Filosofi Kopi

By mangkoko : last updated 18 Sep 2016

Filosofi Kopi selalu menjadi sesuatu yang asyik untuk diobrolkan. Tak peduli dimanapun tempatnya. Di pos kamling, di warung angringan kakilima pinggir jalan, hingga kedai kopi modern yang ada di mal-mal mentereng. Barangkali tak berlebihan jika dikatakan bahwa kopi bukan lagi sekedar minuman, dan ngopi bisa disebut telah menjadi gaya hidup, bahkan status sosial.

Awalnya, dua kata tercetak tebal: “Filosofi Kopi” di sampul buku bernuansa coklat klasik itu tiba-tiba menarik perhatianku. Ada lagi tulisan: “Dee” tercetak dengan ukuran font yang lebih kecil, rupanya inilah nama sang penulis. Di sampul belakang terpampang nama yang tak asing: Goenawan Mohamad. Nama yang membuat saya jadi tak ragu membungkus satu untuk di bawa pulang. Dia menulis kata pengantar untuk antologi itu dengan kalimat: “Tidak ruwet, bahkan terang benderang, tak berarti tanpa isi yang menjentik kita untuk berfikir.” Betapa mungkin sebuah filosofi dikatakan terang-benderang? Ah sungguh bikin panasaran, menggemaskan!

Coffee, credit image by goodfon.su

Coffee, credit image by goodfon.su


Saya sesungguhnya bukanlah seorang penggemar kopi, apalagi pecandu. Memang doyan sih … kadang-kadang minum secangkir kecil kalau lagi benar-benar kepingin. Seorang teman pernah membelikan satu cup besar “kopi mahal” dari sebuah kedai kopi paling terkenal dan paling tersebar ke seantero dunia, pun hanya terkecap biasa saja alias tidak istimewa bagi sensor rasa di lidah saya. Bagian paling berkesan tentang kopi bagi saya adalah aroma yang tercium wangi semerbak memenuhi ruangan kala sedang diseduh dengan air mendidih. Hmmm .. dunia seakan penuh keceriaan, melupakan kepahitan, yang konon selalu ada melekat pada setiap butir buah kopi alami termahal sekalipun.

Jika sudah bicara tentang aroma, saya selalu teringat saat masih remaja, ketika teman-teman seusia lagi suka sembunyi-sembunyi menghisap sebatang rokok agar tidak ketahuan orang tua. Saya justru lebih asyik mencium keharuman pada sebatang rokok kretek, alih-alih menyalakan dan menghisap asapnya. He he …

Selain aroma, hal lain yang sangat menarik dari kopi adalah cerita yang selalu ada menyertainya. Cerita tentang seorang bapak tua bakul sinambi woro* penjaja kelilingan. Menjelajah kampung demi kampung dengan membawa sekantung biji kopi, lengkap dengan gilingan tradisional yang bertengger di boncengan belakang sepedanya. Atau cerita tentang sekantung kecil bubuk kopi yang dibandrol dengan harga selangit, hanya karena dibumbui kisah petualangan sang biji kopi bersemayam di lambung seekor luwak, bak Nabi Yunus yang pernah bersemayam di dalam lambung seekor ikan paus.

Bahkan juga kisah berseri Coffe Story di Kompas TV yang bercerita tentang perburuan rasa ke seluruh pelosok nusantara, mengumpulkan legenda yang tercecer berserak di seluruh negeri, demi sensasi yang dikecap labirin di permukaan lidah manusia. Sejarah ditelusuri, paling tidak sejauh jaman kolonial Benlanda tempo dulu. Yang banyak mewariskan perkebunan-perkebunan kopi di seantero Nusantara. Dari pekebun dan petani yang menanam, memelihara hingga saat panen, sampi ke penikmat akhir di warung-warung kopi bisa manjadi rantai distribusi yang lumayan panjang.

a-cup-of-coffee1

Seorang Dee melukiskan obsesi itu dalam diri Ben, satu manusia yang begitu tergila-gila dengan kopi. Memburu sampai ke segala pelosok negeri, belajar meramu dari para master di Roma, Paris, Amsterdam, london, New York hingga Moskwa, demi obsesi manjadi seorang barista yang suatu saat kelak menemukan kesempurnaan rasa, visi dan aroma dari secangkir kopi.

Cerita sang barista sungguh seru, bak petualangan seorang Santiago si penggembala domba di “Sang Alkemis”-nya Paulo Coelho. Kisah perburuan batu filsuf yang konon mampu merubah sebuah besi menjadi emas. Perjalanan panjang ke seluruh pelosok negeri, toh sekedar menjadi batu ujian agar lulus dan akhirnya kembali ke asal. Kembali ke rumah masa kecil, sebuah bangunan gereja rusak tempat berteduh domba-domba yang digembalakannya. Karena ternyata disitulah emas itu tersimpan.

Demikian pula dengan Ben. Keyakinannya terguncang ketika menghadapi kenyataan bahwa kesempurnaan itu bukan dicari dan diciptakan. Namun lahir dari alam apa adanya. Sesederhana matahari yang selalu terbit setiap pagi.

Kesempurnaan rasa kopi ternyata bukan ada pada racikan dan proses rumit biji-biji mahal dari tempat-tempat legendaris di seluruh penjuru dunia. Kesempurnaan rasa justru muncul dari biji kopi tiwus yang tumbuh apa adanya di tempat yang seharusnya bukan habitat tanaman kopi berkualitas. Sekedar di seduh dengan air mendidih di gelas belimbing.

Sahabat sekalian.
Maaf jika tulisan yang sedang anda baca ini tidak mampu menggambarkan secara utuh persepsi orang tentang kopi, apalagi sampai pada kata sakral: filosofi. Anggap saja sebagai sekedar igauan akibat tidur kesorean hanya karena ingin bangun malam untuk nonton siaran langsung pertandingan bola di TV. Bola adalah tontonan sangat menarik yang konon penuh dengan filosofi pula.

Dan persepsi saya inipun sesungguhnya sebatas dari mendengar cerita, yang kemudian saya ceritakan kembali pada anda. Bisa jadi saya juga seorang “bakul sinambi woro”. He he …

Bagaimana dengan anda ? Apakah punya kisah yang bisa anda ceritakan pula tentang kopi ?
Atau barangkali anda memiliki sudut pandang sendiri tentang filosofi kopi ?

Catatan:
* bakul sinambi woro = pedagang dan pendongeng. menceritakan kisah dan kabar dari mulut ke mulut di perkampungan Jawa tempo dulu yang belum tersentuh radio, TV, koran, apalagi internet.

 


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.