Jalan-Jalan di Kota Solo, Cerita Tiara

By Tiara : last updated 04 Nov 2015

Aku akan bercerita tentang perjalananku ke Solo untuk menikmati suasana kota Solo di waktu malam, Car Free Day di Minggu pagi, dan sekaligus mengunjungi 2 adik sepupuku yang tinggal di sana, yaitu Alya dan adiknya Amira. Aku biasa memanggil mereka dik Yaya dan dik Rara. Aku senang sekali bersama 2 adik kecil itu, apalagi dik Rara masih bayi, baru bisa tengkurap, aku aku suka sekali menggendongnya. Inilah cerita perjalananku selengkapnya!

Pagi itu (Sabtu 7 Maret 2015) aku sungguh bersemangat karena akan ikut meramaikan Open House sekolahku, nama acaranya adalah “Gebyar Cahaya Ilmu”. Aku dan teman-teman sekolah menampilkan musik rebana disana. Selain itu, hari ini ayah berjanji akan mengajak jalan-jalan ke kota Solo. Tepat jam 12 siang selepas acara di Open House di sekolah, aku segera pulang. Selesai menunaikan Sholat Dhuhur di rumah, aku segera bersiap-siap dengan memasukkan barang-barangku kedalam mobil. Jadilah aku, ayah dan bunda berangkat menuju ke Solo. Seru … tidak sabar rasanya untuk melihat wajah ke dua saudariku yang imut-imut itu hihihi …

Patung Topeng di Jl. Slamet Riyadi Solo

Patung Topeng di Jl. Slamet Riyadi Solo

Singkat cerita sampailah kami dikota Solo. Waktu tempuh Semarang – Solo sekarang lebih cepat dan nyaman sejak adanya jalan tol Semarang-Bawen dan Jalan lingkar Salatiga. Ayahku sendiri tidak terlalu mengerti jalan-jalan di Solo sehingga kami memilih menginap di hotel yang mudah di capai dari Semarang yaitu di Jl. Slamet Riyadi.

Wow … aku juga bingung banget mencari jalan menuju hotel, sehingga aku segera buka Google Map, turut membantu ayah menunjukkan jalan sampai hotel. Sampailah kami di hotel yang dituju dengan selamat.

Kami bermalam di hotel Syariah Arini yang beralamat di Jl. Slamet Riyadi No.361 Solo. Tadinya bundaku sudah reservasi di kamar bawah dekat resepsionis, tetapi aku minta pindah di lantai atas, sebenarnya bunda tidak setuju, tetapi akhirnya mengalah. Menurutku lantai atas lebih nyaman hihihi …

Setelah Sholat Ashar di hotel, ayah langsung mengajak kami melihat Festival Permata Nusantara 2015 di Graha Wisata Niaga yang terletak di Sriwedari Solo. Alamatnya masih sederet dengan hotel tempat kami menginap yaitu di Jl. Slamet Riyadi juga. Kami naik becak ke sana, menyusur sepanjang Jl. Slamet Riyadi yang terlihat rindang dan asri. Festival itu merupakan lomba dan pameran batu mulia, katanya sih … terbesar di Solo.

Tentang apa yang ada di sana, biar kapan-kapan ayahku saja yang bercerita ya! Aku sendiri sangat tidak menikmati suasana di sana. Sebenarnya gedungnya memakai AC dan cukup sejuk, namun karena banyak yang merokok sembarangan, membuat aku tidak tahan, sehingga aku bersama bunda hanya duduk-duduk didepan panggung yang agak longgar, tidak terlalu berdesakan. Dan kemudian lebih baik aku dan bunda keluar gedung mencari jajanan. Jangan ditanya tentang ayahku, pasti tetap asyik berada di dalam sana hihihi …

Sambil menunggu kedatangan om dan tenteku yang akan menjemput kami untuk jalan-jalan di kota Solo, aku bersama bunda beli jajanan dan nongkrong di kursi taman di depan gedung Graha Wisata Niaga. Bunda memang janjian untuk dijemput disitu. Tak berapa lama om dan tante datang, tentu saja bersama 2 gadis kecil anaknya yaitu Alya dan Amira.

Suasana di Ngarsopuro Night Market Solo

Suasana di Ngarsopuro Night Market Solo

Kami diajak ke Ngarsopuro Night Market, sebuah acara pasar malam yang diadakan setiap malam minggu di sepanjang jalan di sekitar daerah Ngarsopuro. Senang sekali rasanya bisa jalan-jalan dengan Alya dan Amira, walaupun Amira digendong tante karena sedang tidur nyenyak. Tidak apalah yang penting bisa ketemu dengan mereka. Di pasar Ngarsopuro aku membeli gelang, sedangkan Alya membeli bola karet yang bisa menyala kalo dilempar. Sedangkan ayah membeli kaos bergambar batik khas Solo dan tante memborong kalung, mungkin untuk teman-teman kantornya!

