Punya Rumah: Dengan Kebun di Atas Atap

By mangkoko : last updated 15 Nov 2015

Punya rumah, dengan kebun di atas atap? Wow keren!
Bayangkan, “Sebuah rumah dua lantai. Lantai atasnya sengaja tak beratap, karena difungsikan sebagai kebun. Ada tanaman-tanaman khas daerah kering tumbuh subur di sana. Berbagai macam jenis adenium: lokal, arabicum dan thai soco menhuni pot plastik besar dan pot keramik buatan Bayat Klaten. Ada pula beberapa koleksi pachipodium geayi, pachipodium rosulatum, dan tak ketinggalan nolina si ekor kuda”.

Kebun di atas atap

Kebun di atas atap

Itulah gambaran selintas lantai atas rumah kami di Semarang. Sebenarnya tidak menempati lahan luas, namun memang ada sisa lahan terbuka di depan dan samping rumah. Cukup untuk meletakkan puluhan tabulampot aneka jenis tanaman buah.

Rumah dengan kebun di atas atap ini, kami miliki setelah 9 tahun tinggal di Semarang. Sebelumnya kami tinggal di rumah yang jauh lebih sempit. Dengan banyaknya koleksi tanaman melahirkan ide untuk meletakkannya di atas atap rumah. Maka kami sebut itu dengan: kebun di atas atap.

Tinggal di Semarang
Di tulisan bagian pertama telah saya ceritakan tentang obsesi: Punya Rumah: Dengan Kebun Luas. Cerita telah sampai pada saat krisis moneter, dan kemudian kami pindah ke kota Semarang.

Tahun pertama di Semarang kami ngontrak sebuah rumah tipe 36 di Semarang Timur. Dari sinilah kami mulai menemukan keasyikan berkebun yang sesungguhnya. Di belakang rumah kontrakan terdapat kelebihan tanah yang cukup lega dipakai untuk berkebun. Kami menanam dalam pot berbagai macam tanaman hias daun seperti: aglonema dan keladi hias.

Krisis moneter tahun 1998 memang tragedi dahsyat yang memporak-porandakan perekonomian Indonesia. Siapapun akan terkena dampaknya. Hal yang paling terasa adalah naiknya biaya hidup, termasuk di kota Semarang. Namun perpindahan kami dari Jakarta (level biaya hidup relatif tinggi) ke Semarang (level biaya hidup yang lebih rendah dibanding Jakarta) membawa suasana psikologis berbeda. Artinya meskipun biaya hidup di Semarang naik, namun karena kenaikan tersebut kurang lebih setara dengan biaya hidup kala di Jakarta, maka secara psikologis kami tak begitu merasakan kenaikannya.

Punya Rumah Sendiri
Krismon juga membuat pasar properti terkoreksi turun. Banyak rumah-rumah dijual dengan harga relatif murah. Tabungan kami ditambah uang pesangon PHK kala di bekerja di Jakarta ternyata cukup untuk membeli rumah sederhana tipe 36. Tunai, tanpa harus mengangsur. Jadilah kami memiliki rumah sendiri. Meskipun rumah second, namun kondisinya masih sangat layak. Dan sudah direnovasi, sehingga siap huni.

Rumah yang kami beli, tanahnya seluas 91 m2, 7 x 13 meter. Cukup untuk tempat tinggal kami. Sayangnya tidak menyisakan tempat terbuka sejengkalpun untuk berkebun. Sehingga tanaman-tanaman dari rumah kontrakan berdesak-desakan di teras depan.

Koleksi anthurium di porak-porandakan pencuri.

Saat kejayaan anthurium, koleksi kami tak luput dari tangan pencuri. Dicabut dari pot dan dibawa kabur.

Sayapun mencari ide, bagaimana agar tanaman-tanaman ini tak mati merana ….

Kebun di atas atap
Supaya tanaman tetap mendapat cahaya matahari, maka sebagian atap asbes di teras di sebelah kiri diganti dengan atap transparan dari plastik PVC gelombang. Sedangkan di atas atap teras sisi sebelah kanan yang terbuat dari asbes, diperkuat dengan lembaran papan kayu. Tujuannya agar cukup kuat dan stabil untuk meletakkan pot-pot tanaman. Tanaman yang saya letakkan di atas atap adalah jenis yang membutuhkan banyak sinar matahari.

