Lebaran T-N-A, Cerita Tiara

By Tiara : last updated 26 Jul 2015

Teman-teman semua, aku ingin mengucapkan: minal idzin wal faizin ya mohon dimaafkan semua kesalahanku yang disengaja mau pun tidak disengaja. Nah dihari lebaran 1436 H ini aku akan bercerita keasyikanku bersama saudara-saudaraku. Saat yang sudah sangat menanti-nantikan, kesempatan emas berkumpul bersama om, tante, kakek, dan semuanya deh. Bagiku ini sangat seru. inilah ceritanya …

Teh Fifi, aku, dan teh Devi. Dua sepupu dari Surabaya yang mampir di Semarang

Teh Vivi, aku, dan teh Devi. Dua sepupu (anak om Eyi) dari Surabaya yang mampir di Semarang

Sebelumn berangkat kami kedatangan Om Eyi dan keluarganya dari kota Surabaya. Mereka mampir dari perjalanan panjang mudik menuju Pamanukan (Subang – Jawa Barat). Setelah om Eyi dan keluarganya berangkat meneruskan perjalanan, kami juga langsung go ke kampung halaman ayah di Klaten. Disana aku sudah ditunggu oleh sepupuku yang imut yaitu Nasya Athiya Dananto. Kami biasa memanggilanya dengan sebutan Nasya. Beberapa hari sebelum aku mudik, dia dan ayah bundanya telah datang terlebih dahulu. Dia sudah menungguku dengan mengabarkan lewat applikasi BBM seperti ini, “Mbak Tia kapan ke Klaten?”

Aku sudah tak sabar bertemu saudariku, gadis imut kelas 3 SD itu. Oh ya, aku sendiri sekarang talah kelas 4 SD lho! Sehari sebelum pelaksanaan sholat Iedul Fitri aku sampai di Klaten, menikmati perjalanan yang cukup lancar sambil melihat menikmati aneka bentuk rumah-rumah dan tumbuhan-tumbuhan yang terlihat sepanjang jalan.

Saat aku sampai disana Nasya sudah menungguku sambil tersenyum dan berdiri didepan pintu rumah kakek. Aku turun dari mobil lalu langsung bermain dengganya. Oh … sebelum bermain dengan Nasya aku memberinya sebuah surprise: yaitu baju kembaran dengan aku. Dia tampak sangat senang mendapatkannya. Lalu kita pun bermain bersama. Kami bermain pasir dihalam rumah kakek. Aku bisa bermain pasir hanya saat aku mengunjungi rumah kakek, karena disana memang banyak terdapat pasir. Setelah puas bermain pasir aku dan Nasya bersepeda keliling kampung, menggunakan sepeda lipat milik kakek.

Hari Lebaran
Hari lebaran telah tiba, saatnya untuk menunaikan Sholat Idul Fitri. Aku dan Nasya dibangunkan oleh tanteku jam 5 pagi, saat itu aku dan Nasya sangat susah dibangunkan. Tau gak kenapa? Karena aku saat itu tidur bareng bersama Nasya, namun malamnya aku baru bisa tidur sekitar jam setengah 12 malam, he he … jadinya susah deh dibangunkan.

Saat bangun tidur aku dan Nasya langsung sholat subuh, lalu mandi bersama. Setelah itu kami berangkat bersama-sama ayah-bunda dan ayah-bundanya Nasya (alias om dan teteku). Kami menuju ke sebuah jalan raya yang pagi itu di tutup karena dipakai untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Saat aku dan Nasya melihat ada tukang jualan balon, kami pengin banget membeli. Biarin dikatakan kayak anak kecil! Kami kan memang masih anak-anak! He he … kami membeli balon helo kitti kembaran, lalu juga membeli siomay ala Klaten tapi kami makannya setelah menjalankan Sholat Idul Fitri kok.

