U-12 Plus 15

By mangkoko : last updated 31 Oct 2016

Ada sebuah ungkapan menarik: “Jika anak-anak kita sampai umur 12 tahun masih belum bisa membuang sampah pada tempatnya, maka kita akan butuh waktu 15 tahun lagi untuk mendidik dia supaya mau dan mengerti pentingnya buang sampah pada tempatnya”. Pernyataan sederhana namun menggelitik tersebut diungkapkan oleh mas Dedy Andrianto seorang pakar pendidikan dan Koordinator Fasilitator PosPAUD Unicef, dalam sebuah acara parenting yang diselenggarakan di The Fountain Ungaran beberapa waktu lalu.

Tapi kenapa kok patokannya usia 12 tahun (U12) ?
Karena usia antara 6 – 12 tahun adalah rentang usia dini seorang anak. Biarpun pendek, rentang usia dini merupakan fase pekembangan anak yang paling optimal jika di kelola dengan baik. Budaya baik maupun buruk yang dibiasakan pada usia dini seorang anak akan sangat kuat membekas pada kepribadinnya, dan akan terus mewarnai kehidupannya di masa remaja dan dewasa kelak.

Bak sampah, dipilah antara Organik dan Non Organik

Bak sampah, dipilah antara Organik dan Non Organik

Buang sampah mungkin kita anggap urusan sepele dan sering terabaikan. Namun ternyata bisa menjadi tolok ukur seberapa tinggi budaya dan kehormatan sebuah bangsa. Kita bisa lihat negara-negara paling maju di dunia ini selalu memiliki budaya disiplin dan cerdas dalam mengelola sampah yang mereka hasilkan. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kebersihan dan kedisiplinan. Mereka sadar betul bahwa masalah sampah adalah urusan semua warga negara. Disiplin tidak membuang sampah sembarangan menjadi budaya yang melekat pada kesadaran masing-masing individu. Bukan lagi takut akan hukuman yang diberlakukan bagi yang melanggar aturan.

Singapura bisa menjadi contoh negara terdekat kita yang memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan sangat pantas dicungi jempol. Disiplin membuang sampah pada tempatnya begitu menyatu dengan kepribadian setiap warganya. Lingkungan perkotaan di Singapura sangat bersih, hampir tidak ada sampah berceceran. Bahkan dinobatkan sebagai negeri pulau ter-hijau, ter-bersih dan ter-indah se Asia.

Singapore City Urban yang bersih dan hijau (photo of pixabay.com)

Singapore City Urban yang bersih dan hijau (photo of pixabay.com)

Ada sebuah cerita unik saat ikut rafting di sungai Ayung Bali. Waktu itu kami se-perahu karet dengan 2 orang warga Singapura. Di sungai Ayung ada sebuah air terjun yang merupakan tempat terminal pemberhentian sementara saat rafting. Kita bisa beristirahat disitu sambil ber- “water massage” di dasar air terjun atau sekedar nongkrong menikmati sejuk-segarnya pinggir sungai Ayung yang eksotis. Sahabat dari Singapura itu duduk santai diatas sebuah batu sambil menghisap sebatang rokok. Setelah batang rokok tinggal puntungya, dia celingak-celinguk nengok kiri kanan. Rupanya sedang mencari-cari tempat sampah. Tentu saja di tepi sungai Ayung tidak ada bak sampah. Kebiasaan kita, tinggal lempar saja ke sungai. Namun dia tidak lakukan itu. Setelah api dimatikan, puntung rokok di masukkannya ke dalam saku baju, akan dibuang nanti setelah menemukan bak sampah. Hmmm  … sebuah contoh disiplin yang sangat pantas untuk dicontoh!

Bangsa Jepang juga termasuk bangsa yang sangat disiplin dalam membuang sampah. Sehingga tidak heran jika lingkungan perkotaan mereka juga sangat bersih. Sungai-sunga besar maupun kecil mengalirkan air yang jernih sedap dipandang mata. Budaya bersih ini mendarah daging sejak jaman nenek moyang mereka jaman dahulu kala. Konon pada suatu masa di jaman kejayaan kekaisaran Jepang pernah ada sebuah peraturan seorang yang membuang sampah sembarangan di selokan atau di sungai bisa dipancung kepalanya.

Bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi di negeri Nusantara kita tercinta ini ?
Anda pasti sering melihat orang-orang seenaknya membuang sampah di sembarang tempat. Di jalan umum, di sungai, di selokan, di taman dan … dimana saja.

Untuk menjadi bangsa maju yang berbudaya adiluhung, bisa dimulai dengan disiplin membuang sampah pada tempatnya. Sebenarnya ini adalah sebuah tindakan sederhana yang sangat tidak memberatkan. Namun jika tidak dibiasakan sejak dini, tidak akan pernah menjadi budaya kolektif sebuah bangsa. Yok kita mulai kesadaran ini dari diri kita sendiri, dan keluarga kita. Anak-anak kita tanamkan budaya disiplin kebersihan lingkungan sejak dini.

Betapa ruginya jika kita terlambat menanamkan budaya ekologis dengan menjaga kebersihan, disiplin membuang sampah, dan menghargai hak orang lain maupun makluk hidup lain di muka bumi ini pada anak-anak kita. Tentu kita nggak mau membuang-buang waktu menambah 15 tahun lagi hanya untuk mengajarkan pada anak-anak cara membuang sampah yang benar.


Share :

4 thoughts on “U-12 Plus 15

  1. MULTI AJAIB

    mantapp gann
    ijin nyimak aja dehh dulu 😀

    mangKoko says:
    Silahkan mas

    Reply
  2. ysalma

    Baru tau istilah itu,
    Alhamdulillah, anak saya msh 10 tahun,tidak perlu mengajarkan 15 tahun lagi. Intinya semua kebiasaan baik itu pada usia dini lebih cepat nempelnya, kalau anak melihat contoh langsung.

    mangKoko says:
    Sangat setuju mbak !

    Reply
  3. Dunia Ely

    Aku di sini juga terbiasa mas, masukkan ke saku dulu bungkus permen misalnya, walau di rumah sendiri, ikut budaya orang Jerman sii :)

    mangKoko says:
    Betul mbak, mereka juga sangat pantas diacungi jempol untuk kedisiplinan ..

    Reply
  4. BangKoor

    Hmm… Apa mungkin ini karena di budaya kita ada istilah “buanglah sampah pada tempatnya”, karena itu kita menganggap sampah adalah benar-benar sampah yang harus dibuang. Tak peduli dimana tempatnya. Yang penting dibuang. Makanya banyak dari kita yang membuangnya sembarangan. Ada yang buang di kali, di pinggir jalan, di pojok bangunan, di bawah pohon, dll. Mungkin menurut mereka disanalah seharusnya tempatnya si sampah.

    Mungkin kalo istilahnya kita ganti jadi “simpanlah sampah di tempatnya”, ceritanya bakal lain. Karena sampah nggak lagi dianggap sebagai sampah. Sampah jadi punya nilai tambah. Sampah bukan lagi jadi barang yang habis nilai gunanya. Sehingga orang-orang memperlakukan sampah sebagai barang yang berharga. Bisa jadi kerajinan, bisa jadi pupuk, bisa jadi barang-barang lainnya. Sampah bisa jadi uang.

    Btw, aku baru tau tentang teori U12 plus 15 itu mang

    mangKoko says:
    Menarik mas idenya tentang konsep “simpanlah sampah di tempatnya”
    Jadikan ide tulisan saja mas Arif !
    :-)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: *
Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.