Belajar Melukis Seperti Affandi, Cerita Tiara

By Tiara : last updated 26 Sep 2016

Hai, hari ini aku akan bercerita tentang bagaimana aku belajar melukis. Aku belum tahu caranya melukis di kanvas, selama ini biasanya menggambar menggunakan crayon dan cat air di kertas. Ternyata melukis di kanvas dengan cat minyak tekniknya tidak sama seperti melukis dengan cat air dikertas putih. Inilah ceritaku bagai mana aku ingin melukis dengan cat air di kanvas seperti pelukis terkenal yaitu Affandi!.

Pada saat aku dan ayah bundaku makan di Bakso Kota Cak Man Semarang, aku melihat toko buku Togamas yang belum lama buka tidak jauh dari Bakso Kota Cak Man. Setelah makan bakso kami mampir kesana. Aku sebenarnya hanya ingin mencari majalah Princess karena fotoku diterbitkan di dalam majalah itu. Sementara bundaku memilihkan majalah, aku ingin mencari balpoin. Tiba-tiba ayahku menghampiri dan berkata “Nok, kamu ingin belajar melukis menggunakan kanvas tidak? Kalau mau, nanti ayah belikan, tapi syaratnya kamu harus yang serius ya!. Sana bilang bunda kalau mau!!”.

Ini adalah lukisan salah seorang cucu Affandi, aku bergaya di depannya, he he.

Ini adalah lukisan salah seorang cucu Affandi, aku bergaya di depannya, he he …

Dan aku menghampiri bundaku yang dari tadi belum selesai memilihkan majalah. Aku berkata, “Bunda, aku mau dibelikan kanvas sama ayah bolehkah?”, bundaku menjawab, “Boleh saja tapi harganya berapa?” Aku langsung lari menuju ayahku, “Ayah, kata bunda harganya berapa?”. Ternyata bundaku menyusul dan bertanya kepada ayah. Ternyata bunda juga memperbolehkan, akhirnya aku jadi membeli kanvas dan satu set cat minyak. Tapi aku tidak jadi membeli majalah Princess kerena ternyata edisi yang ada fotoku tidak tersedia di toko buku itu.

Sesampai di rumah aku mencoba melukis di kanvas itu. Lukisan pertamaku adalah 2 ekor jerapah di hutan belantara yang gelap. Karena aku baru belajar jadi masih jelek hasilnya. Hari berikutnya aku melukis bunga di vas dengan bentuk yang unik, tapi sampai sekarang lukisan itu belum juga selesai karena aku masih belum percaya diri. Setiap kali aku melukis semuanya selalu terlihat jelek dimataku. Dan ketika aku bilang ke ayah, dia hanya berkata, “Bagus kok, ayo terus belajar terus, kan sudah janji akan serius waktu mau dibelikan kanvas!”. Dan aku hanya diam saja dan langsung berlari ke bunda didepan TV.

Aku belajar melukis pertama kali di atas kanvas

Aku belajar melukis pertama kali di atas kanvas

Hari Kamis minggu lalu, aku berangkat menuju rumah kakek di Klaten. Ayahku bilang, “Nanti kalau kita ke Yogya, ayah ajak ke museum Affandi”. Aku hanya mengangguk senang.

Baca pula: Gallery Museum Affandi

Setelah sampai di rumah kakek di Klaten aku langsung tidur siang karena ayahku melarang langsung berenang, “Agak sorean saja kalau ingin berenang!”, katanya. Akhirnya bersama ayah aku tidur siang. Sore harinya aku baru berenang. Malam hari setelah sholat Isya aku langsung tidur supaya besuk bisa bangun pagi.

Pagi itu kami berangkat ke Yogya untuk berkunjung ke rumah eyang Ndek, buliknya ayah. Ayah memang berjanji pada beliau untuk membawakan bibit pohon Putsa, atau Apel India yang rasanya manis itu. Sebelum ke eyang Ndek, sesuai janji ayah, kami mampir dulu ke Museum Affandi.

Setelah pintu masuk, aku melihat ada patung Affandi yang besar dan aku pun berfoto disitu. Kami kemudian masuk ke ruang museum. Pertamakali yang aku lihat adalah mobilnya Affandi, sepedanya dan aku juga melihat baju, kuas untuk melukis, sandal jepit, dan ember kecil untuk mencuci kuas. Ada juga kolam renang, kamar Affandi di lantai atas, dan semuanya aku lihat, bahkan disana ada makam Affandi dan istrinya.

Berfoto di depan lukisan Kartika Affandi yang berjudul: After Merapi's Eruption

Berfoto di depan lukisan Kartika Affandi yang berjudul: After Merapi’s Eruption

Sambil aku memperhatikan salah satu lukisan Affandi yang besar bergambar burung merak, aku mendengar kata ayahku, “Ada satu lukisan Affandi yaitu sabung ayam yang konon harganya sampai 7 milyar rupiah.”

Aku berkeliling di museum itu, tanpa terasa  jam sudah menunjukkan pukul 11:00,  waktunya meneruskan perjalanan ke eyang Ndek. Di rumah eyang Ndek aku bercerita-cerita dengan eyang, tante dan cucu-cucu Eyang Ndek yang sebaya umurnya denganku sambil menunggu ayah dan eyang Bud (suami eyang Ndek) yang sedang sholat jumat. Sekitar jam 14:00 kami berangkat kembali ke rumah kakek di Klaten.

Nah itulah ceritaku tentang bagaimana aku bisa tahu sosok seorang pelukis Affandi yang sangat terkenal. Aku senang bisa mengetahui Affandi, semoga aku bisa mencapai cita-citaku sebagai pelukis dan penulis terkenal. Amin.

Mutiara Anandari (9 tahun)

Tiara, kelas 3 SDI Cahaya Ilmu

Ditulis di Semarang, 30 Desember 2014, by: Tiara

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca tulisanku ini, semoga bisa mengispirasi teman-teman semuanya, Amin …

Tulisanku yang lain di blog ini silahkan kunjungi: Cerita Tiara

Salam, Tiara

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.