Menghitung Suara Klakson

By mangkoko : last updated 23 Oct 2015

Menghitung suara klakson? Untuk apa, seperti kurang kerjaan aja! Iya sih. Menghitung suara klakson adalah tantangan dari seorang sahabat. Saat kami numpang tidur di apartemen tempat dia tinggal. Sahabat saya tersebut bermukim di sebuah kota kecil di Jerman. Braunscweig nama kotanya.

klakson mobil

Menghitung Suara Klakson

Bagaimana ceritanya ?
Dulu, semasa tinggal di Bandung, saya mendapat tugas untuk mengikuti sebuah program JDP (Joint Development Project) di sebuah kota eksotis yang terletak di Jerman bagian utara bernama Braunschweig. JDP merupakan proyek teknikal berwujud kerjasama antara dua lembaga Indonesia dan Jerman untuk mendesign sebuah peralatan instrumentasi untuk keperluan industri penerbangan di Indonesia. Sebenarnya bukan tentang project itu yang ingin saya ceritakan. Tetapi tentang pengalaman sederhana namun sangat mengesankan saat tinggal di sana, sebuah pengalaman “menghitung suara klakson” yang tak terlupakan.

Kota Braunschweig adalah “sister city” tertua dari kota Bandung, diresmikan pada tahun 1960. Kedua kota ini menjalin kemitraan dan kerjasama erat karena memiliki beberapa kesamaan. Salah satunya karena masing-masing memiliki perguruan tinggi teknik tertua dan sangat bergengsi. Kita tentu tahu Bandung memiliki Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Braunschweig memiliki Technische Universiteit Braunschweig (TUB). Banyak mahasiswa program S2 dan doktoral dari Indonesia, terutama dari ITB yang menuntut ilmu disana.

Setiap kali ditugaskan ke sana, kami biasanya tidak menginap di hotel, tetapi numpang di flat atau apartment para sahabat yang sedang kuliah di Braunschweig. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat biaya, supaya uang saku tersisa agak longgar untuk sekedar membeli oleh-oleh.

Salah seorang sahabat kami yang apartment-nya sering kami gunakan untuk numpang menginap adalah bang Saul. Selain tempat menumpang, mereka juga banyak membantu kami menjadi guide selama tinggal di negeri asing.

Bang Saul sudah sangat faham karakter masyarakat dan lingkungan kota Braunschweig. Saat lagi ngobrol santai saling bergai kabar, beliau memberi tantangan yang unik pada saya:

Ko, selama disini, coba kamu hitung berapa kali kamu mendengar suara klakson!
Buat apa menghitung suara klakson bang ?”, tanyaku keheranan.
Coba saja deh … nanti kamu akan menemukan sesuatu yang unik dari kota ini”, jawab bang Saul sambil tersenyum penuh teka-teki.

Tentu saja tantangan ini menimbulkan penasaran. Maka selama beraktifitas di kota ini saya mencoba buka mata dan tentu saja buka telinga, seberapa sering sih suara klakson mobil atau motor terdengar. Hari pertama saya tak mendengar sekalipun suara klakson. Demikian pula hari kedua dan ketiga, tak pernah terdengar suara klakson.

Wow … membuat semakin penasaran. Padahal kami tidak sembunyi terus di kamar lho! Agenda pagi sampai sore hari kami pergi ke Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt (DLR) – German Aerospace Center,  untuk mengerjakan proyek dengan team-nya Mr. Uwe Schramm. Malam hari jika tidak capek kami jalan-jalan ke down town sekedar cuci mata. Sehingga selalu melihat mobil berlalu lalang di jalanan.

Jangan-jangan mobil-mobil disini nggak pada pakai klakson ya bang ?”, tanya saya pada bang Saul.
Ya nggak dong, orang-orang disini memang jarang membunyikan klakson”, jawab dia sambil tersenyum.

Saya jadi semakin tertarik untuk mengamati lingkungan dan tradisi masyarakat yang jarang memencet klakson ini. Dilihat sekilas saja akan kelihatan penataan kotanya sangat baik, sangat bersih, asri dan serba tertata rapi. Banyak bagunan-bangunan tua yang terawat dan masih berfungsi dengan baik sebagai rumah tinggal dan area komersial.

Transportasi umum berupa trem listrik dan bus kota menjadi pilihan favorit masyarakat. Kondisinya sangat layak pakai dan tepat waktu, sehingga nyaman digunakan. Selalu ada beberapa kursi yang diberi tanda palang hijau, yang di peruntukkan bagi orang-orang yang perlu dibantu seperti orang-orang berusia lanjut, penyandang disabilitas, dan wanita hamil. Sungguh merupakan tradisi budaya toleransi sosial yang mengagumkan.

Nyamannya system transportasi umum mengakibatkan minimnya penggunaan mobil pribadi. Pengendara motor juga jarang sekali terlihat. Mungkin karena dinginnya suhu udara sehingga naik motor bukan menjadi pilihan yang tepat. Mobil-mobil yang beroperasi di sana umumnya memiliki pemanas, sehingga jok mobil terasa hangat jika diduduki.

