[BdH-2/9] Mengamati Diri Sendiri

By mangkoko : last updated 21 Aug 2015

Kontemplasi, merenung, atau upaya untuk memahami diri sendiri merupakan aktifitas universal yang dapat ditemukan pada tradisi spiritualitas agama-agama besar di dunia. Misalnya di dalam sufisme terkenal sebuah ungkapan yang berasal dari Hadits Nabi: “Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya”. Demikian pula di agama-agama lain seperti umat Kristiani melakukan retret, dan juga Vipassana pada tradisi Budhisme.

Kontemplasi, menyimak, mengamati diri kita sendiri

Kontemplasi, merenung, mengamati diri kita sendiri

Artikel tentang “Mengamati Diri Sendiri” ini sesungguhnya bisa menjadi artikel mandiri, karena berupa sebuah tips pengembangan diri (self development) bersifat universal yang melintas batas sekat-sekat primordialisme. Namun kali ini mangKoko sengaja kaitkan sebagai salah satu bagian dari seri tulisan “Bersahabat Dengan Hipertensi“, karena memang sangat relevan sebagai upaya holistik untuk menjalani hidup seimbang, sehat lahir batin.

Woow … sepertinya kok berat amat artikelnya mang !”,
“Ada kontemplasi, sufisme, retret, vipassana, primordialisme !
”.

Nggak berat lah ! Ikuti saja. Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang tradisi spiritualitas di dalam agama-agama besar tersebut. Hanya sekedar berbagi sebuah tips untuk melakukan sebuah perjalanan yang enteng-enteng saja. Anggaplah seperti sedang menonton adegan Kevin Costner lagi bercanda dengan seekor serigala di padang sabana Amerika dalam “Dance with Wolves”. Namun jika ternyata terasa berat, taruh dan tinggalkan saja. He he …

Mulai saja ya …
Mungkin sahabat sekalian pernah dengar nama Jiddu Krishnamurti ?
Beliau ini adalah seorang pejalan spiritual yang sangat menarik, pandangan-pandanganya out of the box, sehingga sering membingungkan,alias tidak mudah untuk dimengerti. Biografi tentang beliau silahkan di googling sendiri, kutipan ceramah dan buku-buku yang ditulis banyak tersebar di internet. Jika penasaran, ingin memahami lebih jauh buah pikiran dan renungan beliau, anda harus benar-benar “open mind”, mau membuka lebar-lebar hati dan pikiran. Analoginya, harus kosongkan terlebih dahulu gelas yang ada di kepala anda. Tapi mudah-mudahan anda tidak penasaran, dan saya juga tidak menyarankan untuk membaca sendiri tulisan-tulisannya. Sungguh … bikin jidat berkerut!

Seorang ilmuwan ketika ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu obyek, dia akan melakukan penelitian, dengan cara menyimak, mengamati lebih seksama obyek yang sedang diteliti dan kemudian membuat catatan harian dari hasil pengamatan. Demikian pula dengan saya atau anda jika ingin memahami diri sendiri. Harus menyimak, mengamati dengan seksama diri kita sendiri.

Mengamati diri sendiri, tanpa menghakimi

Mengamati diri sendiri dengan nyaman, tanpa menghakimi

Di dalam salah satu bukunya yaitu: The Book of Life, J. Krishnamurti menyarankan untuk mencoba mengamati atau menyimak dengan nyaman diri kita sendiri, gerak-gerik pikiran dan batin kita. Tidak perlu mengambil tempat dan waktu khusus untuk melakukannya. Yang penting tidak sedang mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh seperti menjalankan mesin, menyetir mobil, atau sedang mengendarai motor.

Menyimak dengan nyaman adalah mengamati tanpa menghakimi. Ketika sedang marah, kita amati kemarahan yang sedang terjadi. Tidak perlu mencoba menahan kemarahan. Cukup diamati dan disadari : “Oh saya sekarang sedang marah”. Ketika sedang senang, coba amati saja perasaan senang tersebut, tanpa mencoba memberi penilaian apapun. Atau ketika sedang sedih dan pengin menagis, ya … menangis saja jangan di tahan-tahan. Sekali lagi sekedar mengamati, tanpa membuat penilaian apapun.

Seakan seperti menonton adegan sebuah film, namun tidak memberi penilaian atau komentar apapun. Jika kita bisa melakukan ini, maka akan dapat menikmati dan memahami lebih dalam setiap adegan yang tersaji.

Jika anda suka nonton pertandingan sepakbola, cobalah sekali-kali menonton siaran langsung (live) tetapi tanpa menjagokan salah satu kesebelasan yang bertanding. Usahakan juga untuk tidak berharap dan berkomentar apapun selama jalannya pertandingan. Sekedar nonton dan nikmati pertandingan.

Kemungkinan nantinya anda akan menemukan pengalaman atau perasaan unik yang sulit diceritakan terjadi pada diri anda. Namun pengalaman atau perasaan unik ini tidak selalu terjadi. Dan itu bukan menjadi tujuan kita. Maka jangan mengharapkan untuk terjadi. Jika selalu mengharapkan munculnya pengalaman dan perasaan unik tersebut, justru tujuan utama untuk berlatih menyimak tidak akan tercapai.

