Mengasah Harmoni Dengan Angklung

By mangkoko : last updated 03 Oct 2014

Angklung adalah warisan budaya bangsa yang sungguh luar biasa. Tidak sekedar sebagai sebuah alat musik, tetapi melekat nilai ekologis dan edukasi yang adiluhung. Bermain angklung berarti menikmati estetika musik sekaligus mengasah harmoni. Kenapa ? Karena angklung tidak bisa dimainkan sendirian. Harus dimainkan dalam harmonisasi sebuah team agar tercipta keselarasan dan keindahan.

Instrumen Musik Angklung, terbuat dari bambu

Instrumen Musik Angklung, terbuat dari bambu

Konon angklung berasal dari kata “angka” yang bisa berarti nada dan “klung” sebagai terjemahan bunyi alat musik tersebut saat dimainkan, yang bersuara “klung” dari bambu yang digoyang-goyangkan atau digetarkan. Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa angklung berasal dari kata dalam bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yang direpresentasikan dari gerakan pemainnya yang berayun-ayun seirama dengan nada-nada yang dimainkan. Alat musik tradisional ini di kenal dibeberapa daerah di Jawa dan Bali. Tetapi angklung paling terkenal adalah angklung dari ranah Parahiyangan.

Instrmen angklung: melodi 2 tabung, melodi 3 tabung, angklung akompanyemen mayor dan minor

4 Jenis Instrmen angklung: melodi 2 tabung, melodi 3 tabung, angklung akompanyemen mayor dan minor (Credit foto pada Seni Budaya Paramita)

Komponen utama angklung berupa tabung bambu yang disatukan oleh rangka yang juga terbuat dari bambu pula. Tabung berjumlah 2 sampai 4 batang tersusun dari kiri berukuran pendek dan semakin kekanan semakin tinggi. Ini mengibaratkan sebuah keluarga. Bisa disebut keluarga jika paling tidak ada 2 orang di dalamnya, yaitu suami dan isteri. Kemudian berkembang menjadi 4, bertambah 2 setelah anak-anak lahir. Inilah personifikasi sebuah keluarga ideal.

Satu instrument angklung baik 2 tabung, 3 tabung maupun 4 tabung akan mengeluarkan paduan suara dalam satu nada saja. Filosofinya seperti sebuah keluarga, berapapun jumlah personal yang ada didalamnya, akan selalu beraktifitas secara harmoni, saling dukung, bekerjasama membentuk sinergi. Hasilnya yang terdengar diluar adalah satu nada yang indah. Bukan sebuah nada sumbang.

Angklung selalu dimainkan bersama-sama dalam satu orkestra. Ini adalah ibarat sebuah kehidupan bermasyarakat. Bagaikan bersatunya beberapa keluarga untuk memainkan satu lagu yang sama dalam irama keselarasan. Masing-masing keluarga (baca: nada angklung) tidak bermain sendiri-sendiri. Kapan nada A harus berbunnyi dan kapan giliran nada lain yang gantian berbunyi untuk membentuk satu orkestra nada-nada menjadi sebuah alunan lagu yang indah didengar. Setiap nada harus fokus, menyimak dan mengerti benar kapan harus berbunyi dan kapan harus diam.

Anak-anak berlatih angklung, mengasah harmoni

Anak-anak berlatih angklung, mengasah harmoni

Dengan demikian, bukankah angklung adalah warisan karuhun nenek moyang kita yang luar biasa? Orkestra angklung seakan sebuah tata kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, saling bekerja sama membentuk sebuah kehidupan masyarakat yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi. Berlatih bermain angklung seakan-akan seperti belajar membangun harmonisasi.

Warisan yang luar biasa ini tidak ada salahnya terus dilestarikan. Menjadi bagian dari kekayaan khasanah budaya bangsa yang terus di wariskan turun-temurun ke generasi yang akan datang.


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.