Selesai sholat Idul Fitri, sesampai di rumah kakek, kami langsung bersalam-salaman/bermaaf-maafan. Acara berikutnya adalah sarapan. Silaturahim pertama, kami manuji ke makam almarhumah nenek tercinta (ibu dari ayah). Kami di makam nenek berdzikir dan berdoa semoga arwah almarhumah nenek diterima di sisi Allah SWT. Selanjutnya kami menuju rumah eyang Nuk yang tak jauh dari rumah kakek. Kami disana juga bermaaf-maafan lalu mengobrol sebentar. Lalu aku dan Nasya diberi angpao lebaran oleh eyang Nuk. Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju ke mbak Moer, beliau ini adalah adiknya kakek, tapi sayangnya saat itu aku dan Nasya tidak ikut karena, lebih tertarik keceh (main air) dirumah kakek he…he…he. Saat datang bundanya Nasya membawa cucunya mbak Moer, namanya Kim Dong Yu. Imut dan lucu sekali anak lelaki kecil itu. Penasaran ya … kok namanya seperti nama Korea? Memang benar, ayah Dong Yu adalah orang Korea.

Menunggu Alya
Aku dan Nasya menunggu dik Alya dan Amira yang akan datang dari Solo. Kami tidur siang dan sorenya bermain bersama lagi. Kali ini lebih seru, karena sudah ada dik Alya. Dik Alya dia kan orangnya nggak bisa diam dan juga cerewet. Sedangkan dik Amira (adiknya Alya, yang masih bayi) suka nangis, sehingga suasanaya jadi itu tambah reme. Oh iya aku juga memberi Alya baju kembar seperti aku dan Nasya jadinya kita kembar 3 deh, trio fairy.

Trio fairy: Alya (depan), Nasya (tengah) dan aku (paling belakang)

Trio fairy: Alya (depan), Nasya (tengah) dan aku (paling belakang)

Hari minggu (hari ke 3 lebaran) saatnya kita Halal bi Hala bersama keluarga besar kakek, namanya keluarga besar trah Muryosentono. Aku, Nasya, dan Alya memakai baju kembar 3 kita alias trio fairy di acara halal bihalal tersebut. Seru sekali, aku merasa senang sekali bisa memakai baju kembaran bersama adik-adik sepupuku: dik Nasya dan Alya. Ada moment lucu: waktu dik Alya ditanya oleh budheku (yaitu budhe Santi). Tanya budhe santi ke Alya, “Dedek Alya suka enggak sama Spiderman?” lalu dik Alya menjawab, “Iya aku suka sama sedemen!” lalu kami semua tertawa, dia menyebut spidermen dengan kata sedemen hi hi …

Saatnya Berpisah
Hari Senin (hari ke 4 lebaran) pun tiba. Dik Alya dan Amira harus kembali kerumahnya di kota Solo kerena keesokan harinya (hari Selasa), tante Wiwien sebagai karyawati bank harus sudah masuk kerja. Bye-bye suasana ramenya sudah hilang tinggal sepi dech 🙁

Senin pagi-pagi dik Alya dan Amira pulang ke Solo, namun malamnya Rendy dan dik Keyla baru datang. Rendy dan Keyla adalah anak adik ayahku yang tinggal di Karawang. Mereka berdua tidak bisa diajak bermain, karena Rendy laki-laki dan Keyla maunya hanya bermain dengan kakaknya. Kakaknya juga nggak mau bermain sama aku dan Nasya. Ya sudah, aku hanya berdua lagi dengan Nasya.

Hari Selasa tiba saatnya aku dan Nasya juga angkat kaki dari rumah kakek. Aku pulang ke Semarang dan Nasya kerumah eyangnya (ibu ayahnya) di Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta. Dari sana nantinya Nasya dan ayah bundanya akan melanjutkan pulang ke kerumahnya di Serang Banten. Dan dirumah kakek sekarang hanya tinggal Rendy dan keluarga.

Oh ya …
Di hari ke 3 lebaran, sebenarnya ayah juga mengajak aku dan Nasya mengunjungi makan Sunan Pandanaran di Bayat, letaknya tidak jauh ditempat acara Halal bi Halal keluarga besar kakek. Aku dan Nasya sempat merinding saat memasuki makamnya Sunan Pandanaran karena gelap. Di sana kami membaca berdzikir dan berdoa untuk salah seorang tokoh dan penyebar agama Islam itu.

Nah cukup sekian ya teman-teman, kalau ada salah kata dan membuat tersinggung mohon dimaafkan!

Mutiara Anandari (9 tahun)

Tiara, kelas 4 SDI Cahaya Ilmu Semarang

Ditulis di Semarang, 21 Juli 2015, by: Tiara

Terima kasih sudah membaca ceritaku tentang pengalaman hari lebaran di rumah kakek di kampung.

Tulisanku yang lain di blog ini silahkan kunjungi: Cerita Tiara

Salam, Tiara


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.