Rafting, Ngeli Ning Ora Keli

By mangkoko : last updated 15 Feb 2016

Rafting atau Arung Jeram adalah jenis olahraga petualangan yang menantang adrenalin. Sangat asyik untuk dilakukan. Semua hal berbau petualangan memang selalu dekat dengan resiko. Namun dengan dukungan peralatan modern yang semakin disempurnakan dari waktu-ke waktu, resiko bisa ditekan serendah mungkin. Sehingga relatif aman dilakukan, bahkan bagi orang awam sekalipun.

Rafting juga sarat nilai filosofis. Ada ungkapan kearifan dalam bahasa Jawa yang sejalan dengan aktifitas arung jeram, yaitu: Ngeli ning ora keli. Artinya: mengikuti arus namun tidak terhanyut. Ungkapan ini merupakan ibarat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Ngeli diartikan sebagai: mengikuti arus dan gelombang kehidupan. Ora keli: tidak terhanyut. Di-analogikan sebagai dayung perahu hyang selalu tergenggam erat di tangan. Dayung adalah kendali laju dan arah perahu. Selama dayung tergenggam erat, kendali laju kehidupan tak perlu dikhawatirkan.

Rafting di Sungai Progo Atas, Magelang

Rafting di Sungai Progo Atas, Magelang

Rafting: Olah Raga Rekreatif
Aktifitas arung jeram bukan lagi monopoli para petualang profesional. Masyarakat awam-pun bisa melakukannya. Saat ini banyak operator rafting yang menawarkan paket rafting sebagai olahraga rekreatif dengan biaya relatif terjangkau. Peralatan yang mereka miliki rata-rata cukup representatif. Didukung pula oleh para pendamping/instruktur profesional. Mereka cukup berpengalaman sehingga relatif aman untuk diikuti.

Jalur populer yang dipakai untuk rafting diantaranya adalah: sungai Progo dan Elo di Magelang Jawa Tengah. Di Jawa Barat tercatat ada: sungai Citatih dan Citarik di Sukabumi, Sungai Cisadane di Bogor, dan Sungai Palayangan di Pengalengan (sebelah selatan kota Bandung). Di Jawa Timur ada di sungai Pekalen Probolinggo. Di Bali yang paling populer adalah Sungai Ayung yang terletak di daerah Ubud Gianyar Bali. Dan masih banyak lagi sungai-sungai yang layak dipakai sebagai lokasi rafting.

Makna Filosofis Ngeli Ning Ora Keli
Rafting bagaikan perahu kehidupan yang melaju kencang mengikuti arus sungai jaman yang terus mengalir. Entah sampai di mana kelak. Canda ceria janganlah sampai terkekang. Biarkan lepas bebas menikmati goyangan ombak, luncuran jeram dan hempasan batu-batu hitam yang menghadang di sepanjang perjalanan.

Satu hal yang tetap harus dipertahankan. Dayung jangan sampai terlepas, genggam erat dengan kedua belah tangan. Karena dari situlah laju dan arah perahu ditentukan.

Kalimat “ngeli ning ora keli” begitu sarat makna. Saya mendengar pertama kali dari eyang. Beliau ini hanyalah seorang wanita biasa. Single parent yang harus membesarkan dan mendidik 4 orang anak seorang diri, dengan bekerja sebagai seorang pembatik. Beliau adalah seorang wanita perkasa namun memiliki senyum begitu teduh menyejukkan. Kala sedang membatik, gemulai jari-jemarinya bagaikan tarian. Canting di tangan menari meliak-liuk di atas permukaan selembar kain mori putih.

“Di saat-saat tertentu ada baiknya kita turun sejenak dari perahu (kehidupan) yang kita naiki”, kata beliau suatu ketika.

“Tarik sebentar perahu ke pinggir. Istirahat sejenak, selonjorkan kaki, luruskan punggung dan biarkan tangan terbentang lepas”.

“Hirup dalam-dalam kesegaran hawa pinggir kali yang segar dan harum aroma bunga dan dedaunan perdu liar yang ditanam sendiri oleh para malaikat utusan Yang Maha Kuasa.”

“Eyang, kenapa tidak terus saja melaju, bukankah perahu akan cepat sampai tujuan?” tanyaku.

Sambil mengembangkan senyumnya yang menyejukkan beliau malah ganti bertanya,
“Kemana engkau akan menuju le? dan kemana pula setiap manusia akan menuju?”

Tanpa memberi kesempatan saya untuk menjawab pertanyaan tersebut, beliau langsung menerangkan lebih lanjut: “Pemandangan di tempat akhir tidaklah penting. Karena Itu bukan wilayah kuasa kita sebagai manusia”.

