Kisah Rama-Sinta ala Herman Pratikto

By mangkoko : last updated 06 Oct 2016

Suatu hari, saya tertarik untuk melangkah ke tengah belantara buku-buku obral di sebuah Mall di Semarang. Di suatu sudut terlihat tumpukan tinggi sebuah judul buku yang terlihat tebal, setara dengan ketebalan kitab suci. Tercetak merah menyolok di sampulnya: “Ramadewa, Teladan Cinta dan Kehidupan Rama-Sinta”. Di bagian bawah tertulis sebuah nama: Herman Pratikto.

Rama Wijaya. Courtesy og jv.wikipedia.org

Rama Wijaya. Courtesy og jv.wikipedia.org

Wuuzz … seketika angan saya meloncat ke masa lalu, masa berpuluh tahun lalu kala masih tinggal di kampung halaman. Setiap malam tak pernah lupa menenteng radio transistor, menyetel siaran dari sebuah stasiun radio swasta di Jogja, yang memperdengarkan sandiwara radio bertajuk “Bende Mataram” yang begitu dahsyat. Itulah kali pertama saya menikmati karya Herman Pratikto.

Kemudian saya ambil satu eksemplar buku itu. Dan kala membalik di bagian belakangnya: woow kembali saya terhentak: sebuah buku baru setebal 486 halaman dan ditulis oleh seorang “legenda” bernama Herman Pratikto diobral seharga Rp 15.000,- saja (tahun 2015). Apakah ini buku bajakan? Rasanya kok tidak, karena yang punya hajatan obral adalah salah satu toko buku paling terkenal di negeri ini.

Kisah cinta Rama-Sinta dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Kisah cinta Rama-Sinta dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

Bercerita tentang apakah buku ini?

Tentu saja sesuai dengan judulnya adalah berisi cerita tentang Rama dan Sinta. Atau lebih tepatnya: Teladan Cinta dan Kehidupan Rama-Sinta, seperti tertera pada sub-judulnya.

Di buku ini, Herman Pratikto seakan seorang dalang, bercerita mulai dari kelahiran Ramaparasu hingga Dewi Agni membuktikan kesucian Sinta. Kisahnya sangat memikat, tak jauh beda dengan kisah-kisah yang diterbitkan sebelumnya. Saya sendiri tak hanya terpikat kala membacanya, namun juga terserap habis, larut dalam alur cerita. Kisahnya bertutur runtut, penuh dengan kejutan. Selalu menyisakan tanda tanya, bahkan hingga ke akhir episode.

Siapa Herman Pratikto?

“Apakah anda mengenal karya-karya Herman Pratikto?”
Wajar jika anda menjawab, “Tidak”.

Karena putra kelahiran Blora Jawa Tengah ini memang telah lama wafat, yakni tahun 1987 silam dalam usia 58 tahun. Sepanjang hidup, beliau banyak menghasilkan karya sastra klasik. Diantaranya adalah Ramadewa (kisah Ramayana), Mahabarata, Bende Mataram, Bunga Ceplok Ungu, dan lain-lain.

Herman Pratikto adalah seorang seniman murni. Ia menghidupi keluarganya hanya dari hasil menulis dan berkesenian. Menulis sejak muda dengan nama samaran Sedah Mirah. Pernah pula bekerja di bidang jurnalistik, pendiri majalah mingguan “Minggu Pagi” di Yogyakarta.

Konon beliau seorang otodidak. Tak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, sastra maupun budaya. Namun buku-bukunya sungguh dalam, menyentuh, dan sangat asyik dibaca. Saya rasa kok tetap enak dinikmati hingga kini.

Tatkala tiba di lereng Gunung Muliawan, hujan mulai reda. Angin segar mengusir sisa-sisa awan hitam sampai jauh di sana. Sedikit-demi sedikit udara tampak bersih. Cahaya surya pada senja hari membuka tirai lazuardi. 

Semua kini menjadi terang benderang. Pelangi yang memeluk cakrawala melengkung tak ubah Dewa Asmara. Dan hutan yang menyelimuti pinggang gunung tiba-tiba menjadi sunyi dan hening. Itulah kisah alam sesudah hujan deras yang senantiasa terjadi sejak jaman dahulu kala.

(Menemukan Jejak Sinta, Ramadewa: halaman 217)

Menemukan Kembali Sang Sastrawan

Seorang Goenawan Mohamad (pasti anda mengenal nama ini kan?) menyebut sebagai: Menemukan Kembali Herman Pratikto, kala menulis pengantar pada penerbitan buku ini. Ciri khas, sekaligus kehebatan dia adalah kemampuannya dalam merangkai kalimat yang sungguh hidup, kocak tapi tenang.

Goenawan Mohamad sendiri mengaku sebenarnya tak mengenal Herman Pratikto secara langsung di masa hidupnya, bahkan juga biodatanya. Kecuali dari membaca karya-karyanya. Maka ketika di masa kini menemukan kembali naskah “Ramadewa” dari salah seorang putri Herman, dia merasa sangat bahagia.

Buku Ramadewa, Herman Pratikto

Buku Ramadewa, Herman Pratikto

Versi Ramayana

Ada banyak versi kisah Ramayana. Dan Herman Pratikto memilih versi berbeda dengan yang biasa ditemukan di India. Dan mungkin berbeda pula dengan versi Ramayana yang sering anda dengar ceritanya. Di buku ini banyak tokoh-tokoh yang selama ini samar-samar diketahui masyarakat, terungkap dengan gamblang.

Kisah Ramayana sendiri hidup di tengah masyarakat dalam berbagai bentuk. Ada bentuk sastra tertulis, ada pula bentuk sastra lisan. Sastra tertulis-pun terdiri dari format puisi: berupa sloka seperti karya Valmiki dalam bahasa Sanskerta,  bentuk kakawin “Raghuvamsa”, dan juga dalam bentuk mocopat seperti “Serat Rama” dalam Bahasa Jawa. Dalam bentuk prosa berbahasa Jawa Kuno adalah “Uttarakanda”, “Hikayat Seri Rama” dalam bahasa Melayu, dan tentusaja “Ramadewa” karya Herman Pratikto dalam bahasa Indonesia. (Ref: Edi Sedyawati, Guru besar arkeologi UI).

Baca pula: Sendratari Ramayana, Kisah Cinta Rama dan Sinta.

Referensi:

  • Hamba Sebut Paduka Ramadewa, oleh Herman Pratikto, Penerbit Buku Kompas
  • Hanoman, oleh Pitoyo Amrih, Penerbit Diva Press
  • Togog Tejamantri, oleh Gesta Bayuadhy, Penerbit Diva Press

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.