Menikmati wedang ronde di Ngarsopuro Night Market Solo

Menikmati wedang ronde di Ngarsopuro Night Market Solo

Minum wedang ronde di malam hari yang cukup dingin karena sedang gerimis kecil, juga asyik. Aku paling suka bola-bola rondenya, tidak pakai kacang. Kami juga makan di Wedangan Ngarsopuro. Menurutku menu makanannya seperti warung angkringan, tetapi lokasinya berupa rumah joglo kayu yang luas, bersih dan indah, bukan kakilima di pinggir jalan, sehingga cukup nyaman untuk makan sambil bersantai.

Ada menu-menu yang belum pernah aku dengar sebelumnya seperti sate apus dan teh krampul. Sate apus rasanya empuk bila digigit, dibuat dari tepung terigu sehingga disebut sate apus atau sate palsu. Sedangkan teh krampul adalah minuman teh manis dicemplungi irisan jeruk nipis, sehingga terlihat mengapung (krampul-krampul) di atas gelas hihihi …

Memilih menu di Wedangan Ngarsopuro

Memilih menu di Wedangan Ngarsopuro

Pagi harinya aku bangun jam 05:04, lebih awal dari biasanya. Melihat keluar jendela masih gelap, aku bermain tablet dulu menunggu agak terang. Beberapa saat kemudian ketika aku buka pintu kamar, matahari telah bangun menyambutku. Pagi hari yang indah untuk berjala-jalan di Car Free Day di depan hotel, horee … Aku berjalan-jalan bersama ayah dan bunda.

Wow suasananya ramai sekali disana. Ada yang sedang senam pagi, sekedar jalan-jalan, bersepeda bersama, dan ada pula yang bermain sepatu roda. Pokoknya semua orang terlihat asyik beraktifitas yang menyehatkan. Selain berjalan-jalan, kami mencari sarapan pagi untuk ayah, aku sendiri bersama bunda sarapan dihotel. Entah kenapa ayah tidak mau sarapan dihotel, mungkin pengin menikmati sego liwet Solo yang di restouran hotel tidak ada.

Suasana Car Free Day, di Jl. Slamet Riyadi Solo

Suasana Car Free Day, di Jl. Slamet Riyadi Solo

Selesai sarapan aku segera mandi. Tak berapa lama om, tante, Alya dan Amira datang. Saatnya kami jalan-jalan di kota Solo. Ayahku minta diturunkan di Graha Wisata Niaga Sriwedari, tidak ikut jalan-jalan dengan kami. Rupanya beliau belum puas melihat pameran batu-batuan di sana, hih apa tidak bosan ya?

Jadi kami jalan-jalan tanpa disertai ayah. Bundaku minta ke Pasar Grosir Solo. Ini dia yang aku juga sebenarnya tidak suka, suasananya sumuk, sumpek, dan aku tidak dapat apa-apa lagi! Aku langsung meminta pada bunda untuk keluar dari pasar. Lalu kami menuju ke Taman Sriwedari. Di sana banyak terdapat mainan anak-anak mirip seperti yang ada di Wonderia Semarang. Ini baru seru, aku naik kereta gantung, bom-bom car, dan mini roller coaster.

Acara jalan-jalan diakhiri dengan makan siang di rumah makan Timlo Sastro. Aku dan Alya tidak makan nasi timlo, tetapi makan sup kulit ayam dari restouran yang ada disebelah rumah makan Timlo Sastro. Timlo adalah makanan khas Solo, wujudnya seperti sup atau soto, tetapi aku tidak suka sehingga dipesankan sup di warung sebelah.

Selesai makan siang, tibalah saatnya untuk pulang ke Semarang, berpisah dengan 2 saudariku yang imut itu. Inilah momen yang sebenarnya aku tidak suka, soalnya harus menahan tangis. Waktunya mengucapkan good bye kepada Alya dan Amira, sampai nanti dilain waktu, kita pasti bisa bertemu lagi …

Bye Alya dan Amira-ku sayang, I miss you …

Mutiara Anandari (9 tahun)

Tiara, kelas 3 SDI Cahaya Ilmu Semarang

 

Ditulis di Semarang, 8 Maret 2015, by: Tiara

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca ceritaku. Terima kasih.

Tulisanku yang lain di blog ini silahkan kunjungi: Cerita Tiara

Salam, Tiara

 


Share :

One thought on “Jalan-Jalan di Kota Solo, Cerita Tiara

  1. wisatania

    Ngomongin tentang solo, saya gak bisa lupain lezatnya nasi liwet.. hehehehe

    mangKoko says:
    Mbak Jesica,
    Di Semarang ada menu mirip nasi liwet Solo, namanya “nasi ayam”. Sungguh nendang, patut di cicipi jika berkunjung ke Semarang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.