Lama-kelamaan, setelah terbiasa menyimak dengan nyaman tanpa menghakimi, kita akan menjadi lebih peka mengetahui apa-apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kita. Baik tubuh fisik maupun psikis. Lonceng-lonceng peringatan akan adanya sesuatu yang tidak beres di dalam tubuh akan semakin jelas terdengar dan dipahami.

Kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang biasanya memicu kemarahan, tanpa perlu ditahan, sekarang berubah tidak lagi menjadikan anda marah. Demikian pula kejadian yang biasanya membuat sedih, sekarang menjadi hal yang biasa saja, tidak lagi mengganggu dan membuat menangis sedih.

Ada sebuah cerita inspirasional namun penulis aslinya tidak diketahui yang sejalan dengan upaya berlatih mengamati diri sendiri.

Suatu, ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan kepada sang anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah…

Hari pertama anak itu telah memakukan begitu banyak paku ke pagar setiap kali dia marah… lalu secara bertahap jumlahnya berkurang. Hal-hal yang tadinya selalu membuat dia marah mulai berkurang, tidak lagi memicu timbulnya kemarahan.

Akhirnya tibalah waktu dimana si anak merasa hampir tidak pernah marah lagi. Dia beritahukan hal tersebut kepada sang ayah. Sang ayah kemudian mengusulkan untuk mencabut satu paku setiap kali menemukan sesuatu yang tadinya membuat marah, sekarang tidak lagi memicu amarah.

Hari-hari berlalu dan si anak akhirnya memberitahu kepada sang ayah bahwa ia telah berhasil mencabut semua paku-paku tersebut. Lalu sang ayah menuntun si anak menuju pagar belakang rumah.

“Hmmz.., kamu telah berhasil dengan baik anakku, tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. pagar ini tidak akan sama seperti sebelumnya. Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain…”

“Kamu bisa menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu tetapi tidak perduli kamu meminta maaf luka tersebut tetap ada dan luka karena kata-kata lebih buruk dari luka fisik…”

“Jadi bukankah akan jauh lebih baik jika engkau tidak lagi mudah marah, tidak lagi harus membuat lubang yang tetap akan membekas seumur hidup?”

Demikian sahabat sekalian, bagian kedua dari seri tulisan “Bersahabat Dengan Hipertensi”. Mudah mudahan akan bisa berlanjut ke bagian berikutnya yaitu “Mengenal Sang Sahabat”. 

Notes:
Credit images pada pixabay.com


Share :

5 thoughts on “[BdH-2/9] Mengamati Diri Sendiri

  1. mangkoko Post author

    Spesial terima kasih kepada mbak Ely (duniaely.com) yang rajin berkunjung dan terus memberi semangat sehingga tulisan ini bisa segera tayang …

    Reply
  2. Dunia Ely

    Wow …. saya harus baca lagi nih mas, baca sekali kurang :)

    Saya baru tahu tentang mengamati diri sendiri mas,rasanya jarang melakukan kecuali kalau pas nangis, ya nangis begitu saja, begitu juga kalau ngakak, ya ngakak lepas. Sayang baca Artikel ini usai piala dunia, kalau enggak mungkin bisa dipraktekkan nonton pertandingan Bola live kayak kemarin pas masih berlangsung beberapa kali nonton dua kesebelasan yang nggak kujagokan tapi ya pakai komentarlah 😀

    Kalau cerita tentang anak laki laki pemarah di ending postingan ini aku pernah membacanya mas , keren ya, bikin terharu, membayangkan berapa banyak bekas luka seperti saatpaku itu dicabut lagi

    Ini postingan keren mas, pasti banyak yang suka baca buat ngambil hikmahnya, sayang nggak bisa kureblog ya, karena hanya di wordpress.com yang bisa

    Sama sama mas, terima kasih banyak ya postingannya :)

    mangKoko says:
    :-)

    Reply
  3. ysalma

    saat nonton WC ndak pernah seperti yang disarankan, selalu memihak dan ngoceh, kadang lebih deg-deg-an daripada yang sedang main.
    dapat ilmu baru dari tulisan ini, mengamati, melihat, tanpa menilai, tetapi semua tetap dilakukan dengan hati, akan bisa mendengar suara diri *sepertinya bakal menikmati hidup pd setiap detiknya.

    mangKoko says:
    Kelihatannya sangat sederhana, namun ketika dicoba, ternyata tidak mudah lho mbak !

    Reply
  4. asty

    setiap kali usai meledakkan kemarahan kusadari seseorang telah kulukai dan itu juga melukaiku…mang..namun betapa sulit utk segera bs wujudkan asa mencabut paku2 di hati mereka..bahkan di hati sendiri…

    mangKoko says:
    Betul juga ya mbak Asty, lebih baik memang jika tidak perlu menancapkan paku dimanapun, agar tidak perlu ada yang terluka, dan tidak perlu suatu saat harus mencabutnya kembali.
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.