Menang Tanpa Ngasorake

By mangkoko : last updated 26 Sep 2016

Mungkin anda pernah mendengar ungkapan kearifan Jawa berikut: Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, lan Menang tanpa ngasorake. Iseng-iseng, terkadang ditambah versi plesetan-nya, sehingga tambah satu kalimat lagi yaitu : Jajan tanpa mbayar … he he.

Arti harfiah ungkapan diatas kurang lebih adalah: kaya (sugih) tidak harus punya banyak harta, sakti (digdaya) tanpa harus menggunakan senjata ampuh, pergi berperang (nglurug) tanpa membawa pasukan, dan meraih kemenangan tanpa harus mengalahkan pihak yang menjadi lawan.

Menang tanpa harus mengalahkan

Menang tanpa harus mengalahkan

Sekilas rangkaian nasehat (pitutur) ini seperti sebuah paradok. Misalnya kalimat pertama: Sugih tanpa bandha. Bukankah kalimat ini bertentangan dengan pendapat umum masyarakat? Orang kaya mestinya adalah orang yang memiliki banyak harta benda. Namun ungkapan ini berbicara sebaliknya.

Jika direnungkan lebih dalam, kalimat “sugih tanpa bandha” sesungguhnya sejalan dengan konsepsi psikologi budaya masyarakat Jawa. Kata sugih (kaya) bisa diartikan secara bebas sama dengan kata cukup. Orang kaya adalah orang yang tercukupi segala keperluannya. Seseorang yang memiliki banyak harta kekayaan belum tentu dalam hidup kesehariannya sudah merasa cukup. Bisa jadi dia selalu merasa kurang. Orang seperti ini tidak disebut sebagai orang kaya, biarpun memiliki banyak harta.

Demikian pula seseorang yang terlihat tidak memiliki banyak harta kekayaan, namun di dalam hidup kesehariannya selalu bersyukur, merasa lebih dari cukup apa yang telah dimiliki dan di dapatkan. Orang seperti ini sangat pantas disebut orang kaya biarpun kehidupan sehari-harinya tanpak sederhana, jauh dari gelimang harta benda.

Tiga kalimat berikutnya:  Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake mengajarkan kebijakan dalam menjalani persaingan dalam kehidupan. Tetap dengan gaya paradok yang merangsang kita untuk memahami secara mendalam, bukan sekedar mengartikan harfiah atau sekedar menyentuh permukaannya saja.

Dalam konstelasi suksesi pemimpin bangsa yang lagi hangat-hangatnya saat ini, kalimat “Menang Tanpa Ngasorake” manjadi ungkapan ikonik yang paling menarik di “utak atik gathuk” untuk menemukan relevansi dengan kondisi saat ini. Namun untuk menang tanpa mengalahkan membutuhkan kearifan dari sang pemenang. Hal paling dasar yang harus dilakukan adalah tidak perlu menggelar pesta kemenangan besar-besaran. Apalagi dengan tambahan bumbu meremehkan pihak yang dikalahkan. Pesta kemenangan cukup sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tidak lebih dari itu.

Coba ingat …
Ketika KPU selesai menghitung suara kala pilpres 2014, dan telah ada pasangan calon yang dinyatakan unggul, di media online segera muncul kalimat menyejukkan yang isinya kurang lebih: “Selamat kepada pemenang, dan terima kasih kepada yang tidak menang”. Ini adalah ungkapan bernuansa “Menang tanpa ngasorake”. Masyarakat memberi ucapan selamat kepada yang menang dan memberi penghargaan sangat tinggi bagi yang belum menang, dengan harapan pihat yang tidak menang tidak merasa dikalahkan. Walau di kemudian ternyata berbuntut agak panjang sampai ke Mahkamah Konstitusi.

Pidato sang terpilih pasca keputusan MK juga sangat menarik disimak, menyejukkan dan sangat kental suasana “Menang tanpa ngasorake”. Meskipun diucapkan dengan bahasa yang sungguh sangat sederhana dan spotan.

“Setelah keputusan MK ini, persaingan kedua kubu tidak ada lagi, yang ada hanyalah menatap ke depan membangun bangsa bersama-sama”, kata sang kandidat terpilih.

Jawaban seperti ini tentu saja tidak memuaskan, terutama bagi para kuli tinta,
“Bagaimana dengan upaya rekonsiliasi pak ?”, tanya seorang wartawan.
“Rekonsiliasi apa?, mereka berdua itu adalah sahabat saya dan kami bisa bertemu kapanpun, tidak ada masalah, tidak perlu rekonsiliasi!”

“Bukankah itu perlu untuk mendinginkan yang di bawah pak?, desak sang wartawan lebih lanjut.
“Yang di bawah itu sudah dingin, tidak ada masalah!“, kata sang terpilih sambil tersenyum penuh arti.

Sahabat sekalian …
Jawaban yang spontan, ringan seakan tanpa beban, seperti saat menjawab pertanyaan tentang rekonsiliasi dengan kalimat: “tidak perlu rekonsiliasi karena kami bersahabat baik“.
Jawaban seperti ini seakan sebuah loncatan jauh ke depan. Menyiratkan makna bahwa rekonsiliasi telah dilakukan saat itu juga, bahkan sebelum pertanyaan diajukan. Bukan baru wacana yang baru akan dilakukan.

Dalam pandangan saya, beliau ini paham benar kebijakan warisan leluhur yang menjadi judul artikel ini: “Menang tanpa ngasorake“.


2 thoughts on “Menang Tanpa Ngasorake

  1. Pingback: Daftar Peserta Kontes Sadar Hati | BELALANG CEREWET

  2. eksak

    ojo dumeh menang, nuli sawenang-wenang … :)

    mangKoko says:
    Sugeng rawuh mas, matur nuwun sampun kerso rawuh wonten gubug mangKoko.
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.