Punya Rumah: Dengan Kebun Luas

By mangkoko : last updated 15 Nov 2015

Sekedar punya rumah itu tidak asyik! Bagi saya: punya rumah dengan kebun luas itu baru keren.  Maklumlah, saya dan isteri sama-sama suka berkebun. Kami berkebun apa saja: bunga-bungaan, sayur-sayuran, dan juga buah-buahan. Jika anda telusuri blog ini, akan banyak menemukan artikel tentang berbagai macam tanaman. Sebagian besar tumbuh di kebun kami sendiri di Semarang.

Rumah dengan kebun sendiri

Sungguh asyik jika memiliki kebun luas

Para Inspirator
Ada beberapa orang yang menjadi inspirator saya. Diantaranya adalah pak Soeparwan Soeleman dan sang isteri: ibu Donor Rahayu. Mereka adalah pencetus ide tentang Halaman Organik. Sebuah konsep sederhana tentang pemanfaatan halaman rumah menjadi kebun sayur-sayuran organik. Fungsinya selain menjadi tanaman hias, sekaligus sumber nutrisi sehat bagi seluruh keluarga. Beliau berdua juga mengelola sebuah farm yang menghasilkan produk-produk sayuran organik, dan bertindak pula sebagai mentor bagi siapapun yang ingin belajar bertanam secara organik.

Internet juga merupakan gudang untuk menemukan banyak inspirasi. Di New Zealand, ada seorang ibu dan anak laki-lakinya, Moosey dan Nick yang memiliki aktifitas tak kalah menarik. Sehari-hari mereka cuma asyik berkebun di rumah. Blog tentang berkebun: MooseysCountryGarden.com yang mereka kelola menjadi sangat terkenal. Mereka rajin meng-update apa saja yang berhubungan dengan aktifitas di kebun. Dari blog itu, mereka sukses menghasilkan pundi-pundi dolar dari iklan yang terpasang.

Memang asyik dan inspiratif aktifitas mereka. Setiap hari bergumul dengan sesuatu yang paling mereka sukai: berkebun di rumah sendiri. Ada kepuasan batin maksimal yang mereka reguk setiap saat. Hobby yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, tak jarang menghasilkan pundi-pundi finansial yang bisa menjadi gantungan hidup.

Kupu-kupu, juga sering bentandang ke kebun

Kupu-kupu, juga sering bentandang ke kebun

Fokus cerita saya kali ini sebenarnya adalah properti. Tentang rumah. Namun karena judulnya ada embel-embel kata: kebun, jadi tak tahan menyisipkan cerita tentang asyiknya berkebun. Janji deh, selanjutnya akan benar-benar fokus pada properti. Dimulai dari kota kembang Bandung:

Tinggal di Kota Kembang
Dulu saat awal menikah, kami tinggal di rumah kontrakan mungil. Terletak di sebuah gang sempit di wilayah Jl. Pajajaran Bandung. Kami sering berangan-angan: “Seandanya dapat warisan rumah dan kebun luas, alangkah asyiknya”. Bisa leluasa berkebun, menanam sayur-mayur, buah-buahan dan bunga-bungaan.

Sayangnya ide dapat warisan hanyalah sekedar angan-angan kosong. Kami berasal dari keluarga sederhana dengan banyak anak.  Bagi orang tua kami, bisa terus menyekolahkan anak-anaknya, sudah merupakan kemewahan. Namun asa untuk memiliki rumah sendiri dengan kebun luas terus kami pelihara. Kami yakin, asa yang terus dijaga bagaikan doa yang dipanjatkan terus menerus. Suatu saat pasti akan tercapai.

Dari Bandung Menuju Jakarta
Karena tuntutan pekerjaan, saya pindah dari Bandung ke Jakarta. Tetapi isteri tetap tinggal di Bandung. Karena masih aktif sebagai karyawati sebuah perusahaan manufaktur di wilayah Bandung Selatan. Saya kos sendirian di Jakarta. Setiap Jumat sore pulang ke Bandung. Minggu sore balik lagi ke Jakarta. Kereta Api Parahiayangan menjadi sahabat setia saya.

Menjalani kehidupan bolak-balik Bandung – Jakarta setiap minggu ternyata bukan pilihan tepat bagi tubuh saya yang memang agak ringkih. Setelah berlangsung sekitar 3 bulan, isteri memutuskan untuk berhenti bekerja. Dan ikut tinggal di Jakarta. Mungkin dia bosan, setiap jumat malam, harus “ngerokin saya”. Karena nggak tahan perubahan cuaca antara Jakarta yang panas dan lembab, dengan Bandung yang relatif dingin dan kering (rendah kelembaban udaranya).