Inilah cikal bakal kebun di atas atap yang kami miliki. Jangan di tertawakan ya … 🙂

Tujuh tahun lebih kami menempati rumah ini. Koleksi tanaman kami juga semakin bertambah. Di bawah penuh, di ataspun berdesak-desakan. Saya mulai kesulitan merawat dan menyiram tanaman di atas atap. Karena letaknya semakin menjorok ke dalam, leher panjang gembor untuk menyiram sudah tak mampu menjangkaunya.

Saya jadi termotivasi untuk membeli rumah di atas tanah yang lebih luas. Sehingga tanaman-tanaman ini mendapat tempat yang lebih layak.

Saya sering mengajak bicara tanaman, “Doakan dapat rizki lebih ya! Supaya kita bisa pindah ke tempat yang lebih layak!”

Tentu saja saya ngomong ketika suasana sepi, tak ada tetangga yang mendengar. Nanti bisa dikira sudah tidak waras … he he. Jangan bilang-bilang ya!

Pindah ke rumah baru
Pada suatu hari, ketika lagi jalan-jalan saya melihat bekas kebun pisang yang lumayan luas sedang diurug dan diratakan. Iseng-iseng bertanya pada mandor yang bekerja di situ, “Mau dibangun apa pak?”
“Oh, mau dibuat perumahan mas”.
“Kalau berminat, alamat pemasarannya di sini mas”, kata pak mandor sambil menyerahkan alamat kantor developer perumahan baru tersebut.

Saya lihat lokasinya cukup menarik. Tidak berada di jalan utama, namun mudah dijangkau. Akses jalan lumayan lebar dan bagus. Ideal untuk tempat tinggal. Kami datangi kantor pemasaran perumahan itu. Site plan telah tersedia, sehingga kami bisa membayangkan akan seperti apa perumahan itu nanti.

Harga yang di tawarkan juga sangat menarik. Pilihan kavling juga masih sangat leluasa, karena memang baru satu atau dua saja yang telah terjual.

Meskipun tak punya tabungan sama sekali, kami nekat membeli. Uang muka yang besarnya 10% dari harga rumah, kami negosiasikan untuk di cicil selama 6 bulan. Toh lokasi baru di urug dan diratakan, belum siap dibangun. Proses KPR pasti masih lama.

Singkat cerita, negoisasi kami berhasil. Bahkan sebagai pembeli awal, kami juga mendapat discount harga yang lumayan.

Kavling yang kami pilih ada di pojok (hoek). Kavling pojok biasanya ada kelebihan tanah. Kebetulan yang kami pilih adalah kavling paling luas di deretan itu. Ditambah seberang jalan bukan rumah, tetapi berupa taman untuk fasilitas umum (fasum). Inilah kavling ideal untuk kami.

Sesuai rencana, proses KPR baru mulai setelah cicilan uang muka selesai. Sehingga tidak memberatkan.

Setelah rumah jadi dan diserah terimakan, tidak langsung ditempati. Kami bermaksud menambah bangunan di bagian belakang. Sengaja dirancang berlantai dua. Lantai bawah untuk dapur, ruang keluarga dan kamar tidur utama. Sedangkan lantai atas dibuat terbuka, sebagai kebun di atas atap generasi kedua. Menggantikan kebun atap asbes kami. Lebih luas dan kokoh.

Untuk membiayai renovasi, rumah lama dijual. Kami tawarkan dengan harga (menurut para tetangga) terlalu tinggi. Kami memang mencoba menawarkan dengan harga 5x harga beli kami 7 tahun lalu. Banyak yang menyangsikan bisa laku.

Namun aneh bin ajaib. Hanya dalam hitungan 3 hari sejak ditawarkan, rumah kami laku terjual. Tak habis pikir, kenapa bisa lalu secepat dan setinggi itu. Jangan-jangan itu berkat doa para tanaman … he he.

Jadilah kami memiliki rumah baru. Meskipun tidak luas namun memiliki halaman depan dan samping untuk berkebun. Kami juga punya kebun di atas atap yang jauh lebih luas dan lebih kokoh dari kebun di atas atap asbes rumah lama kami.

 

 


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please fill in a CAPTCHA for security: * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.