[BdH-3/9] Mengenal Sang Sahabat

By mangkoko : last updated 21 Aug 2015

Mengenal Sang Sahabat adalah salah satu “gerbong” dari seri tulisan tentang Bersahabat Dengan Hipertensi. Yang dimaksud “Sang Sahabat” tentu saja adalah hipertensi itu sendiri. Mengenal dengan benar apa itu hipertensi, bagaimana karakter, gejala umum dan faktor-faktor pemicu menjadi hal dasar yang paling krusial.

Mengenal Sang Sahabat adalah bagian ke 3 dari seri tulisan Bersahabat Dengan Hipertensi. Bagian ke 3 ini merupakan sesi yang sangat penting, tentang tinjauan hipertensi dari sisi medis. Tentu saja sisi medis dari kacamata orang awam.

Mengukur tekanan darah sendiri dengan tensimeter manual

Mengukur tekanan darah sendiri dengan tensimeter manual

Apakah hipertensi itu ?
Badan Kesehatan Dunia – World Health Organization (WHO) mendefinisikan hipertensi atau “tekanan darah tinggi” sebagai suatu kondisi dimana tekanan cairan darah di pembuluh arteri terus menerus berada di atas ambang normal. Tekanan darah normal bagi orang dewasa adalah 120 mmHg ketika jantung berdetak (sistolik) dan 80 mmHg saat jantung berelaksasi (diastolik). Ketika tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih maka kondisi tersebut dianggap sebagai hipertensi.

Diperkirakan 1 diantara 3 (sepertiga) penduduk dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi. Sekitar separoh angka kematian seluruh dunia disebabkan oleh stroke dan gangguan jantung. Nilai tekanan darah yang selalu tinggi sangat beresiko merusak jantung dan sistem pembuluh darah pada organ yang sangat penting yaitu otak dan ginjal.

Jika dibiarkan tidak terkontrol, hipertensi dapat menyebabkan pembengkakan jantung yang bisa berakibat tenjadinya gagal jantung. Penyumbatan pada pembuluh darah dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Jika hal itu terjadi di otak maka dapat mengakibatkan stroke. Hipertensi juga dapat menyebabkan gagal ginjal, kebutaan, dan gangguan kognitif.

Ironisnya hanya 25% penderita yang melakukan pengobatan. Bahkan lebih miris lagi hanya separohnya atau sekitar 12,5% saja yang melakukan pengobatan atau pengendalian secara intensif. Gejala-gejala yang biasa dirasakan penderita tekanan darah tinggi adalah sakit kepala, rasa kaku atau pegal di sekitar tengkuk, pusing berkunang-kunang, berdebar di dada, telinga terasa berdenging, sesak napas, pusing, nyeri dada, dan pendarahan di hidung seperti mimisan. Namun gejala-gejala ini dilaporkan tidak selalu timbul. Banyak orang mengaku tidak merasakan gejala sama sekali, padahal sedang berada pada kondisi hipertensi. Inilah kenapa hipertensi sering disebut sebagai “the silent killer”, tidak ada gejalanya namun tiba-tiba menyebabkan kematian. Antisipasi terbaik agar hipertensi terkendali adalah dengan mengukur tekanan darah secara rutin, tanpa perlu menunggu timbulnya gejala.

Pernyataan bahwa hipertensi sering tidak ada gejalanya sesungguhnya perlu di teliti lebih lanjut. Saya lebih percaya bahwa sesungguhnya bukan tidak ada gejala tetapi mengabaikan gejala yang timbul. MangKoko sendiri tidak pernah merasakan gejala seperti pusing, sakit kepala, nyeri dada atau mimisan saat tekanan darah sedang meninggi. Namun selalu saja ada perasaan kurang enak yang khas muncul dari dalam tubuh, seakan sebuah lonceng peringatan yang meminta perhatian akan adanya sesuatu yang kurang beres. Jika kemudian diukur dengan tensimeter, biasanya memang tekanan darah sedang meninggi.

Sekali lagi bahwa mengukur tekanan darah secara rutin menjadi antisipasi terbaik mendeteksi timbulnya hipertensi. Bahkan bagi penderita hipertensi manjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Toh mengukur tekanan darah bukanlah hal sulit. Di semua klinik dan praktek dokter selalu tersedia tensimeter untuk mengukur tekanan darah. Sangat disarankan bisa mengukur tekanan darah sendiri di rumah. Apalagi saat ini telah banyak tersedia tensimeter digital yang sangat mudah digunakan oleh masyarakat umum. Kita tinggal pasang pengikat velcro di lengan, pencet tombol start dan anda akan mendapatkan hasil pengukuran sistolik dan diastolik tekanan darah anda.

Bisa pula belajar mengukur tekanan darah sendiri dengan tensimeter manual. Tensimeter manual dipercaya lebih akurat dibanding penggunaan tensimeter digital. Jika anda perhatikan para dokter, umumnya mereka mengukur tekanan darah pasien dengan menggunakan tensimeter manual, baik yang berjenis air raksa yang berbentuk kotak panjang maupun spygmomanometer yang berbentuk bulat dan berjarum seperti jam.
(Lihat cara mengukur sendiri tekanan darah dengan tensimeter manual pada gambar diatas)

Apa sesungguhnya penyebab hipertensi ?
Di masyarakat sering terjadi kerancuan. Seorang yang sedang marah dikomentari:
Jangan marah nanti darah tinggi lho !

Marah memang menaikkan tekanan darah, tetapi seorang pemarah belum tentu menderita hipertensi. Demikian pula sebaliknya, seorang penyabar belum tentu tidak terkena hipertensi. Jadi hipertensi bisa menghinggapi siapapun.