Ada cara sederhana mengetahui kelembaban udara suatu daerah. Tak perlu menggunakan higrometer. Cukup dengan menggunakan kerupuk.

Jika kerupuk yang diletakkan di luar pembungkusnya cepat melempem artinya: kelembaban udara tinggi. Sebaliknya jika masih tetap renyah dalam jangka waktu relatif lama, maka bisa dipastikan kelembaban udara rendah (kering).

Kami berdua tinggal di kota metropolitan Jakarta. Ngontrak di sebuah rumah petak di bilangan Kuningan. Persis di belakang Mall Ambasador. Waktu kami ngontrak di sana, mall ini sedang dalam proses pembangunan.

Tinggal di rumah petak, kesukaan berkebun kami tentu saja tak dapat tersalurkan. Namun semangat untuk memiliki rumah sendiri dengan kebun luas tetap membara di dada. Harga lahan di Jakarta yang sangat fantastis tak menyurutkan semangat kami. Namun kami tetap harus realistis dengan kemampuan finansial. Yang hanya menjadi seorang buruh.

Kami turunkan target: memiliki rumah sendiri. Kebun luas, itu urusan nanti. Bidikan kami adalah pinggiran kota Jakarta. Dengan pertimbangan harga tanah relatif tak setinggi Jakarta. Ada 2 wilayah yang memenuhi syarat, yakni: Bekasi dan Karawaci – Tangerang. Kedua daerah ini tak terlalu jauh dari Jakarta. Dan juga memiliki akses trasportasi relatif bagus ke pusat kota Jakarta.

Singkat cerita kami memutuskan untuk membeli rumah di daerah Karawaci Tangerang. Ini terjadi di tahun 1997 akhir. Menjelang krisis moneter hebat melanda Indonesia di tahun 1998.

Krisis Moneter
Apakah saat krisis seperti ini saat tepat membeli properti?
Jawabannya adalah ya dan tidak. Ya: jika anda memiliki uang cash. Dan tidak: jika membeli dengan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Jika memiliki uang cash, saat krismon adalah saat tepat membeli properti. Banyak sekali properti di lokasi strategis dijual dengan harga obral. Kemudian tinggal tunggu krisis berakhir. Harga properti akan berangsur-angsur normal kembali. Dengan demikian nilai aset akan melonjak dengan cepat.

Namun jika anda membeli dengan fasilitas kredit dari bank, ini menjadi kabar yang sangat buruk. Bunga kredit akan melonjak sangat tinggi. Cicilan bulanannya akan menjadi sangat memberatkan.

Dalam kasus saya diatas, saya tak punya cukup dana untuk membeli cash. Rencana awal memang akan menggunakan instrumen pembiayaan dengan KPR. Bisa menjadi bencana besar bila rencana awal ngotot diteruskan. Bunga KPR yang sebelumnya sekitar 12% melonjak menjadi 60% pertahun. Sungguh sangat berat!

Apalagi perusahaan tempat saya bekerja juga limbung. Tak kebal dari terjangan badai krismon yang sangat dahsyat. Perusahaan terpaksa mem-PHK karyawan, termasuk saya. Namun management perusahaan rupanya memiliki tanggung jawab sosial yang pantas diapresiasi. Meskipun di PHK, saya juga ditawari pekerjaan baru. Jika mau ada rekomendasi ke sebuah perusahaan lain yang bergerak di bidang manufaktur di Semarang. Perusahaan yang baru berdiri ini sedang membutuhkan karyawan dengan spesifikasi profesi sesuai dengan kemampuan saya. Wow … bukankah ini sebuah kesempatan emas yang tabu untuk disia-siakan?

Dengan pertimbangan bahwa kota sebesar Jakarta kurang cocok dengan passion kehidupan  saya yang tak menyukai keriuhan, maka tawaran ke Semarang saya ambil. Kami pindah ke Semarang.

Proses pembelian rumah di Karawaci, tidak lagi relevan untuk diteruskan. Pembatalan pembelian rumah tentu ada resiko hangusnya uang muka yang telah di bayarkan. Namun untunglah, uang muka tidak hangus 100%. Sebagian dapat ditarik kembali. Ini menjadi tambahan bekal untuk menjalani hidup baru di Semarang.

Bersambung ke: Punya Rumah: Dengan Kebun di Atas Atap.


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.