Di kanan-kiri jalan umumnya terdapat jalur khusus sepeda dan trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Saya pernah ditegur seorang pengendara sepeda karena tanpa sadar telah berjalan kaki di jalur sepeda. Dengan ramah dia mengatakan bahwa sebaiknya saya tetap berjalan di trotoar untuk pejalan kaki, supaya tidak membahayakan diri sendiri dan mengganggu pengendara sepeda. Tentu saja ngomongnya pakai bahasa Tarzan, karena konon orang-orang Jerman jarang yang bisa bahasa Inggris.

Orang-orang disana juga terlihat cukup ramah. Mr. Uwe Scram sebagai tuan rumah pernah mengajak kami makan malam di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Rumahnya sederhana, namun kelihatan asri dan nyaman ditinggali. Isterinya berusaha menjamu kami sebaik-baiknya, dengan menyajikan masakan khas Jerman terenak yang di masak sendiri.

Kami juga diajak ke resto yang spesial menyajikan menu dari keju (chese) terbaik. Namun tetap saja perut yang biasa terisi nasi ini menjadi berontak. Namun kami selalu teringat pesan pak Bos di Bandung yang juga seorang alumnus Jerman, katanya:

Jangan berpikir selera jika makan di sana, anda harus paksa menelan makanan, biarpun lidah dan perut meronta-ronta berusaha menolak. Karena ini adalah persoalan bertahan hidup!”. He he, ada-ada saja pak bos …

Untung saja dengan petunjuk-sahabat sahabat di sana, kami menemukan tempat makan yang bisa diterima perut asli Indonesia milik kami. Yaitu resto masakan china dan kedai kebab yang umumnya di kelola orang keturunan Turki.

Salah satu souvenir Braunschweig yang masih tersisa

Salah satu souvenir Braunschweig yang masih tersisa

Hari minggu umumnya toko-toko dan pusat perbelanjaan tutup, namun ada acara lain yang sangat menarik bagi kami, yaitu mengunjungi Flohmarkt. Flohmarkt adalah semacam pasar kaget yang menjual pernak-pernik barang-barang baru maupun bekas yang biasanya diadakan pada hari-hari libur.

Segala macam barang di jual disana, ada makanan, pakaian, souvenir dan segala macam pernak-pernik keperluan rumah tangga. Penjualnya dari berbagai usia, dari anak-anak sampai orang tua. Jika dilihat dari postur tubuh dan wajahnya mereka berasal dari berbagai suku bangsa: Jerman, Rusia, Turki, Cina dan lain-lain. Salah satu yang menarik dari pasar ini karena harganya relatif murah dan bisa ditawar. Lagi-lagi disini ketrampilan berbahasa Tarzan menjadi sangat bermanfaat.

Tradisi kehidupan sosial kemasyarakatan di kota ini sungguh sangat menarik, sangat pantas dijadikan teladan. Kesan umum dari kita bahwa orang-orang barat itu kurang ramah dan individualis, tidak sepenuhnya benar. Saya lihat mereka cukup ramah, bersahabat. Selain itu mereka sangat disiplin, toleran, jujur, dan menghargai hak orang lain.

Jika budaya perilaku seperti ini diimplemantasikan di jalanan akan menjadi tradisi berlalu lintas yang sangat tertib. Hampir tidak ada yang melanggar peraturan lalu-lintas. Para pengendara sangat menghormati para pejalan kaki dan menghargai hak pengendara lain. Jadi sangat wajar jika klakson seakan tidak lagi diperlukan. Biarpun tidak ada kondektur di angkutan umum, konon hampir tidak ada penumpang yang tidak membeli karcis.

Peraturan lalu lintas benar-benar di patuhi meskipun tidak ada polisi yang berjaga disana. Saya sempat tertegun ketika melihat segerombol orang tetap berdiri tertib di pinggir jalan karena lampu tanda menyeberang masih merah. Padahal waktu itu jalanan sangat sepi tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Mereka baru menyeberang ketika lampu penyeberang sudah menjadi hijau.

Selama 3 minggu tinggal di Braunschweig, ternyata saya tidak sekalipun mendengar klakson dibunyikan. Pengalaman sederhana ini sungguh tak pernah terlupakan, bahkan kemudian selalu menjadi mimpi dan harapan: Kapan ya di kota-kota di negeri kita tercinta ini bisa se-asyik Braunschweig ?

Dan kapan bisa kembali lagi ke sana ya? :-)


Share :

3 thoughts on “Menghitung Suara Klakson

  1. ysalma

    Mudahan cepat berkunjung kesana lagi, dan dioleh-olehi cerita menarik lainnya. Masyarakat Jerman dan kotanya katanya memang terkenal tertibnya.
    Saya juga tak suka mendengar suara klakson, apalagi kalau udah tau macet, kalau buru-buru, mbok ya jalannya lebih awal *jadi emosi*

    mangKoko says:
    Makasih mbak Salma atas doanya
    :-)

    Reply
  2. Dunia Ely

    Kecele ya mas nggak dengar klakson :)

    mangKoko says:
    Iya mbak, nggak lagi butuh kalkulator untuk menghitungnya

    Reply
  3. Lukman Hs

    Mr. Uwe Schramm sempat heran … mengapa anda selalu menginap di hotel Fruhling? Sambil melirik sebuah toko di depan hotel tersebut.
    Meskipun sebenarnya tidak ada alasan khusus, akhirnya kita malah penasaran dan ingin tahu isi toko tersebut, … tapi harus membayar 15DM. Hehehehe …

    mangKoko says:
    Bagian yang ini, aku agak lupa mas! He he … :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.