawali, serial Bu Kek Siansu, oleh Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

“Saya masih bingung manangkap makna ini kang!”, kataku sambil mengernyitkan dahi.
“Falsafah kearifan China klasik ini jika mau di telaah dengan jernih, menjadi mutiara yang berlaku universal, tanpa memandang suku, bangsa, maupun agama”, kang Sojo menerangkan.

“Coba aku tanya: dik Koko sekarang menginginkan kebahagiaan nggak?”
“Ya jelas ingin dong kang. Rasanya semua orang di dunia ini pasti menginginkan kebahagiaan”, jawabku mantap.

“Berarti sekarang dik Koko tidak bahagia kan?”
“Hmmmm … jadi tambah bingung kang”, jawabku.

“Begini: seseorang yang menginginkan sesuatu berarti dia tidak memiliki sesuatu itu kan? Misalnya ingin punya sepeda, berarti belum punya sepeda kan?”

Tanpa menunggu jawaban dariku, kang Sojo melanjutkan bicara:
“Sama dengan konsep kebahagiaan. Orang yang membutuhkan kebahagiaan, berarti dia belum bahagia. Namun ironisnya kebahagiaan ini seperti bayangan kita sendiri. Tak pernah terkejar seberapa cepat kita mampu berlari. Atau takkan teraih seberapapun kerasnya kita berusaha!”

“Berarti, kabahagiaan itu baru ada ketika kita tak lagi mengejarnya ya kang?”
“Betul dik”.

Kami berdua terus ngobrol asyik tentang falsafah kebahagiaan, dan tentu saja tentang cersil Kho Ping Hoo yang sarat dengan falsafah timur klasik. Sang waktu terasa begitu cepat berlalu. Di kejauhan terdengar kumandang Adzan Maghrib dari pengeras suara di Surau dekat rumah kang Sojo.

“Sudah maghrib kang, saya mohon diri.”, kataku pamitan.
“Kenapa buru-buru, kita sholat maghrib sekalian di Musholla, baru aku ijinkan pulang!, kata kang Sojo, dengan pura-pura menunjukkan raut muka galak.

“Baik kang”, jawabku takut-takut. Tanpa ada komando lagi, kami tertawa bareng. Dan segera beranjak menuju Mushola.

Terus terang.
Saya sendiri tak yakin dengan konsep: orang bahagia tak lagi butuh bahagia, seperti yang telah diterangkan kang Sojo. Namun tetaplah menarik untuk direnungkan.

Bagaimana pendapat anda?


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.