“Yang terpenting bagi kita adalah: menjalankan perahu dengan sebaik-baiknya. Jangan tegang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jalani saja apa adanya.”

Saya sebenarnya tidak mengerti kemana sesungguhnya arah dan maksud nasehat itu. Namun entah kenapa, di saat-saat tertentu sering terngiang kembali di telinga. Seakan menempel erat di dalam batok kepala.

Pada suatu ketika, saat rafting mengarungi sungai Progo Atas di Magelang, gema suara eyang terngiang kembali.  Ada ahaa… yang seakan menelusup dalam dada. Aha …inilah makna “ngeli ning ora keli“. Terasa terang benderang sekarang!

Mengikuti arus namun tidak terhanyut. Menunggang arus memang tak butuh banyak tenaga. Perahu tetap melaju kencang tanpa dikayuh. Bagaikan menjalani kehidupan, seirama dengan kehendak alam. Sungguh mempesonakan.

Penglihatan terpuaskan oleh keindahan sepanjang perjalanan. Daun telinga mengembang penuh menikmati alunan suara alam: gemericik air, gesekan dedaunan, dan cuat-cuit satwa liar penghuni bantaran sungai. Rasa di dada bagaikan belaian lembut sang ibunda menina bobokkan putra tersayang. Asyik dan damai.

Satu-satunya hal yang harus dilakukan hanyalah waspada. Agar mampu berkelit dari hadangan halang rintang yang selalu ada di sepanjang perjalanan. Dahan pohon yang menjuntai di sungai, batu-batuan hitam di tengah aliran air, dan jeram kecil yang ada di sana-sini.

Water Massage di Sungai Ayung, Ubud Gianyar Bali

Water Massage di Sungai Ayung, Ubud Gianyar Bali

Perahu terus melaju. Suatu saat membutuhkan buang sauh jua di dermaga terdekat. Gelombang kehidupan membutuhkan jeda barang sejenak. Sekedar untuk mendengarkan keheningan.

Coba sekali-kali arungi jeram di Sungai Ayung, di daerah Ubud Gianyar Bali. Anda akan menemukan: kenapa sebaiknya ada jeda, berhenti barang sejenak. Beristirahat, menarik perahu ke pinggir sungai.

Sungai Ayung, adalah salah satu destinasi arung jeram yang sangat populer di Pulau Dewata. Sebenarnya lebih tepat disebut jurang sungai Ayung, karena untuk mencapai permukaan air harus menuruni tebing curam.

Di tengah jalur perjalanan, sejauh kurang lebih 12 km, ada sebuah area di dasar sungai yang difungsikan sebagai rest area. Inilah area dimana anda dapat menemukan asyiknya sebuah jeda di tengah perjalanan panjang.

Kita dapat melakukan “water message”.  Sebuah aktifitas paling meng-asyik-an selama masa jeda. Caranya: posisikan kepala dan punggung di bawah guyuran air terjun yang segar menghantam dari ketinggian. Laksana seorang pemijat profesional mendera kepala dan punggung, dengan jari-jemarinya yang perkasa. Peredaran darah jadi lancar. Kepenatan pun sirna seketika.

Inilah perlunya istirahat sejenak di tengah upaya menempuh perjalanan kehidupan yang panjang. Sekedar mengenali posisi diri, telah sampai mana pada saat ini. Kilometer berapa yang telah kita tempuh. Bernafas sejenak untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan berikutnya.

Baca pula: Tips wisata hemat ke Bali, Tanpa Travel Agent.

Catatan:
– ahaa = kilas pemahaman akan sesuatu
– canting = alat seperti pena yang digunakan untuk membatik


Share :

3 thoughts on “Rafting, Ngeli Ning Ora Keli

  1. Cauchy Murtopo

    Rekreasi yang seperti itu sangat mengasikkan. Meskipun bikin badan capek tapi sangat ingin lagi. Di alam terbuka dengan kesejukan air membuat outbond memjadi pelepas stres. Baca juga yang ini: (cauchymurtopo.wordpress.com/2013/12/28/outbound-di-ledok-sambi-kaki-gunung-merapi-stres-jadi-hilang)

    mangKoko says:
    Benar sekali bro!

    Reply
  2. Indra Kusuma Sejati

    Ternyata artinya bagus juga ya gan, lumayan lah buat nambah ilmu pengetahuan.
    Salam

    mangKoko says:
    Betul, banyak falsafah kearifan tradisional yang berasal dari para tetua kita sendiri.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.