Apakah hipertensi itu ?

Apa sesungguhnya penyebab hipertensi ?


Ada 2 kategori hipertensi.
I. Yang pertama adalah hipertensi esensial atau sering pula disebut hipertensi primer.
II. Kategori kedua disebut hipertensi Sekunder.

I. Hipertensi Esensial

Penyebab spesifik terjadinya hipertensi esensial sampai sekarang tidak diketahui. Jenis hipertensi ini yang paling sering ditemui, jumlahnya diperkirakan mencapai 90-95%. Konon penyebab terbesar hipertensi esensial adalah faktor keturunan dan gaya hidup yang tidak sehat. Sehingga ada 2 faktor utama, yang pertama faktor yang tidak bisa diubah dan yang kedua faktor yang bisa diupayakan pengendaliannya.

Faktor yang tidak bisa diubah meliputi ras, usia, riwayat keluarga, dan jenis kelamin.

  • Ras berkulit hitam beresiko lebih tinggi terkena hipertensi dibanding ras berkulit putih.
  • Semakin bertambahnya usia seseorang, semakin tinggi pula resiko hipertensi.
  • Seorang anak yang salah satu orang tuanya mengidap hipertensi memiliki resiko 25% terkena hipertensi. Jika kedua orang tua mengidap hipertensi, resikonya bertambah menjadi 60%.
  • Hipertensi lebih banyak ditemukan pada kaum pria.

Faktor resiko yang bisa diupayakan untuk dikendalikan biasanya berhubungan erat dengan gaya hidup seseorang, meliputi Gaya Hidup Instan, pola makan tidak sehat dan obesitas.

Gaya hidup instan
adalah pola hidup keseharian yang selalu berteman dengan stress, tekanan pekerjaan bertubi-tubi, selalu terburu-buru, selalu kekurangan waktu, dan kurang olah raga.

Stress mestinya dikelola dengan baik. Kenapa disebut mengelola stress, bukan mencegah stress ?
Karena selama manusia hidup, stress akan selalu ada. Dengan management diri secara benar, faktor-faktor resiko negatif akibat stress bisa diminimalisir. Di artikel sebelumnya: Mengamati Diri Sendiri ada sebuah latihan sederhana untuk memahami diri sendiri, bersahabat dengan diri kita sendiri. Mudah-mudahan stress tidak lagi menjadi gangguan dan amarah yang sering menyergap tiba-tiba menjadi lebih terkendali.
Anda isa mencobanya !

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah menjadikan olah raga sebagai gaya hidup keseharian. Olah raga yang baik  bukan olah raga berat, porsi terbaik adalah sedikit namun rutin. Jalan cepat sekitar 30 menit dengan frekuensi 3 kali seminggu sudah cukup. Lihat artikel tentang jalan cepat atau brisk walking yang sangat ideal untuk membakar lemak dan mengoptimalkan kerja jantung.

Pola makan tidak sehat
Gaya makan serba instan menjadi tersangka utama pola makan tidak sehat. Makanan instan cenderung menggunakan zat pengawet dan penyedap rasa sintetis yang mengandung natrium dalam kadar tinggi. Kelebihan natrium di dalam tubuh menjadi pemicu utama meningginya tekanan darah.

Obesitas
Obesitas sesungguhnya adalah akibat dari gaya hidup instan dan pola makan yang tidak sehat. Berat badan berlebih umumnya akan disertai penyempitan pembuluh darah akibat lemak berlebih sehingga mengakibatkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah.

II. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder terjadi karena adanya gangguanpada organ tubuh terutama ginjal. Karena ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang berperan dalam pengaturan tekanan darah. Kasus hipertensi sekunder jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 5-10% saja dari penderita hipertensi keseluruhan. Umumnya hipertensi sekunder bisa kembali normal ketika faktor penyebabnya disembuhkan.

Demikian selintas tentang hipertensi …
Memahami dengan baik dan benar menjadi kunci utama untuk bersahabat dengan hipertensi, sahabat yang telah menjadi tamu tetap di dalam tubuh kita. Bagaimanapun juga hipertensi mesti harus dikendalikan, bahkan jika perlu harus terus diobati.

Bagaimana cara pengobatan hipertensi yang baik ?
Sebaiknya menggunakan obat resep dokter atau obat alternatif ?

Jawabnya akan dikupas di tulisan berikutnya yang berjudul:  Obat resep dokter atau alternatif ?
Mohon bersabar ya …


Share :

2 thoughts on “[BdH-3/9] Mengenal Sang Sahabat

  1. Nunu El Fasa

    Bokapku hipertensi mas. Tiap gak cocok atau ada masalah sedikit kena stress deh langsung ke hupertensi

    mangKoko says:
    Stress memang menaikkan tekanan darah, namun jika stress-nya mereda, tekanan darah biasanya ikut turun juga kok

    Reply
  2. Helda

    Bapak saya juga hipertensi, kemungkinan besar karena keturunan. Beliau perokok dan penikmat kopi, sering pula begadang, mama dan adik saya yang rajin “ngomeli” :) karna saya sudah tidak tinggal serumah lagi dengan ortu. Tapi sekarang semua sudah mulai dikurangi. Alhamdulillah. Info yang sangat bermanfaat, Mas.

    mangKoko says:
    Hipertensi (sahabat saya ini) mungkin ada faktor turunan dari ibu yang sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa terkena stroke akibat tekanan darah yang tidak terkendali.
    Trims mbak Helda sudah berkunjung …
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.